Warganet Serukan Pembebasan Ananda Badudu dan Dandhy Laksono

63 views

Musisi Ananda Badudu dan aktivis Dandhy Laksono ditangkap polisi terkait dugaan tindak pidana UU ITE. Ananda sebagai saksi. Dandhy tersangka.

Ananda Badudu

Reaktor.co.id, Jakarta — Musisi Ananda Badudu dan aktivis Dandhy Laksono ditangkap polisi terkait dugaan tindak pidana Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Ananda Badudu ditangkap Jumat (27/9/2019) dini hari WIB karena menggalang dan mentransfer dana kepada mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi menentang UU KPK dan RKUHP di depan Gedung DPR.

Dandhy Laksono ditangkap Kamis (26/9/2019) malam WIB karena postingannya di media sosial yang dinilai bernuansa provokasi.

Warganet meramaikan tagar #BebaskanAnandaBadudu dan #BebaskanDandhy.

Sebelum ditangkap, Ananda sempat menyampaikan pesan mengenai alasan dirinya ditangkap melalui akun Twitter-nya @anandabadudu pada pukul 04.34 WIB, Jumat (27/9/2019).

“Saya dijemput polda karena mentransfer sejumlah dana pada mahasiswa,” kata Ananda.

Pada menit yang sama, Ananda juga memposting pesan senada. Kali ini lebih singkat. “Saya dijemput Polda,” tutur Ananda.

Ananda secara terbuka melakukan penggalangan dana untuk aksi mahasiswa di depan DPR pada Senin dan Selasa lalu. Penggalangan dana mendukung aksi mahasiswa muncul di situs kitabisa.

“Kamu bisa berkontribusi lewat donasi dana yang akan digunakan untuk makanan, minuman, dan sound system mobile (mobil/gerobak komando),” tulis keterangan dalam galang dana itu.

Ananda Badudu menuliskan bahwa KPK dilemahkan oleh DPR dan Presiden. Dia juga menyoroti masalah di Papua hingga kebakaran hutan di sekujur Sumatera dan Kalimantan.

Petani, kata dia, terancam oleh rancangan UU yang berpihak pada pemodal. Sistem kerja baru yang tercantum dalam RUU Ketenagakerjaan disebut membuat buruh dan pekerja semakin rentan dieksploitasi.

“Kabar tak baik yang disiarkan lewat berbagai media ini bikin hati makin tak karuan, dan di pengujung hari, kita semakin bersedih lagi karena merasa tak bisa ikut berkontribusi membuat situasi menjadi lebih baik,” tulis Ananda.

“Mahasiswa meyakinkan bahwa aksi ini bukan untuk menggulingkan Jokowi dari kursi kepresidenan, melainkan menuntut agar kebijakan-kebijakan Jokowi sejalan dengan janji-janjinya sendiri,” imbuhnya.

Anda mendapat pembelaan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) yang bersedia memberikan bantuan hukum.

Deputi Koordinator Kontras, Feri Kusuma, menyebutkan Ananda Badudu masih diamankan di Resmob Polda Metro Jaya. Tim kuasa hukum masih terus bekoordinasi dengan pihak Resmob.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, mengatakan, penangkapan Ananda Badudu adalah pemeriksaan sebagai saksi. Pemeriksaan itu dilakukan untuk mengklarifikasi dugaan Ananda mentransfer uang senilai Rp 10 juta kepada mahasiswa.

“Yang bersangkutan (Ananda Badudu) dimintai keterangan sebagai saksi akan adanya (dugaan) transfer Rp 10 juta, untuk klarifikasi saja,” kata Argo dikutip Republika.

Argo menjelaskan, setelah dimintai keterangan, Ananda akan langsung dipulangkan. Ia pun menyebut, Ananda bersedia saat polisi menjemputnya untuk meminta keterangannya.

“Didatangi petugas tadi pagi ke rumahnya, diajak komunikasi untuk dimintai keterangan, yang bersangkutan mau. Selesai dimintai keterangan, nanti dipulangkan,” ungkap Argo.

