YDGRK: Merajut Empati, Menebar Bakti

115 views

Di usianya yang ke-33 tahun, dalam terpaan berbagai penilaian sinis dan prasangka, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto tetap kokoh mengabdi untuk negeri.

 

Kesadaran adalah Matahari

Kesabaran adalah Bumi

Keberanian menjadi Cakrawala dan

Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata

(W.S. Rendra – Depok, 22 April 1984)

EMPAT baris puisi karya penyair fenomenal Indonesia yang dijuluki Si Burung Merak itu sangat relevan dengan elan atau spirit perjuangan dan daya cipta luhur yang menjadi motivasi mendiang Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah, akrab disapa Ibu Tien, saat mencetuskan ide bernas pendirian Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, 33 tahun silam.

Sampai saat ini, sejak didirikan pada 30 Maret 1986, yayasan yang kini bernama Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto telah aktif menebarkan baktinya pada bangsa dan negara, turut meringankan beban pemerintah dalam menangani masalah kemanusiaan.

Perhelatan peringatan HUT ke-40 Organisasi Pangan Dunia (FAO/Food and Agriculture Organization) yang berlangsung di kota Roma, Italia, pada 14 November 1985, menjadi pemantik awal berdirinya YDGRK Siti Hartinah Soeharto.

Betapa tidak. Di forum internasional salah satu organisasi di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa/PBB (United Nations), yang berwenang mengurusi pangan dan hasil-hasil pertanian di dunia, sebagai anggota FAO, Indonesia menyedot perhatian para tokoh dunia yang hadir.

Presiden RI, HM Soeharto (Pak Harto), berkesempatan menyampaikan pidato di depan sidang FAO serta berbagi pengalaman bagaimana Indonesia, sebuah Negara Dunia Ketiga, berhasil mencapai swasembada beras.

Tak berhenti di situ saja. Pak Harto juga menyampaikan pesan dan amanah dari para petani Indonesia untuk menyerahkan bantuan gabah sebanyak 100.000 ton, yang dikumpulkan secara gotong-royong dan sukarela oleh para petani Indonesia, sebagai ungkapan empati kepada saudara-saudara sesama petani dan keluarganya yang menderita kelaparan akibat kemarau panjang di berbagai kawasan belahan dunia, terutama di benua Afrika.

Ibu Tien turut hadir mendampingi Pak Harto, dan menyaksikan langsung pidato sang suami tercinta yang menggetarkan dunia. Peristiwa yang sangat membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia itu rupanya menorehkan catatan tersendiri di benak ibunda dari 3 putra dan 3 putri ini.

Naluri kemanusiaan terbit seketika di relung hati Ibu Tien. Pun, kesadaran spiritual membuncah di batin perempuan trah Keraton Mangkunegaran Surakarta, Jawa Tengah, kelahiran 23 Agustus 1923 ini.

Tragedi kemanusiaan yang ditandai oleh fenomena kelaparan di Afrika saat itu serta berbagai musibah bencana alam dahsyat di berbagai negara di penjuru dunia, menurut Ibu Tien, bisa juga terjadi di Indonesia. Entah itu bencana kekeringan panjang, banjir bandang, gempa bumi, ataukah gunung meletus dapat melanda Ibu Pertiwi. Kapan saja.

Yang pasti, bencana-bencana alam itu bakal menimbulkan berbagai kerugian, kerusakan, dan penderitaan bagi para korban terdampak bencana. Karenanya, potensi dampak bencana alam apa pun bentuk dan namanya mesti diantisipasi sejak dini.

Sekelumit kesedihan hati Ibu Tien menyaksikan penderitaan korban-korban terdampak tragedi kemanusiaan dituangkannya dalam sebuah puisi kemanusiaan.

Puisi Kemanusia karya Ibu Tien Soeharto (Foto: soeharto.co)

Begini bunyi puisi karya Ibu Tien tersebut.

Di luar tak kentara

Di dalam hati terasa

Di lubuk hati turut berduka

Tekadku satu untuk bersama

Ceria-mu, ceria-ku

Bahagia-mu, bahagia-ku

Penderitaan-mu, penderitaan-ku

Maka tekadku satu

Hartaku sebagian untukmu

Tuhan Maha Besar dan Maha Sempurna

Apa yang kita bagi dengan sesama

Kelak pasti mendapat pahala

Yang suci dan berlipat ganda

Amien !

