Tsunami PHK Landa Pekerja Bank, Otomotif, Tekstil, dan Start-Up

97 views
PHK

Ilustrasi Korban PHK (123rf)

Reaktor.co.id — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda industri perbankan, otomotif, dan start-up tahun ini.

Dalam sepekan terakhir sejumlah bank mengumumkan rencana PHK karyawannya. Bank terbesar Eropa, HSBC, dilaporkan bakal merumahkan 10.000 pegawainya. Dilansir Financial Times, langkah itu dilakukan HSBC sebagai upaya efisiensi anggaran.

Saat ini HSBC memiliki 238.000 pegawai. Rencananya, PHK akan dilakukan kepada para pejabat senior yang bergaji tinggi.

Sebelumnya, di awal Agustus, HSBC sempat melaporkan akan memangkas 4.000 staff atau 2% dari seluruh karyawan. Hal itu dilakukan sebagai upaya penghematan dana pengeluarab Perusahaan.

Dilansir Bloomberg, setidaknya sudah hampir 60.000 orang sedang dan akan terkena PHK di sektor perbankan. Penyebabnya persaingan dengan pasar perbankan yang terpecah-pecah dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

PHK juga dipengaruhi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang berdampak pada ekspor. Krisis geopolitik di sejumlah kawasan, seperti Brexit dan Hong Kong, juga berperan memicu gelombang tsunami PHK.

Untuk menekan pengeluaran biaya, banyak bank memutuskan untuk merampingkan jumlah pegawainya. Kebanyakan PHK karyawan dilakukan di Eropa, diikuti Amerika Utara, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Pasifik.

Berikut ini daftar bank yang mengumumkan rencana PHK:

1. Deutsche Bank = 18.000 pegawai
2. HSBC = 10.000 pegawai
3. Santander = 5.433 pegawai
4. Commerzbank = 4.300 pegawai
5. Mitsubishi UFJ Financial Group Inc = 4.300 pegawai
6. Barclays = 3.000 pegawai
7. Alfa-Bank JSC = 3.000 pegawai
8. KBC = 2.150 pegawai
9. SocGen = 2.130 pegawai
10. Caixabank = 2.023 pegawai
11. National Bank of Greece = 1.700 pegawai
12. Nomura Bank = 350 pegawai
13. Citigroup = 100 pegawai

Tsunami PHK Landa Pekerja Otomotif & Start Up

Tsunami PHK juga terjadi di perusahaan otomotif, komputer, hingga perusahaan perintis (start-up). Perusahaan-perusahaan non-bank yang melakukan PHK pada 2019 dan pada akhir 2018 antara lain HP, Uber, LG, Ford, Nissan, Huwaei,  Bombardier, Volvo, dan General Motor.

Pada awal Oktober 2019, perusahaan komputer dan printer yang berbasis di Amerika Serikat, HP, mengumumkan rencana memangkas lebih dari 10% karyawannya di seluruh dunia.

Sekitar 9.000 karyawan akan dirumahkan dalam tiga tahun ke depan, dari total karyawannya di seluruh dunia yang mencapai 55.000 orang. PHK akan dilakukan hingga 2022.

Uber melakukan pemangkasan pada 435 karyawannya pada September 2019 atau sekitar 8% dari total pekerja perusahaan itu. PHK dilakukan pada 170 orang dari tim produksi dan 265 orang dari tim teknisi.

Sekitar 85% pekerja yang di PHK berada di AS. Sedangkan 10% lainnya di Asia Pasifik dan 5% lain di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Pada Juli 2019, Uber merumahkan 400 orang dari tim marketing. Ini membuat Uber resmi merumahkan 835 karyawannya selama 2019.

Perusahaan asal Korea Selatan, LG Display Co Ltd, mengumumkan rencana PHK karyawan pada 17 September 2019. Namun, perusahaan ini tidak memaparkan dengan pasti berapa banyak karyawan yang akan dirumahkan.

