Urgensi Bangunan Akrab Gempa

78 views

Bangunan publik yang terkena gempa ( foto istimewa )

Catatan Totok Siswantara

Gempa bumi semakin sering mengguncang Tanah Air. Rentetan gempa menjadi peringatan serius terhadap negara kita yang terdapat banyak sesar aktif yang bisa memicu gempa. Apalagi sesar itu banyak melintasi permukiman padat dan kawasan industri. Dengan kondisi seperti ini hendaknya jangan lengah dengan mitigasi. Keniscayaan menerapkan teknologi bangunan yang akrab gempa.

Reruntuhan gedung akibat gempa ( foto istimewa )

Reaktor.co.id – Semua pihak hendaknya memikirkan penerapan bangunan yang akrab gempa sebelum terjadi hal yang fatal akibat gempa yang datangnya tiba-tiba.

Bangunan publik, sekolah, pusat perbelanjaan, pasar dan hanggar pabrik tempat para pekerja mesti dibuat dengan prinsip akrab gempa. Serta memiliki sistem mitigasi yang selalu diperbarui.

Pabrik-pabrik mesti memiliki prosedur tanggap bencana dalam sistem mitigasi yang tersosialisasi dengan baik. Bangunan pabrik yang sarat dengan permesinan dan bahan-bahan yang mudah terbakar bahkan eksplosif sangat riskan jika terjadi bencana alam.

Tidak ada kata yang lebih penting daripada mitigasi. Sebagian besar aspek mitigasi terkait dengan kondisi bangunan. Diharapkan kondisi bangunan bisa akrab dengan gempa. Istilah akrab untuk menekankan sebetulnya tidak ada bangunan publik yang benar-benar tahan gempa. Akrab untuk menunjukkan pentingnya fleksibilitas bangunan jika terkena getaran gempa dengan berbagai skala tidak sekaligus ambruk.

 

Perumahan rakyat yang terkena gempa ( Foto Kementerian PUPR )

Teknologi Tepat Guna Atasi Gempa

Gempa yang terjadi berulang kali mestinya menyadarkan kita pentingnya penerapan struktur bangunan yang akrab dengan gempa karena mampu mereduksi efeknya. Fakta telah menyebutkan bahwa sebagian besar korban gempa akibat tertimpa material bangunan.

Dengan fakta tersebut mau tidak mau kita harus memikirkan solusi teknik bangunan serta mengevalusi dan memasyarakatkan aspek struktur bangunan di daerah rawan gempa.

Selain itu dibutuhkan teknologi tepat guna yang murah dengan bahan baku lokal yang melimpah guna meminimalkan dampak gempa. Dalam konteks tersebut sebenarnya aplikasi teknologi sudah menyajikan bermacam pilihan. Sayangnya, banyak pihak kurang merespon hal tersebut.

Peristiwa gempa diatas mengingatkan perlu langkah yang cepat dan andal sesuai dengan Undang-undang No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Kini aspek mitigasi masih lemah. Mitigasi yang merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana nuansanya masih sebatas teori diatas kertas yang belum mengakar di masyarakat.

Kegiatan mitigasi seharusnya secara konsisten diterapkan melalui penataan ruang, pembangunan infrastruktur, tata bangunan, penyelenggaraan pendidikan, dan pelatihan baik secara konvensional maupun modern.

Kinerja Struktur Bangunan

Perkembangan teknik sipil khususnya konstruksi bangunan tahan gempa pada dekade terakhir ini mengalami analisa yang lebih rinci. Yaitu adanya perubahan paradigma dari menilai kekuatan dan daktilitas menjadi kinerja.

Para ahli struktur menyadari bahwa keamanan dan keselamatan bangunan tidak hanya bergantung pada tingkat kekuatan tetapi juga pada tingkat deformasi dan energi terukur pada kinerja struktur.

Kinerja struktur yang yang diukur pada deformasi struktur dengan beban kuat sudah mulai diperhitungkan pada awal perencanaan sebagai kriteria yang dikenal sebagai desain berdasarkan kinerja (DBK).

Dimana DBK yang sudah dikenal adalah menggunakan desain awal dengan pendekatan gaya. Yang mana deformasi plastis yang dirancang adalah deformasi yang didasarkan atas plastisitas pada balok dengan beban gempa kuat. Analogi sistem dengan derajat tunggal diimplementasikan untuk mendapatkan gaya rancang yang relevan dengan deformasi plastis tersebut.

Secara umum struktur bangunan dapat dikategorikan menjadi engineered buildings dan non engineered buildings. Kedua kategori tersebut hingga saat ini masih ada yang belum memasukkan aplikasi teknologi tahan gempa.

Engineered building adalah bangunan yang memerlukan tenaga ahli saat proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Sedangankan non engineered building adalah bangunan yang direncanakan dan dilaksanakan tanpa bantuan tenaga ahli. Bangunan-bangunan ini pada umumnya dibangun berdasarkan kebiasaan tradisional setempat dan pelaksanaannya mengikuti cara-cara masa lalu.

Non-engineered building dapat dibagi menjadi dua katagori yaitu bangunan tradisional dan bangunan rumah tinggal sederhana atau bangunan komersil yang dibangun tanpa bantuan dari ahli bangunan.

Uji desain bangunan rumah akrab gempa oleh Kementerian PUPR ( Foto Istimewa )

Kriteria Perancangan

Agar memenuhi kriteria keseimbangan antara biaya dan resiko yang dapat diterima, engineered building maupun non-enginered building harus memenuhi beberapa kriteria perancangan sebagai berikut; pertama; struktur bangunan harus tetap utuh dan tidak boleh mengalami kerusakan yang berarti, pada saat terjadi gempa sedang.

Pada kondisi ini struktur diharapkan akan berespon didalam kondisi elastis. Kedua, komponen non-struktural dari struktur bangunan diperkenankan mengalami kerusakan, tetapi komponen struktural harus tetap utuh pada saat terjadi gempa sedang.

Ketiga, pada saat terjadi gempa kuat, komponen struktural dan non-struktural dari sistem struktur diperbolehkan mengalami kerusakan, tetapi struktur bangunan secara keseluruhan tidak boleh runtuh.

Kerusakan yang terjadi harus dapat diperbaiki dengan cepat sehingga bangunan segera dapat berfungsi kembali. Jadi pada filosofi perencanaan bangunan tahan gempa, kemungkinan terjadinya resiko kerusakan pada suatu bangunan merupakan hal yang dapat diterima, tetapi keruntuhan total (collapse) dari struktur yang dapat mengakibatkan terjadinya korban dan kerugian material yang besar harus betul-betul dihindari.

Agar didapatkan struktur yang kuat terhadap pengaruh gempa tetapi juga ekonomis, perlu dirancang struktur yang berperilaku inelastik pada saat terjadi gempa kuat. Ini berarti bahwa struktur harus dirancang dengan tingkat daktilitas yang tinggi, sehingga pada saat terjadi gempa kuat struktur mempunyai kemampuan untuk menghalangi deformasi yang besar tanpa mengakibatkan keruntuhan.

Kemampuan dari struktur untuk mampu berdeformasi diatas batas elastiknya, dapat mengurangi pengaruh dari energi gempa yang masuk kedalam struktur. Energigempa yang masuk kedalam struktur akan dipancarkan keluar melalui kemampuan mekanisme perubahan bentuk dari struktur.

*) Totok Siswantara, Pengkaji Transformasi Teknologi dan Infrastruktur

gempa bumi mitigasi kawasan industri

Related Post

Leave a reply