Waktu Istirahat Kerja di Indonesia Tak Cukup untuk Tidur Siang

96 views

pekerja tidur

Reaktor.co.id — Setiap pekerja berhak atas istirahat antara jam kerja dalam sehari, sekurang kurangnya 30 menit setelah bekerja selama empat jam terus-menerus. Waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja (Pasal 79 UU 13/2003).

Selain itu, pengusaha wajib memberikan waktu secukupnya bagi pekerja untuk melaksanakan ibadah (Pasal 80 UU 13/2003).

Umumnya, waktu istirahat kerja diisi dengan “ishoma” –istirahat, sholat, dan makan (siang). Namun, istirahat selama 30 menit tentu tidak akan cukup untuk “ishoma”. Karenanya, umumnya waktu istirahat selama satu jam.

Namun, satu jam istirahat kerja tak akan cukup untuk tidur siang.

Banyak penelitian mengungkap, tidur sejenak di tengah pekerjaan sangat bermanfaat untuk menyegarkan otak, mengurangi stres, mengembalikan fokus, dan meningkatkan kreativitas.

Itu sebabnya, saat ini mulai banyak kantor yang menyediakan tempat khusus bagi karyawannya untuk tidur siang.

Istirahat di sela waktu kerja merupakan hal penting yang wajib diberikan perusahaan kepada karyawannya. Bukan cuma untuk memenuhi hak dasar karyawan untuk makan dan beribadah bagi yang beragama Islam, tapi jeda istirahat juga akan meningkatkan produktivitas karyawan.

Waktu istirahat 30 menit dari pekerjaan dapat diisi dengan meregangkan otot-otot tubuh, menambah asupan kalori lewat makan siang, atau tidur siang sejenak. Semua itu berguna untuk mengembalikan energi dan mempertahankan kualitas kerja karyawan hingga sore hari.

Sebaliknya, kerja maraton tanpa jeda justru berdampak buruk bagi kondisi fisik dan psikologis karyawan, sekaligus menurunkan kualitas pekerjaan.

Rata-rata perusahaan di Indonesia menetapkan waktu istirahat kerja adalah selama satu jam, lazimnya pukul 12.00-13.00. Khusus hari Jumat, berlaku jam istirahat lebih panjang agar karyawan laki-laki yang beragama Islam dapat melaksanakan ibadah salat Jumat.

Namun, ada juga yang memberi waktu istirahat hingga 2 jam dengan menggeser mundur jam pulang kantor. Alasannya, agar karyawan punya waktu lebih untuk urusan di luar pekerjaannya. Misalnya, mengurus administrasi ke kantor pemerintah, bank, menjemput anak, dan sebagainya. Dengan begitu, mereka tak perlu izin dengan mengambil jam kerja yang dapat merugikan kantor.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003, Pasal 79, disebutkan, pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh.

Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dalam ayat (1) meliputi: – Istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus dan wakttu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja.
Dengan demikian, pemerintah hanya memberikan batas minimal istirahat kerja, yakni 30 menit, dan waktu kerja terus-menerus paling lama 4 jam.

Pasal 80 menegaskan bahwa pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya. Ini berarti waktu untuk beribadah termasuk jeda istirahat, atau di luar jam kerja.

pekerja tidur

Di Indonesia, jam istirahat memang dibuat tidak terlalu panjang. Durasinya diatur oleh kebijakan perusahaan, biasanya berkisar antara 30 menit sampai satu jam.

Meskipun diatur perusahaan, sebenarnya beda negara beda pula perlakuan dan aturan soal istirahat karyawan.

Disadur dari Reader Digest, beberapa negara memberlakukan jam istirahat lebih panjang. Sebagian besar perusahaan di Spanyol menyediakan waktu istirahat selama tiga jam yang dimulai dari pukul dua siang.

Bahkan, ketika musim panas, perusahaan di Negeri Matador tersebut memberi kesempatan karyawannya untuk menjalani tradisi siesta alias tidur siang. Akan tetapi, sebagai gantinya para karyawan yang mengambil kesempatan siesta harus pulang lebih telat, yakni pukul delapan malam.

Perusahaan di Yunani juga menerapkan hal serupa, yakni waktu istirahat tiga jam dan tradisi tidur siang. Bahkan, saking lamanya waktu tersebut, tak sedikit pekerja menyempatkan diri pulang ke rumah untuk makan siang dan kembali ke kantor pada pukul lima sore.

Prancis menetapkan waktu istirahat selama dua jam, yakni dari jam dua siang hingga empat sore. Peraturan ini tak hanya berlaku bagi pekerja kantoran, tapi juga para murid sekolah.

Para pekerja di China menerima jatah istirahat selama dua jam yang dimulai pada pukul 12.00. Umumnya, para karyawan akan menghabiskan satu jam pertama untuk makan siang. Sisanya, digunakan untuk tidur siang, sebagaimana yang dianjurkan oleh perusahaan.

Serupa dengan di Cina, para pekerja di Brazil pun mendapat jatah istirahat siang selama dua jam. Mereka juga tahu benar cara memanfaatkan waktu tersebut dengan baik, terutama ketika mereka memiliki agenda rapat di luar kantor.

Seolah tak ingin melewatkan waktu makan siang, para pekerja tersebut biasanya akan menjadwalkan rapat pada pukul 10.30 hingga 11.00 siang.

Italia merupakan salah satu negara paling sehat di dunia. Ini terjadi tak hanya dari pola konsumsi makanan sehat, masyarakat di sana pun cenderung santai dalam menjalani hidup.

Bagi orang Italia, makan siang merupakan hal yang penting. Itulah mengapa rata-rata pekerja di sana menghabiskan waktu satu setengah jam untuk melakukan aktivitas tersebut.

Indonesia termasuk yang punya jam istirahat pendek. Bila dihitung-hitung, durasi makan siang sendiri mungkin hanya 20-30 menit. Sebab, waktu satu jam belum dipotong dengan lama waktu jalan ke tempat makan dan ibadah sholat bagi yang beragama Islam. (Kompas/Antara).

 

Istirahat Kerja Pekerja Tidur

Related Post

Leave a reply