Saat ini, LG Display mengatakan membuka PHK secara sukarela, khususnya bagi karyawannya di Korsel yang sudah bekerja lima tahun atau lebih. Secara global, LG memiliki 59.000 pekerja, termasuk di China.

Ford Motor Co dikabarkan akan melakukan PHK pada 12.000 karyawan dan menutup sejumlah pabrik. Penyebabnyak, perusahaan ototomif ini rugi akibat melambatnya penjualan.

Sekitar 2.300 karyawan berasal dari AS. Selain memangkas pekerja, Ford juga memotong 10% gaji karyawan secara global.

Nissan Motor Co bakal memangkas 12.500 karyawannya. Pengumumamn disampaikan pihak perusahaan pada Juli 2019 lalu. Rencananya, PHK akan berlangsung hingga Maret 2023. Perusahaan pembuat merk Rogue dan Datsun ini memiliki 138.000 karyawan pada Maret 2018.

Perusahaan teknologi asal China, Huawei Technologies Co Ltd, juga akan memangkas 400 karyawan pada Futurewei Technologies, yang merupakan bagian penelitiannya di AS. Saat itu, Future Technologies memiliki 850 pekerja di AS.

Ini terjadi setelah AS mem-blacklist perusahaan itu karena perang dagang dengan China. PHK efektif dilakukan 22 Juli lalu.

Perusahaan berbagai macam alat transportasi, seperti pesawat, kereta api, dan trem asal Kanada, Bombardier, melakukan PHK pada 550 karyawannya. Ini dilakukan seiring langkah penutupan pabrik yang akan dilakukan 4 november nanti.

Pembuat mobil asal Swedia, Volvo, yang dimiliki Geely asal China, berencana memangkas ratusan ribu karyawan pada Mei 2010. Volvo, saat berita ini dibuat memiliki 43.000 tenaga kerja.

Pembuat mobil asal Detroit Amerika Serikat yang memproduksi mobil merk Chevrolet, General Motor, pertama kali mengumumkan PHK karyawan pada 2018. Ini lalu dilanjutkan dengan merumahkan 14.000 karyawan tahun 2019.

Lesunya permintaan mobil membuat laba perusahaan tergerus dan mengakibatkan PHK besar-besaran tenaga kerja. Sekitar 8.100 posisi ahli (white collar) dirumahkan sementara 6.000 pekerja pabrik juga dipangkas.

Masalah di perusahaan ini juga terus bergulir hingga kini. Pada Oktober 2019, pemogokan karyawan terus terjadi guna menuntut pembaruan kontrak dan upah yang layak.

Tsunami PHK yang melanda pekerja berbagai perusahaan di Amerika, China, Korea, dan Kanada juga melanda pekerja/buruh di Indonesia.

Dilansir CNBC Indonesia, setidaknya 7 perusahaan besar yang jumlah karyawannya berkurang pada paruh pertama tahun ini, dengan rata-rata penurunan jumlah karyawan sekitar 2,37%.

Dari segi jumlah, penurunan karyawan terbesar dicatatkan oleh PT Astra International Tbk (ASII) yang memangkas sekitar 2.191 karyawan dalam 6 bulan pertama tahun ini. Dari segi persentase, penurunan karyawan di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai 5,83%.

Perubahan Jumlah Karyawan

* Nilai kapitalisasi pasar berdasarkan harga penutupan kemarin (10/10/2019).

Dalam tabel di atas, penambahan pekerja hanya terjadi di BRI, Telkom, dan Chandra Asri.

Laman resmi Kementerian Perindustrian RI juga menurunkan laporan “Gelombang PHK Kian Mengancam“.

Disebutkan, gelombang PHK tampaknya mengancam sejumlah industri padat karya akibat dampak dari kenaikan standar upah buruh yang signifikan di berbagai daerah di Indonesia belakangan ini.  Asosiasi Pertektilan Indonesia (API) memperkirakan akan ada ribuan karyawan terkena PHK. (rml/cnbc/ant).*

 

PHK

Related Post

Leave a reply