Wisata Halal di Indonesia Akan Dikembangkan di 10 Wilayah

77 views

Wisata Halal

Reaktor.co.id, Jakarta — Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) tengah mengembangkan wisata halal (halal tourism) pada 10 wilayah di Indonesia.

Namun. ada lima daerah yang benar-benar menjadi prioritas, yakni Lombok (Nusa Tenggara Barat), Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

“Supaya fokus, agar cepat berkembang. Top three-nya adalah Lombok, Aceh, Sumatera Barat, dan top five-nya Jakarta dan Jabar,” kata Ketua PPHI Riyanto di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Menrut Riyanto, Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim mempunyai potensi yang sangat besar dalam wisata halal. Situasi ini harus dimanfaatkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata halal.

“Satu-satunya industri yang paling cepat dan efektif untuk bisa meningkatkan ekonomi dan merata, karna sifatnya juga ekspor,” ucap dia.

Riyanto menjelaskan, sektor pariwisata halal Indonesia pangsa pasarnya masih sekitar 20 persen. Karena itu, potensinya masih bisa ditingkatkan lebih besar lagi dengan fasilitas-fasilitas yang ramah muslim,seperti lebih banyak menyediakan hotel dan restoran bersertifikat halal.

“Hal itulah yang harus ditingkatkan terus , supaya kita bisa meng-grab pasar ini,” tegasnya.

Wisata halal menjadi perbincangan warganet setelah kawasan Bali dan Danau Toba akan dijadikan destinasi wisata halal. Namun, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama, segera membantahnya.

Wishnutama menegaskan, pemerintah tak akan mengubah kedua tempat tersebut sebagai lokasi wisata halal.

“Pariwisata dibangun atas kearifan masyarakat dan budaya lokal pada tiap destinasinya sehingga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan,” ujar Wishnutama.

Pengertian Wisata Halal

Pengamat dari Sekolah Vokasi UGM, Ghifari Yuristiadi, menilai Indonesia belum memiliki kesepahaman mengenai apa dan bagaimana pariwisata halal.

“Kembali pada konsep yang mendasar, kita sendiri belum sepakat pariwisata halal itu seperti apa. Terminologi wisata halal ini awal mulanya muncul dari wisata syariah, menjadi wisata Islami dan kemudian wisata halal yang dianggap sebagai istilah yang paling moderat. Kita belum menemukan deskripsi yang betul-betul bisa disepakati bersama,” ujar Ghifari.

Wisata Halal adalah pariwisata yang ramah kepada wisatawan muslim (muslim friendly). Dalam praktiknya, sebenarnya pariwisata halal cenderung memberi kemudahan khusus bagi wisatawan muslim. Misalnya, ketika mereka harus menjalankan ibadah, maka harus ada tempat yang representatif. Begitu pula dengan menu makanan yang harus dipastikan halal.

Pengamat pariwisata Sapta Nirwandar mengatakan, sebetulnya wisata halal sudah menjadi tren global. Tren ini terjadi karena peningkatan jumlah wisatawan muslim yang melakukan perjalanan wisata di dunia. Setidaknya 170 juta wisawatan muslim berkelana di berbagai destinasi wisata di dunia.

“Indonesia sebenarnya masih menggaet sedikit wisatawan mancanegara muslim yakni 3,6 juta orang, dibandingkan dengan Thailand yang berhasil menggaet 6 juta orang, Malaysia 5 juta, dan Singapura 4 juta orang,” ujarnya.

Kekalahan pariwisata Indonesia untuk menarik para wisman muslim terjadi karena kurangnya fasilitas yang ramah bagi wisatawan muslim.

“Masak kita sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar tidak menangkap peluang itu? Sementara negara-negara lain berhasil melakukannya?” katanya lagi.

Dia menegaskan, wisata halal bukan berarti mengubah suatu kawasan sesuai syariat Islam, melainkan destinasi tersebut memiliki fasilitas atau pelayanan yang ramah bagi wisatawan muslim.

Halal tourism itu adalah extended services buat pelancong yang memerlukannya, jadi tendensinya bukan merujuk pada wisata yang eksklusif,” ujarnya.

Pelayanan dan fasilitas yang dimaksud misalnya kemudahan untuk menemukan makanan halal, tempat salat yang memadai, hotel yang ramah, dan juga tempat rekreasi yang sesuai dengan kebutuhan pelancong.

“Itu semua pilihan tentang pelayanan wisata dan terjadi secara inklusif,” jelasnya.

