Tak Laik Terbang, Sriwijaya Air Diminta Setop Operasi

109 views

Pemerintah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk memberikan sanksi terhadap Sriwijaya Air. Direkomendasikan pihak Sriwijaya Air menyatakan setop operasi atas inisiatifnya sendiri.

Reaktor.co.id, Jakarta — Maskapai penerbangan Sriwijaya Air direkomendasikan agar menghentikan operasinya. Karena Maskapai ini dinilai tidak laik terbang yang bisa berakibat fatal bagi keselamatan penerbangan.

Rekomendasi tersebut muncul setelah dilakukan pengawasan dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPU), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Salah satunya setelah diberhentikannya pelayanan line maintenance oleh Garuda Maintenance Fasilities (GMF) Aero. Hal itu membuat Sriwijaya Air dianggap tidak memenuhi standar keamanan. Dilanjutkan dengan pertemuan dan diskusi bersama Direktur Teknik pada 28 September 2019 untuk mendengar laporan dari pelaksana di lapangan, serta laporan dari inspector DGCA yang terus mengawasi.

Dari laporan tersebut diketahui bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada di Sriwijaya Air ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara dan Menteri Perhubungan.

Termasuk bukti bahwa Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerja sama dengan pihak Maintenance Repair & Overhaul (MRO) lain terkait dukungan Line Maintenance.

Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A yang artinya tidak dapat diterima dalam situasi yang ada. Index itu menganggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Dengan menimbang uraian tersebut, maka pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk memberikan sangsi Sriwijaya Air untuk setop operasi karena berbagai alasan diatas. Sehubungan dengan hal itu setelah didiskusikan maka direkomendasikan pihak Sriwijaya Air menyatakan setop operasi atas inisiatifnya sendiri.

Rekomendasi stop operasi juga dinyatakan pihak internal sendii, seperti tercantum dalam surat  Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Soebandoro kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena. Surat rekomendasi itu bernomor 096/DV/INT/SJY/IX/2019 tertanggal 29 September yang sudah beredar luas di media massa.

Dalam uraiannya seperti dikutip CNBC Indonesia, Toto menegaskan pemerintah dalam hal ini, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan atau DGCA (Directorate General Civil Aviation), sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi karena berbagai alasan.

Ada beberapa faktor yang menjadi dasar rekomendasi setop operasi :

Pertama :
Sriwijaya Air  hanya mengerjakan line maintenance sendiri, dengan metode Engineer On Board (EOB) dengan jumlah engineer hanya 50 orang, dengan komposisi 20 orang certifying staff, 25 orang RII (required inspection item) dan certifying staff, 5 orang management and control, dan personel tersebut dibagi dalam 4 grup.

Kedua :
Sriwijaya Air akan melakukan kerja sama brake and wheel dengan PT Muladatu dan PT JAS Engineering sebagai pemegang AMO 145, dalam 3 hari ke depan (sejak tanggal 24 September 2019).

Ketiga
Sriwijaya Air menguasai tool and equipment untuk kegiatan line maintenance.

Keempat :
Sriwijaya Air juga memiliki minimum stock consumable part dan rotable part di beberapa bandara yakni CGK (Cengkareng), SUB (Surabaya), KNO (Medan) dan DPS (Denpasar), sebagai penunjang operasi penerbangan.

Menurut Direktorat Quality, Safety Security akan mengeluarkan kebijakan, apabila tidak mampu menyediakan komponen yang diperlukan maka pesawat akan di berhentikan pengoperasiannya atau AOG alias Aircraft on ground.

Kelima :
Sriwijaya Air juga hanya mempunyai kemampuan mengoperasikan 12 dari 30 pesawat udara yang dikuasai sampai dengan 5 hari ke depan (sejak tanggal 24 September 2019).

“Untuk mempertahankan safe for flight, DKPPU [Direktur Direktorat Kelaikanudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara] akan melaksanakan pengawasan dan evaluasi kegiatan operasi penerbangan berdasarkan kemampuan yang dimiliki Sriwijaya Air,” katanya.

Dengan kondisi itu, lanjut Toto, maka dilanjutkan dengan pertemuan dan diskusi bersama Direktur Teknik pada 28 September 2019 untuk mendengar laporan dari pelaksana di lapangan, serta laporan dari inspektor Ditjen Perhubungan Udara yang terus mengawasi.

Keeenam :
Dari hasil pertemuan tersebut, diketahui bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara (DGCA) dan Menteri Perhubungan.

Ketujuh :
Ada bukti bahwa Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau MRO (maintenance repair overhaul) lain terkait dukungan line maintenance. Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada). Menurut Toto, situasi ini dapat dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Kedelapan :
Ada keterbatasan/ketidakmamuan Direktorat Teknik Sriwijaya Air untuk meneruskan dan mempertahankan kelaikudaraan dengan baik.

Kesembilan :
Hingga saat ini belum adanya laporan keuangan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan.

Kesepuluh :
Adanya dukungan kuat dari catatan temuan ramp check yang dilakukan oleh inspector DGCA.

Lebih lanjut, Toto menegaskan dengan menimbang uraian tersebut maka pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air stop operasi.

“Sehubungan dengan hal tersebut di atas dan setelah diskusi dengan Direktur Teknik dan Direktur Operasi sebagai pelaksana safety, maka kami merekomendasikan Sriwijaya Air menyatakan setop operasi atas inisiatif sendiri (perusahaan) atau melakukan pengurangan operasional disesuaikan dengan kemampuan untuk beberapa hari ke depan, karena alasan memprioritaskan safety. Hal ini akan menjadi nilai lebih bagi perusahaan yang benar-benar menempatkan safety sebagai prioritas utama,” ujar Toto.  (TS).*

 

Kelaikan udara Sriwijaya Air

Related Post

Leave a reply