Dandhy Tidak Ditahan

Dandhy Laksono

Berbeda dengan Ananda, Dandhy Laksono tidak ditahan dan sudah dipulangkan Jumat (27/9/2019) dini hari, namun dengan status tersangka.

“Nggak, nggak ditahan. Sudah dipulangkan dini hari tadi,” kata Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto saat dihubungi detikcom, Jumat (27/9/2019).

Suyudi mengatakan, sutradara film dokumenter ‘Sexy Killers’ itu dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan di Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Kamis (26/9) malam. Dandhy diperiksa beberapa jam oleh polisi.

“Diperiksa malam sampai dini hari tadi, sudah dipulangkan,” imbuhnya.

Iwan menjelaskan, Dandhy ditetapkan sebagai tersangka karena postingannya di media sosial. Postingan tersebut disebutnya bernuansa provokasi.

“Ada salah satu postingannya di media sosial yang setelah kita analisis itu mengandung provokasi,” kata Iwan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. Argo mengatakan, penyidik tidak menutup kemungkinan akan memintai keterangan kembali.

“Sudah dipulangkan tadi subuh. Ya kalau diperlukan nanti dipanggil lagi,” kata Argo.

Kontras mempertanyakan penangkapan Dandhy Laksono dan Ananda Badudu. Kontras menilai ada kejanggalan pada penangkapan tersebut.

“Kalau dari sisi jam ya janggal. Nggak baiklah. Tengah malam gitu kan kita kayak… kita kan berfikir buruk, okelah kalau kita tahu itu polisi yang ngambil kalau sekiranya bukan kan bisa berindikasi jadi korban orang hilang nanti,” ujar Feri Kusuma.

Feri juga mempertanyakan kenapa proses penangkapan dilakukan di malam hari. Selain itu, Feri menilai harusnya Dandhy dipanggil sebagai saksi terlebih dahulu.

“Ya ini semestinya jangan sampai begini kali lah ya. kan maaih ada jam lain yang bisa ditangkap atau diproses, atau dipanggil dulu sebagai saksi bukan langsung penangkapan begitu. Apalagi penangkapan Dandhy tengah malam. Pemeriksaan tengah malam. Secara kesehatan nggak baik itu. Kosentrasi juga nggak maksimal,” kata dia.

Dandhy Dwi Laksono menjadi tersangka karena cuitannya soal kerusuhan di Jayapura dan Wamena, Papua. Kuasa hukum Dandhy memperlihatkan cuitan yang membuat Dandhy ditetapkan menjadi tersangka oleh polisi.

Kuasa hukum Dandhy, Alghiffary Aqsa, menyebutkan, cuitan Dandhy yang dipersoalkan dipublikasikan Dandhy lewat akun @Dandhy_Laksono pada 22 September. Berikut isinya:

JAYAPURA (foto 1): Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas.

WAMENA (foto 2): Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak.

Atas cuitan itu, Dandhy ditangkap pada hari Kamis (26/9/2019) pukul 23.00 WIB di kediamannya. Dandhy diperbolehkan pulang meski masih berstatus tersangka.

Dandhy ditangkap karena diduga melanggar Pasal 28 ayat (2), jo Pasal 45 A ayat (2) UU No.8 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 No.1 tahun 1946 tentang hukum pidana.

“Sudah diperbolehkan pulang tapi masih tersangka,” ujar Alghif. (rl/detikcom/cnnindonesia).*

 

Aksi Demonstrasi Aktivis Ditangkap Demo Mahasiswa

Related Post

  1. author

    […] Jakarta — Aktivis hak asasi manusia (HAM) dan musisi Ananda Badudu akhirnya dibebaskan polisi Jumat (29/9/2019) siang. Ananda keluar dari Polda Metro Jaya sekitar […]

  2. author

    […] –  Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua aktivis demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) Dandhy Dwi Laksono dan Ananda Badudu ditangkap aparat kepolisian dengan sangkaan […]

Leave a reply