Urgensi KTA dan COS untuk Inklusivitas FSP LEM SPSI

379 views
Massa FSP LEM SPSI dalam Aksi Demonstasi

Massa FSP LEM SPSI dalam Aksi Demonstasi (Istimewa)

Oleh Ridwan Sulaiman

Era Indutrial Revolution 4.0 menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi semua warga milenial untuk survive baik sebagai individu maupun sebagai kelompok yang berbadan hukum.

Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI) adalah salah satu badan hukum  yang harus tetap hidup (survive) di tengah ketatnya persaingan global yang didukung oleh terbukanya akses segala informasi.

Kemudahan mengakses informasi akan meningkatakan partisipasi aktif setiap anggota LEM SPSI dan juga menjadi daya tarik setiap buruh untuk bergabung berjuang bersama LEM SPSI.

Kartu Tanda Anggota (KTA) dan Cash of System (COS) adalah dua informasi yang tingkat urgensinya perlu mendapat perhatian lebih dari struktural LEM SPSI dari tingkat perusahaan PUK hingga tingkat pusat federasi dan konfederasi.

Ada bebera alasan atau argumentasi yang dapat menjadi narasi bersama untuk inklusifitas KTA dan COS.

KTA adalah Identitas setiap anggota yang harus dikeluarkan oleh organisasi sehingga organisasi mengetahui dengan jelas dan benar tentang jumlah anggotanya. Di sisi lain anggota merasa memiliki sekaligus bangga menjadi bagian dari organisasi dengan hanya menunjukan KTA kepada siapa saja yang memerlukannya.

Jumlah KTA yang dikeluarkan menjadi dasar untuk menakar kepatuhan dasar setiap anggota terhadap organisasi yaitu kepatuhan membayar iuran keanggotaan baik yang sudah menggunakan COS maupun yang masih COM (cash of manual).

Kejelasan keanggotaan berikut kewajibannya melalui KTA dan COS dapat menjadi pintu masuk untuk merealisasikan kebijaksanaan (policy) DPP FSP LEM SPSI yang menginisiasikan pembayaran COS langsung ke DPP untuk kemudian didistribusikan ke bawah secara berjenjang atau Top Down Cash of System.

Argumentasi di atas menjadi tesis dari kondisi kekinian organisasi FSP LEM SPSI yang mengandalkan penerimaan iuran keanggotaan dengan modal kelegowoan setiap PUK.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan struktural DPC, DPD, dan DPP hanya menerima iuran keanggotaan seperti menengadahkan kotak amal yang diisi seadanya oleh PUK tanpa validatas kepatuhan sesuai jumlah anggota yang terdaftar.

Dengan digitalisasi teknologi sekarang bukanlah hal yang sulit untuk kita memulai menata inklusifitas LEM SPSI menuju persaigan global (globalization competition) dalam spirit Industrial Revolution 4.0

Bangkit Bergerak Satu Komando! Spirit itu dapat menjadi pemicu (trigger) setiap kita untuk tidak ragu menata KTA dan COS secara inklusif sehingga inklusivitas FSP LEM SPSI menjadi nyata, bukan LEM SPSI yang eksklusif karena ego pribadi dan ego kelompok.*

 

FSP LEM SPSI KTA

Related Post

Leave a reply