Transformasi Pegadaian, Butuh Sinergi Serikat Pekerja dengan Manajemen

47 views

Masyarakat selama ini menjadikan pegadaian sebagai katub penyelamat kebutuhan mendesak keluarga. Perlu sinergi antara Serikat Pekerja dengan manajemen untuk mendongkrak kinerja perusahaan.

Pelayanan nasabab pegadaian ( Foto istimewa )

Reaktor.co.id – Transformasi bisnis dan inovasi pegadaian diharapkan tidak menjauh dari entitas pedagang kecil atau usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Inovasi produk yang menyasar kaum milenial sebagai nasabah diharapkan bisa berdampak positif untuk membangun produk lokal dan entitas pasar tradisional.

Serikat Pekerja Pegadaian meminta kepada jajaran direksi dan manajemen lain untuk terus bersinergi dan senantiasa mematuhi dan taat dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang telah ditanda tangani oleh para pihak.

PT Pegadaian (Persero) senantiasa menjangkau kepada masyarakat pedesaan yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Untuk itu pendekatan yang dilakukan yaitu dengan meluncurkan Program Pegadaian Sahabat Desa. Program ini diluncurkan untuk mempermudah masyarakat desa dan daerah pinggiran dalam mengakses produk-produk dan layanan Pegadaian.

Menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Pegadaian membuka layanan keliling yang berpindah dari desa satu ke desa lainnya. Dengan demikian masyarakat desa yang tinggal jauh dari outlet Pegadaian pun dapat dilayani.
Pola pendapatan petani yang bersifat musiman serta berpotensi menjadi sasaran pengijon, rentenir, ataupun pinjaman tak wajar lainnya, terus menjadi perhatian PT Pegadaian.Untuk meminimalisir hal itu, Pegadaian juga menawarkan produk Kreasi Fleksi. Para petani dapat mengajukan pembiayaan dengan sistem ‘yarnen’ yang dapat dilunasi secara fleksibel karena dapat dibayar setelah panen.

Direksi PT Pegadaian memproyeksikan pertumbuhan jumlah nasabah pada 2019 sebesar 23,4 persen atau menjadi 12,3 juta nasabah. Nasabah Pegadaian pada 2018 naik 9,4 persen atau mencapai 10 juta dari posisi sepanjang 2017 sekitar 9,5 juta nasabah.

Meskipun pegadaian telah melakukan transfomasi bisnisnya sesuai dengan tren ekonomi digital, namun harus tetap berkomitmen menggarap nasabah golongan ekonomi lemah.

Langkah Pegadaaian meluncurkan Pegadaian Digital Service (PDS) merupakan jawaban dari kebutuhan milenial yang sudah sangat akrab dengan layanan keuangan berbasiskan digital.

Selain perusahaan gadai BUMN, usaha pegadaian di Tanah Air berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2018, jumlah perusahaan gadai swasta yang telah mendapatkan izin sebanyak 16 perusahaan. Sedangkan perusahaan yang baru terdaftar di OJK sebanyak 41 perusahaan gadai.

Selain fokus pada layanan konvensional, Pegadaian juga menumbuhkan bisnis syariah, antara lain, Murabahah yakni akad untuk transaksi jual beli dan Rahn yaitu akad yang digunakan dalam proses gadai barang. Selain itu meluncurkan produk baru untuk menjawab tuntutan pasar dan zaman, yaitu Produk Rahn Hasan berupa pinjaman hingga Rp 500 ribu tanpa biaya titipan.

Penyerahan Tabungan Emas PT Pegadaian kepada Paskibraka (foto istimewa )

Menyasar Milenial

Untuk bisa terus tumbuh dan berinovasi, Pegadaian menerapkan Konsep G-Star Generation melalui strategi 5G’s. Yakni Grow Core (menumbuhkan bisnis utama), Grab New (menangkap peluang baru), Groom Talent (mengembangkan talenta internal), Gen-Z Tech (teknologi generasi terkini) dan Great Culture (budaya perusahaan yang hebat).

Langkah Pegadaian yang getol menyasar generasi milenial dengan mendirikan tempat ngopi yang diberi nama The Gade Coffee & Gold. Didirikan untuk menarik kids zaman now alias generasi milenial agar mau menjadi nasabah.
Pembuatan The Gade ditujukan untuk menambah kenyamanan nasabah dalam melakukan transaksi di Pegadaian.