Indikator Wisata Halal

Sebuah tujuan wisata dapat dikatakan sebagai wisata halal adalah harus memenuhi kebutuhan utama wisatawan muslim.

Dikutip dari laman Crescent Rating, perusahaan yang berfokus pada pengembangan wisata halal yang pernah melakukan studi di 130 negara, ada 6 kebutuhan pokok wisatawan muslim, yaitu:

  1. Makanan halal. Bebas alkohol, daging babi, dan sejenisnya.
  2. Tersedianya fasilitas ibadah
  3. Kamar mandi dengan air untuk wudhu.
  4. Pelayanan saat bulan Ramadhan, misalnya santapan berbuka dan sahur.
  5. Pencantuman label non-halal apabila ada makanan yang tidak halal.
  6. Fasilitas rekreasi yang menjaga privasi, tidak bercampur-baur secara bebas.

Global Muslim Travel Index (GMTI), sebuah standar yang disusun oleh Crescent Rating, mengidentifikasi standar wisata halal di dunia sebagai berikut:

  1. Destinasi Ramah Keluarga:
  2. Tujuan wisata harus ramah keluarga dan anak-anak.
  3. Keamanan umum bagi wisatawan muslim.
  4. Jumlah kedatangan wisatawan muslim yang cukup ramai.
  5. Layanan dan Fasilitas di Destinasi yang Ramah Muslim (Muslim-Friendly):
  6. Pilihan makanan yang terjamin kehalalannya.
  7. Akses ibadah yang mudah dan baik kondisinya.
  8. Fasilitas di bandara yang ramah muslim.
  9. Opsi akomodasi yang memadai.
  10. Kesadaran Halal dan Pemasaran Destinasi:
  11. Kemudahan komunikasi.
  12. Jangkauan dan kesadaran kebutuhan wisatawan muslim.
  13. Konektivitas transportasi udara.
  14. Persyaratan visa.

Wisata Halal

Tantangan

Ketua PPHI Riyanto Sofyan menyebut sejumlah faktor yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) dalam pengembangan wisata halal di Indonesia.

Faktor pertama ialah meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat hingga pelaku usaha wisata mengenai segmentasi wisata halal.

Riyanto menilai, masih banyak kesalahpahaman tentang konsep wisata halal yang hanya sebatas pada aspek keagamaan. Padahal, segmentasi wisata halal memiliki potensi besar dalam mendorong peningkatan ekonomi.

Nyatanya, sejumlah negara dengan penduduk mayoritas nonmuslim pun tak melewatkan kesempatan dengan memanjakan wisatawan mancanegara (wisman) muslim lewat fasilitas layanan pariwisata yang menunjang kebutuhan mereka.

“Pemahaman ini harus digencarkan bahwa ada potensi ekonomi yang terus tumbuh. Kita harus kejar agar tak ketinggalan,” ujar Riyanto dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Faktor kedua ialah strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Riyanto memandang selama ini upaya promosi mengenai destinasi wisata halal Indonesia belum maksimal.

Riyanto menilai potensi wisata halal Indonesia yang begitu indah akan sia-sia jika tidak dibarengi strategi pemasaran yang tepat.

Riyanto mengambil contoh Malaysia yang tidak memiliki banyak destinasi semenarik dan sebanyak Indonesia. Namun kenyataannya, banyak wisman muslim tertarik berkunjung ke Negeri Jiran tersebut.

“Pengembangan pemasaran harus kita lakukan. Malaysia hanya ada Kuala Lumpur dan Bukit Bintang tapi efektif karena jualannya keluar (negeri), sedangkan kita jualan ya ke kita-kita saja (dalam negeri),” ucap Riyanto.

Faktor ketiga terkait aksesibilitas yang dinilai krusial. Bicara aksesibilitas erat kaitannya dengan seberapa mudah wisatawan datang ke sebuah destinasi dari negaranya. Dalam titik ini, peran penerbangan langsung menjadi sangat menentukan.

“Sekarang penerbangan antarkota di Indonesia jauh lebih mahal dibanding penerbangan keluar negeri, tidak tahu masalah di mana tapi itu jadi suatu tantangan,” ucap Riyanto.

Riyanto menyampaikan keberhasilan Thailand yang mampu mendatangkan lima juta wisman muslim pada 2019 atau dua juta wisman muslim lebih banyak dari Indonesia tak lepas dari padatnya lalu lintas penerbangan langsung dari berbagai negara di timur tengah ke Thailand. (Antara/Republika/VOA Indonesia).

 

Objek Wisata Pariwisata Wisata Halal

Related Post

Leave a reply