Untuk Perlindungan Pekerja, ILO Dorong Penerapan Konvensi Nomor 190

84 views

Konvensi Nomor 190 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan dalam Dunia Kerja.

Reaktor.co.id, Jakarta — Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mendorong penerapan Konvensi Nomor 190 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan dalam Dunia Kerja.

Menurut penasihat senior ILO, Tim De Meyer, salah satu tujuan konvensi tersebut adalah menjamin perlindungan bagi buruh tanpa memandang status kontrak kerja.

“Fokus konvensi ini pada inklusivitas sangatlah penting. Artinya siapapun yang bekerja akan terlindungi tanpa memandang status kontrak kerja,” katanya di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

De Meyer mengatakan, pekerja magang, sukarelawan, pencari kerja, dan orang-orang yang menjalankan kewenangan sebagai pemberi kerja, berhak untuk mendapatkan perlindungan berdasarkan Konvensi ILO No.190.

“Hal itu berlaku juga untuk sektor publik dan swasta, sektor ekonomi formal dan informal, serta wilayah perkotaan maupun pedesaan,” kata dia.

Menurut De Meyer, beberapa kelompok pekerja di sektor, area dan waktu tertentu juga punya kerentanan khusus terhadap kekerasan dan pelecehan.

“Mereka yang bekerja di sektor kesehatan, transportasi, pendidikan dan rumah tangga atau bekerja di malam hari maupun di wilayah terpencil sangat rentan terhadap kekerasan dan pelecehan,” ujarnya.

Kekerasan dan pelecehan berbasis gender juga menjadi perhatian Konvensi ILO No.190. Pendekatannya mempertimbangkan pihak ketiga, misalnya klien, pelanggan, penyedia layanan, dan pasien. “Karena merekapun dapat menjadi korban ataupun pelaku,” kata De Meyer.

Di sisi lain, federasi serikat buruh makanan, minuman, pariwisata, restoran dan hotel (FSB KAMIPARHO) mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi Konvensi ILO No. 190 dan Rekomendasi No. 216 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja.

Ketua Umum FSB KAMIPARHO Sulistri menegaskan, konvensi ini kuat karena disertai rekomendasi yang menjadi acuan implementasinya di level negara.

Konvensi tersebut bertujuan untuk mewujudkan masa depan dunia kerja yang bermartabat dengan tidak adanya kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja.

“Berdasarkan kejadian yang terjadi di lapangan selama ini, korban kekerasan maupun pelecehan itu malu untuk menyampaikan tindakan yang dialaminya,” ungkap Sulistri.

Menurut dia, hal itu terjadi karena pekerja yang melaporkan pengalamannya sebagai korban tindakan kekerasan maupun pelecehan cenderung dikucilkan dan tidak didengar suaranya.

“Korban kekerasan dan pelecehan baru terbuka kepada seseorang yang bisa dipercayainya. Untuk itu, korban harus nyaman dan merasa aman dulu baru mau terbuka,” kata Sulistri.

ILO menerbitkan Konvensi No. 190 Tahun 2019 tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja yang diadopsi pada sidang ILO ke-108 di Jenewa, Swiss, 21 Juni 2019. Konvensi itu memuat berbagai ketentuan, antara lain mengakui hak setiap orang atas dunia kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan, termasuk kekerasan dan pelecehan berbasis gender (perempuan). (rml/antara/jpnn).*

 

ILO Konvensi ILO Konvensi No. 190

Related Post

Leave a reply