Puisi yang ditulis Ibu Tien itu menyiratkan pesan teramat penting: rasa duka mendalam, semangat berempati, keinginan untuk menemani dan menyantuni, dan spirit berbagi yang bersandarkan pada spiritualitas altruisme (kepedulian pada orang lain).

Sebagai seorang ‘First Lady’, Ibu Tien menyadari bahwa negara belum memiliki alokasi anggaran khusus yang memadai untuk mengantisipasi dampak berbagai bencana alam yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba di Indonesia.

Bertolak dari kesadaran itu lah, Ibu Tien lantas mencetuskan ide sangat dahsyat, yakni memobilisasi solidaritas sosial berupa pengumpulan dana dari seluruh lapisan masyarakat terkategori mampu (The Haves), yang hasilnya digunakan sebagai dana “siaga bencana”, diperuntukkan meringankan penderitaan para korban terdampak bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Dalam pertemuan di Istana Bogor, 30 Maret 1986, Ibu Tien mengutarakan konsep gagasannya itu di hadapan Pak Harto dan para konglomerat tanah air yang sengaja diundang ke Istana.

Ternyata, ‘gayung bersambut’. Gagasan Ibu Tien menuai simpati dan dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat serta para pengusaha kelas kakap nasional yang hadir di acara itu.

Pembentukan Panitia Dana Gotong Royong Kemanusiaan (Foto: soeharto.co)

Tindak lanjut dari komitmen tersebut dibentuklah Panitia Dana Gotong Royong Kemanusiaan yang diketuai oleh Ibu Tien. Panitia ini dibentuk guna menghimpun dana kemanusiaan dari masyarakat umum untuk membantu meringankan penderitaan korban bencana alam.

Dalam acara penghimpunan dana yang berlangsung kurang dari 4 jam itu, tercatat 246 pribadi memberikan sumbangan. Selaku pribadi, Presiden Soeharto juga menyumbang Rp 100.000, dan selaku ketua Yayasan Dharmais, Yayasan Supersemar, dan Yayasan Dakab menyumbang pula masing-masing sebesar Rp 200 juta. Hari itu, panitia berhasil menggalang dana kemanusiaan senilai total Rp 9.731.422.000.

Ibu Tien (kiri) sedang menghitung uang sumbangan pribadi Pak Harto pada acara pengumpulan dana Gotong Royong untuk bantuan kemanusiaan disaksikan oleh Mbak Tutut (tengah) dan Pak Harto (kanan) (1986) (Foto: Wikipedia)

Status kepanitiaan itu belakangan ditingkatkan menjadi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDRK). Sepeninggal Ibu Tien, cita dan bakti luhur YDRK Siti Hartinah Soeharto pada bangsa dan negara bukannya surut, malah terus berlanjut di bawah kepemimpinan putri sulung Pak Harto-Ibu Tien, Siti Hardijanti Hastuti yang sangat populer dipanggil Mbak Tutut.

Di mata Mbak Tutut, mendiang ibunda tercinta adalah sosok yang punya tekad tegas. Pantang menyerah sebelum berupaya. Ibu Tien selalu mengedepankan prinsip hidup “jangan pernah dikalahkan oleh penderitaan tanpa berupaya melawannya semampunya”.

Mbak Tutut sampaikan kata sambutan di acara “Tasyakuran Milad Yayasan Harapan Kita ke-51 dan Milad Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan ke- 31”, di Jakarta, Jumat (23 Agustus 2019)

“Di hari ini, 33 tahun lalu, beliau mendirikan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan. Tekad beliau tegas, jangan pernah kita dikalahkan oleh penderitaan tanpa berupaya melawannya sekuat kita bisa,” tutur Mbak Tutut, dalam sambutan di acara “Tasyakuran Milad Yayasan Harapan Kita ke-51 dan Milad Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan ke- 31”, yang berlangsung di Graha Paramita, Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (23 Agustus 2019) lalu.

Video acara tasyakuran (Cendana TV):

Tetap Berbakti dalam Sunyi

YDGRK Siti Hartinah Soeharto memang sejak awal berdiri didedikasikan khusus untuk membantu korban bencana alam yang ada di tanah air, dan juga di luar negeri.

Hingga saat ini, bantuan yang disalurkan YDGRK Siti Hartinah Soeharto untuk para korban musibah bencana alam (banjir, banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, gunung meletus) di 1.099 titik lokasi bencana dan 899 kejadian di 34 provinsi di Indonesia mencapai Rp 63 milyar.