Selain melalui pembukaan The Gade, Pegadaian juga meluncurkan gadai tanpa bunga untuk pemberian pinjaman maksimal Rp.500 ribu. Kredit ini diberikan untuk mahasiswa, buruh, dan ibu rumah tangga.

Pegadaian mesti menjadikan pasar tradisional sebagai basis usahanya. Karena selain menjadi entitas perekonomian rakyat, pasar tradisional sebetulnya juga merupakan entitas sosial dan kebudayaan.

Pegadaian perlu mendorong agar roh kebudayaan pasar tradisional tidak redup. Pentingnya usaha terobosan agar roh kebudayaan pasar tradisional semakin bersinar sehingga bisa mengembangkan segenap potensi yang ada. Pranata sosial dan tingkat kebudayaan suatu bangsa bisa dilihat dari kondisi pasar yang berdenyut kencang ditengah perikehidupan rakyat.

Bersinarnya roh kebudayaan pasar tradisional bisa menjadi sumber inspirasi dan imajinasi bagi warga bangsa, utamanya kaum milenial. Perlu menyadarkan generasi muda bahwa peran pasar tradisional tidak sekedar tempat jual beli bahan pokok. Tetapi juga mampu menjadi tempat rekreasi dan wahana kreativitas tanpa batas. Banyak seniman dan ilmuwan yang memperoleh inspirasi dari dalam pasar tradisional.

Bahkan nagu nasional Padamu Negeri yang merupakan buah karya Kusbini juga diciptakan di tengah Pasar Kembang Yogyakarta. Masih banyak maestro seni dan budaya negeri ini yang karyanya diinspirasi oleh pasar tradisional. Kita masih ingat, Pasar Klewer di Solo bagi mendiang Presiden Soeharto telah menjadi sumber inspirasi pembangunan baginya.

Usaha pegadaian sepertinya sangat dekat dengan kaum ibu. Data yang dihimpun oleh Pegadaian menyatakan bahwa mayoritas nasabah yang datang untuk menggadaikan barang berharga adalah perempuan. Dari data Pegadaian, pada tahun 2017 nasabah Pegadaian mencapai 9,5 juta orang, dari jumlah tersebut, nasabah dengan jenis kelamin perempuan mendominasi sebesar 72 persen dan laki-laki hanya 28 persen.

Pegadaian menjadi saksi tentang peran kaum ibu dalam menghalau krisis ekononi sangat besar. Tak bisa dimungkiri, selama ini ibu memiliki instrumen penghalau krisis yang hebat.

Sosialisasi produk pegadaian ( foto istimewa )

Insentif untuk Perempuan

Tantangan dan rintangan kaum Ibu dimasa depan semakin berat dan kompleks. Untuk itulah peran pegadaian diharapkan bisa ditingkatkan. Ibu merupakan profesi yang secara kodrati bersifat multitasking karena harus melahirkan, mengurus rumah tangga dan juga mesti mencukupi kebutuhan keluarga.

Semakin banyak kaum perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Tetapi juga semakin banyak perempuan yang terjerumus oleh jerat rentenir karena terpaksa berhutang demi untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Peran pegadaian sangat penting untuk menyelamatkan kaum perempuan dari bermacam modus rentenir alias lintah darat.

Pegadaian perlu mencermati survei dan laporan McKinsey, konsultan terkemuka dunia. Dalam laporannya yang berjudul How Helping Women Helps Business secara garis besar menyatakan bahwa perempuan telah berperan meningkatkan hingga dua persen Produk Domestik Bruto suatu negara. Semua itu karena adanya insentif dan pinjaman modal usaha yang berbunga rendah.

Perlu pemberian insentif oleh pegadaian bagi para TKI perempuan yang akan dan telah bekerja di luar negeri maupun di luar daerah. Insentif bisa berupa pemberian dana talangan maupun fasilitas yang terkait dengan kebutuhan anaknya yang ditinggalkan. Di perdesaan semakin banyak wanita yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Kondisi tersebut perlu disikapi oleh pegadaian dengan inovasi sosial yang relevan. (TS).*

nasabah pegadaian Pegadaian serikat pekerja pegadaian

Related Post

Leave a reply