Tips Melawan Penipuan di Media Sosial

78 views

Media Sosial jadi incaran. Indonesia salah satu kontributor serangan terbesar. Berikut ini tips agar tidak menjadi korban penipuan di media sosial.

libur media sosial

Reaktor.co.id, Jakarta¬† — Penipuan melalui media sosial kian marak. Pelaku biasanya menggunakan akun media sosial, baik akun yang dibuat sendiri maupun akun hasil peretasan (hack) akun orang lain.

Hasil studi Arkose Labs 2019 menyebutkan, satu dari 10 transaksi yang mencakup pendaftaran akun, login, dan pembayaran dari layanan keuangan, e-commerce, perjalanan, media sosial, industri game, dan hiburan dari total 1,2 miliar transaksi adalah serangan siber.

Dari serangan pengambilalihan akun (hacking), hingga serangan penipuan dengan masifnya pembuatan akun palsu, hingga spam dan penyalahgunaan platform media sosial, terlihat dari beragamnya serangan dari bot dan kelompok peretas yang terorganisir. Namun, lebih dari 75% serangan di media sosial adalah serangan bot otomatis.

“Tidak seperti sektor lain, serangan pengambilalihan akun lebih sering terjadi di media sosial, dengan upaya login pada login media sosial ini didorong oleh penipu yang ingin memanen data pribadi dari akun pengguna yang sah,” tulis firma keamanan siber ESET Indonesia dalam rilis yang diterima reaktor.co.id, Jumat (20/9/2019).

“Tingkat serangan yang sangat tinggi pada login media sosial menunjukkan banyaknya akun media sosial yang dikompromikan oleh para peretas,” imbuhnya.

Dikemukakan, karena lebih dari 50% login media sosial adalah palsu, mereka menggunakan bot skala besar untuk meluncurkan serangan pada platform media sosial dengan tujuan menyebarkan spam, mencuri informasi, menyebarkan propaganda sosial dan melaksanakan kampanye social engineering yang menargetkan pengguna.

Indonesia menempati posisi teratas sebagai pencetus serangan tersebut, dengan Filipina sebagai pencetus serangan terbesar untuk serangan otomatis.

Analisis lebih lanjut menemukan, sebagian besar serangan dari Tiongkok (59,3%) didorong oleh manusia, atau lebih dari empat kali lebih tinggi daripada AS, Rusia, Filipina, dan Indonesia.

Contoh kasus yang paling nyata dan masih terjadi di Indonesia adalah penipuan media sosial dengan menawarkan hadiah ponsel secara gratis.

Pengguna media sosial atau warganet diiming-imingi hadiah ponsel dengan mengisi data personal secara lengkap. Data inilah yang kemudian dimanfaatkan, dijual atau digunakan sendiri untuk meretas akun korban dengan kasar.

Penipuan Media Sosial

Contoh Penipuan di Media Sosial

Di atas adalah contoh penipuan yang dilakukan via medsos dengan menjanjikan ponsel gratis. Jenis penipuan seperti ini sudah ada sejak bertahun-tahun lalu tetapi hingga hari ini ternyata masih dianggap efektif untuk dilakukan.

Tips Melawan Penipuan di Media Sosial

Menurut IT Security Consultan PT Prosperita (ESET Indonesia), Yudhi Kukuh, penipuan di media sosial menargetkan orang-orang dari semua latar belakang, usia, dan tingkat pendapatan.

“Tidak ada satu kelompok orang yang lebih cenderung menjadi korban penipuan, semua orang mungkin rentan terhadap penipuan pada suatu waktu. Penipuan berhasil karena mereka terlihat seperti hal yang nyata dan membuat orang lengah,” katanya.

Scammers semakin pintar dalam memanfaatkan teknologi baru, produk atau layanan baru dan peristiwa besar untuk membuat cerita yang dapat dipercaya untuk meyakinkan banyak orang agar memberi mereka uang atau informasi pribadi secara detail.

Untuk menghadapi ancaman siber melalui media sosial, berikut ini tips agar tidak menjadi korban penipuan di media sosial.

1. Informasi pribadi.

Berhati-hatilah dengan seberapa banyak informasi pribadi yang Anda bagikan di situs media sosial. Penipu dapat menggunakan informasi dan gambar Anda untuk membuat identitas palsu atau menargetkan Anda dengan penipuan.

2. Pengaturan privasi dan keamanan.

Tinjau pengaturan privasi dan keamanan di media sosial. Jika Anda menggunakan situs jejaring sosial, seperti Facebook, berhati-hatilah dengan siapa terhubung dan pelajari cara menggunakan pengaturan privasi dan keamanan untuk memastikan tetap aman.

3. Kontak tidak dikenal.

Waspada saat berurusan dengan kontak yang tidak dikenal dari orang atau bisnis, apakah itu melalui telepon, melalui surat, email, secara langsung, atau di situs jejaring sosial, selalu pertimbangkan kemungkinan bahwa pendekatan itu mungkin scam.

4. Kenali kontak

Tahu dengan siapa berhadapan. Jika Anda hanya pernah bertemu seseorang secara online atau tidak yakin dengan legitimasi bisnisnya, luangkan waktu untuk melakukan sedikit riset lebih lanjut.

Lakukan pencarian gambar Google di foto atau cari di internet apakah ada orang lain yang mungkin pernah berurusan dengan mereka.

Jika sebuah pesan atau email berasal dari seorang teman dan tampaknya tidak biasa atau tidak sesuai dengan karakter mereka, hubungi teman Anda secara langsung untuk memeriksa apakah sebenarnya mereka yang mengirimnya.

5. Link mencurigakan.

Jangan buka teks yang mencurigakan, pop-up windows atau klik tautan atau lampiran dalam email, hapuslah Jika tidak yakin, verifikasi identitas kontak melalui sumber independen seperti buku telepon atau pencarian online. Jangan gunakan detail kontak yang disediakan dalam pesan yang dikirimkan kepada Anda.

6. Keamanan komputer dan gadget.

Amankan perangkat seluler dan komputer Anda. Selalu gunakan perlindungan kata sandi, jangan berbagi akses dengan orang lain termasuk dari jarak jauh, perbarui perangkat lunak keamanan dan buat cadangan data.

Lindungi jaringan WiFi dengan kata sandi dan hindari menggunakan komputer umum atau hotspot WiFi untuk mengakses akun perbankan online atau memberikan informasi pribadi.

7. Belanja online.

Hati-hati saat berbelanja online. Waspadalah terhadap penawaran yang tampaknya too good to be true, dan selalu gunakan layanan belanja online yang Anda kenal dan percayai.

Jangan pernah mengirim uang atau memberikan detail kartu kredit, detail akun online, atau salinan dokumen pribadi kepada siapa pun yang tidak Anda kenal atau percayai. Jangan setuju untuk mentransfer uang atau barang untuk orang lain: pencucian uang adalah tindak pidana. (RL/ESET).*

 

kejahatan siber media sosial Penipuan Online

Related Post

Leave a reply