“Sampai dengan saat ini, Yayasan Dana Gotong-Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto telah menyalurkan bantuan untuk korban musibah bencana alam seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan bencana sejenisnya yang terjadi di tanah air sebesar Rp 63 Milyar. Kami salurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana dan ada 899 kejadian di 34 Provinsi di Indonesia,” ungkap Mbak Tutut.

Ditegaskan Mbak Tutut, kehadiran YDGRK Siti Hartinah Soeharto bukan sekadar untuk memberikan apa yang sebatas kemampuan bisa diberikan kepada para korban terdampak bencana.

Lebih penting daripada itu, kata Mbak Tutut, YDGRK Siti Hartinah Soeharto datang untuk memberikan harapan. Menegaskan masih kuatnya tali persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, sebagai sesama manusia, dan sebagai makhluk Allah SWT yang diikat dengan rahman dan rahim-Nya.

Apa yang disampaikan Mbak Tutut bukan sekadar omong kosong. Sebab ia sendiri melakoninya. Buktinya, saat wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan dihantam gelombang tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu, Mbak Tutut sampai dua kali berkunjung ke lokasi bencana tersebut. Sembari menyerahkan  bantuan dari YDGRK Siti Hartinah Soeharto, Mbak Tutut hadir dengan kasih sayangnya untuk paling tidak sedikit menenteramkan psikologi para korban bencana.

Seminggu pascatsunami, Mbak Tutut atas nama YDGRK Siti Hartinah Soeharto langsung mengunjungi para korban yang ditampung di posko pengungsian Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Provinsi Lampung.

Mantan anggota MPR RI (1992-1998) dan Menteri Sosial RI pada Kabinet Pembangunan VII (14 Maret 1998-21 Mei 1998) ini menyerahkan secara simbolis bantuan sembako senilai Rp 200 Juta kepada Plt Bupati Lamsel Nanang Ermanto di posko utama yang berada di Rumah Dinas Bupati Lamsel.

Mbak Tutut disaksikan Plt. Bupati Lamsel Nanang Ermanto menghibur anak anak pengungsi Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku Lampung, koban terdampak tsunami banten-Lampung (Foto: cendananews.com)

“Kami berharap sumbangan YDGRK Siti Hartinah Soeharto yang tidak dinilai dari besarnya. Tapi, dari makna yang tergantung di dalamnya sebagai wujud kepedulian yayasan kepada korban tsunami. Dengan dukungan kita secara gotong royong dan doa kita tentu mempercepat Saudara-saudara untuk segera menata masa depan kembali,” ujar Mbak Tutut, di hadapan pengungsi.

Mbak Tutut serahkan bantuan dari YDGRK Siti Hartinah Soeharto secara simbolis kepada Plt Bupati Lamsel Nanang Ermanto (Foto: cendananews.com)

Belum puas dengan kunjungan pertama, Mbak Tutut kembali ke Lampung, pada 20 Januari 2019, menyerahkan bantuan perahu bagi para nelayan Desa Way Muli Timur yang perahunya hancur diterjang tsunami.

Kini, setelah 33 tahun pengabdian dalam kesunyian dan keterasingan, di tengah cibiran dan bahkan hujatan, YDGRK Siti Hartinah Soeharto tak pernah goyah dalam melangkah.

Laksana lentera yang apinya nyaris padam terombang-ambing oleh embusan angin, YDGRK Siti Hartinah Soeharto tak ingin meredup apalagi sirna.

Dibekali segenap kesadaran, kesabaran, dan keberanian, serta dilandasi spirit Ibu Tien, YDGRK Siti Hartinah Soeharto selalu hadir untuk menerangi batin dan psikologi mereka, orang-orang yang terdampak bencana.

Pada titik ini, pesan syiar dalam syair seorang WS Rendra: “Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata” menemukan relevansinya pada dinamika kiprah YDGRK Siti Hartinah Soeharto menebarkan bakti pada negeri ini. (Anis Fuadi)

 

 

 

 

 

anis fuadi ibu tien mbak tutut pak harto reaktor siti hardiyanti hastuti Siti hartinah soeharto yayasan dana gotong royong kemanusiaan YDGRK Siti Hartinah Soeharto

Related Post

Leave a reply