Tragedi Impor Cangkul

48 views

Banjir alat kerja pertanian dan perkakas pertukangan buatan asing menyebabkan industri dalam negeri banyak yang gulung tikar. Impor cangkul merupakan indikasi terjadinya deindustrialisasi industri perkakas lokal.

Reaktor.co.id – Presiden Joko Widodo pada saat rapat koordinasi Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) mengungkapkan masih adanya kementerian dan lembaga yang membeli pacul atau cangkul dari luar negeri alias impor.

Mestinya produk tersebut bisa diproduksi dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri. Presiden menegaskan bahwa sangat keterlaluan jika mengandalkan barang impor di saat neraca perdagangan sedang defisit. Impor cangkul juga mematikan lapangan kerja para pengrajin pealatan kerja pertanian dan pekerjaan umum.

Selain cangkul masih banyak jenis perkakas impor yang membanjiri negeri ini. Perkakas atau alat untuk kerja pertanian, pertukangan, pengerjaan bangunan dan kelistrikan sangat penting untuk menggenjot produktivitas bangsa.

Kian Terpuruk

Perlu peta jalan baru dan strategi pengembangan alat dan mesin pertanian (alsintani). Utamanya untuk tanaman pangan seperti hand traktor, transplanter, weeder, pompa air, hand sprayer, reaper (pemanen), thresher dryer dan mesin penggilingan padi. Sedangkan untuk tanaman perkebunan diarahkan pada pengembangan mesin untuk pengolahan.

Saatnya membentuk pusat desain dan inovasi nasional untuk beberapa jenis alsintani yang antara lain untuk penyiapan lahan, pemupukan, pengairan, dan pasca-panen. Pusat desain tersebut bisa menjadi rujukan dan katalog perdagangan yang efektif.

Pusat desain juga berperan mengevaluasi kinerja dan mutu alsintani yang telah dioperasikan di lapangan dengan berbagai kondisi alam. Sehingga bisa dilakukan penyempurnaan desain, efektivitas produksi dan biaya produksi dan pemasaran secara berkelanjutan.

Kodisi makin menyedihkan karena industri baja nasional kondisinya kian terpuruk. Kondisi memilukan terlhat dari sekitar 2.600 karyawan di bagian produksi baja PT KS yang dirumahkan dan sebagian sudah di PHK.
Paradoks industri logam nasional juga berpengaruh terhadap industri hilir yang semakin terpuruk. Termasuk industri alat pertanian berbasis baja, seperti cangkul, arit, dan lain-lain.

Akar masalah terpuruknya daya saing industri perkakas lokal sebenarnya mirip dengan industri manufaktur yang lain. Semua berakar dari ketersediaan logam dasar.

Produk logam dan perkakas dari Cina kini merajalela di negeri ini. Apalagi dengan bea masuk impor hingga nol persen dan diberlakukannya ACFTA, maka industri dalam negeri banyak yang mengalami kebangkrutan.

Keruntuhan masal industri logam dan perkakas lokal sudah di depan mata. Selama ini strategi industrialisasi di negeri ini lebih mengedepankan industri perakitan yang kandungan lokalnya sangat rendah. Industri logam dasar dan perkakas kurang ditangani secara serius.

Ironisnya pembangunan infrastruktur yang membutuhkan bahan baku logam yang sangat besar, justru diimpor dari Cina. Karena skema pembangunan infrastruktur yang dibiayai dari utang ternyata tidak disertai dengan penggunaan bahan baku lokal seluas-luasnya.

Industri manufaktur atau pengolahan di Indonesia selama ini dikelompokkan menjadi 9 jenis. Dua jenis diantaranya adalah industri yang membuat produk dari logam. Yaitu industri logam dasar dan industri perkakas dan permesinan. Kondisinya sangat mengenaskana karena sebagian besar berdaya saing rendah. Kementerian Perindustrian dan Kementerian BUMN belum mampu melakukan pembinaan sehingga efisiensi produksi dan mutu produk industri masih buruk.

Pemerintah gagal mengatasi keruntuhan industri nasional sektor logam dasar dan perkakas. Karena industri tersebut bersifat padat karya dan sebagai basis kewirausahaan masyarakat. Industri logam dasar seperti besi spons, billet baja, besi beton, batang kawat, aluminium ingot,aluminium extrusion, batang tembaga dan lain-lain. Serta jenis industri permesinan seperti mesin bubut, bor, freis, traktor, pompa irigasi, mesin gergaji selama ini juga kurang mendapatkan perhatian dibidang permodalan dan teknologi.

Banjir impor alat dan mesin pertanian (alsintan) merupakan indikasi industri perkakas lokal sudah runtuh. Padahal perkakas atau alat untuk kerja pertanian, pertukangan, pengerjaan bangunan dan kelistrikan sangat penting untuk menggenjot produktivitas bangsa.

Sayangnya, hingga kini prosentase pangsa pasar perkakas pertanian impor mencapai 75 persen. Dominasi perkakas impor karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap industri lokal. Dominasi impor semakin kuat karena harga produk lebih murah dibanding lokal. Perbedaan harga ini terjadi karena produk impor mendapat berbagai insentif dan kemudahan pengadaan bahan baku oleh pemerintahnya.

Pemerintah harus segera revitalisasi industri perkakas lokal yang jenisnya sangat banyak dan beragam. Produk perkakas impor menjadi penyebab punahnya usaha pandai besi di perdesaan yang dulu memproduksi aneka peralatan seperti sabit, cangkul, sekop, palu dan lain-lain.

Alat dan mesin pertanian dibutuhkan di setiap kegiatan usaha pertanian dari sektor hulu sampai hilir. Setiap tahun ada kenaikan kebutuhan alat pertanian. Alokasi belanja pemerintah untuk sektor pertanian tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Dan 40 persen diantaranya untuk pengadaan alat dan mesin pertanian. Alokasi anggaran sebesar itu direbut importir dan pihak asing.

Standardisasi

Penerapan standardisasi pada industri logam dan permesinan semakin diperlukan dalam era persaingan pasar global. Penerapan standardisasi pada sektor manufaktur merupakan kunci untuk membangun kapabilitas teknologi suatu industri atau perusahaan. Dalam konteks perdagangan internasional, standardisasi produk juga dapat digunakan sebagai instrumen proteksi terhadap produk industri dalam negeri.

Standardisasi industri logam dan permesinan merupakan program multi disiplin ( engineering, ekonomi, psikologi, manajemen, hukum ) dan lintas kementerian/lembaga negara.

Prinsip dasar standardisasi adalah proses memformulasikan dan menerapkan suatu aturan untuk mendapatkan keuntungan.

Standardisasi merupakan hasil kerjasama antara berbagai bidang terkait untuk mendefinisikan dan menetapkan spesifikasi, dasar pengukuran dari objek fisik, aktivitas, proses, metoda, praktek, kapasitas, fungsi, tugas, hak dan kewajiban, perilaku, dan konsep desain.

Berbagai eselon terkait seperti Kementerian Perindustrian, Badan Standardisasi Nasional, Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS), LIPI, Sucofindo, ASIMPI, dan entitas industri logam dasar harus segera konsolidasi guna menuntaskan prosedur standardisasi produk.

Apalagi logam murah dari Cina dengan kualitas dibawah standar bisa leluasa masuk pasar Indonesia. Bahkan logam murah semacam itu juga terserap atau banyak digunakan untuk keperluan pambangunan infrastruktur di tanah air selama ini.

Namun kebijakan standardisasi yang tidak sistemik alias amburadul justru bisa menjadi bumerang. Apalagi selama ini kapabilitas teknologi industri dalam negeri masih lemah sehingga tidak mampu menerapkan persyaratan jaminan mutu.

Pada prinsipnya kapabilitas teknologi terdiri dari beberapa aspek yaitu kapabilitas operatif, suportif, akuisitif, investasi dan inovatif. Kapabilitas operatif adalah kemampuan untuk mengatur fasilitas untuk mendapatkan produk yang sesuai kualitas dan kuantitasnya.

Kapabilitas suportif adalah kemampuan untuk mengelola proyek, akses finansial, marketing, R&D, dan fasilitas uji. Kapabilitas inovatif adalah kemampuan untuk mengadopsi, duplikasi dan meningkatkan teknologi yang ada. Kapabilitas investasi adalah kemampuan untuk menyediakan dukungan finansial serta kapabilitas akuisitif yakni berkaitan dengan kemampuan mempelajari dan meniru teknologi lain.

Analisis tentang kapabilitas teknologi suatu industri perlu dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen pembentuknya dan tingkat pengaruhnya pada penerapan standardasi manajemen produksi di sektor industri manufaktur.

Perlu penelitian dan identifikasi faktor-faktor pembentuk kapabilitas teknologi dan standardisasi produksi. Agar diketahui secara pasti pengaruh faktor-faktor kapabilitas teknologi terhadap penerapan standardisasi manajemen produksi di sektor manufaktur. (TS).*

deindustrialisasi impor cangkul logam dasar

Related Post

Leave a reply