Terima Suap, Komisioner KPU Wahyu Setiawan Dicokok KPK

143 views

Wahyu Setiawan

Reaktor.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Komisioner KPU Wahyu Setiawan dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu, 8 Januari 2020.

Selain Wahyu, ada tiga orang lain yang ditangkap. Seorang sumber Tempo menuturkan salah satunya diduga calon legislatif dari PDIP.Caleg ini diduga akan menyuap Wahyu terkait pergantian antar waktu di DPR. Ia diduga akan memberikan uang kepada Wahyu sebesar Rp 400 juta lewat dua orang perantara.

Sumber lain menuturkan caleg ini adalah Harun Masiku. Harun adalah calon anggota legislatif untuk Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Dia maju dari daerah pemilihan Sumatera Selatan I nomor urut 6. Dapil Sumatera Selatan I ini meliputi Kota Palembang, Musi Banyuasin, Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, dan Kota Lubuklinggau.

Harun tak terpilih menjadi anggota DPR dalam Pileg 2019. Adapun yang ditetapkan oleh KPU adalah Riezky Aprilia, menggantikan Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia.

Dalam rapat pleno KPU 31 Agustus 2019, PDIP sempat meminta Komisi Pemilihan Umum mencoret Riezky dari daftar anggota DPR terpilih. Partai banteng mengajukan nama Harun. Namun permintaan ini ditolak oleh KPU.

Ketika dikonfirmasi, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan proses pemeriksaan masih berjalan. “Kami menegakkan hukum kepada siapa yang melanggar tidak melihat asal dan apa parpolnya,” kata dia.
Ghufron mengatakan selain Wahyu, ada tiga orang yang ditangkap. Mereka berinisial HM, D, dan S. “Penerima WS, suap lewat D dan S,” katanya.

Saat ditanya apakah HM merujuk pada Harun Masiku, Ghufron mengatakan, “Kan bisa dilacak dari nama caleg.”
Wahyu Setiawan merupakan satu dari 7 komisioner pimpinan KPU periode 2017-2022.

Dari laman resmi KPU RI, Wahyu Setiawan memulai kariernya sebagai Ketua KPU Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah sebanyak 2 periode yaitu pada tahun 2003-2008 dan 2008-2013.

Pria kelahiran Banjarnegara, 5 Desember 1973 tersebut ditangkap oleh Tim Satgas Penindakan KPK di pesawat saat akan melakukan kunjungan kerja ke Bangka Belitung.

Wahyu menjadi tersangka kedua yang ditetapkan oleh KPK dalam operasi tangkap tangan di kepemimpinan Firli Bahuri. Sebelumnya, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah ditangkap oleh KPK.

Wahyu tercatat memiliki harta kekayaan sebesar Rp 12,8 miliar seperti yang dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com dari situs resmi e-LHKPN KPK pada Kamis, 9 Januari 2020.

Jumlah tersebut paling besar dibandingkan 6 komisioner KPU lainnya. Lulusan FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tersebut terakhir kali melaporkan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada 30 Maret 2019.

Selain itu, komisioner KPU tersebut juga memiliki 9 bidang tanah di Banjarnegara senilai Rp 3,3 miliar dan juga 6 kendaraan senilai Rp 1 miliar. Kendaraan tersebut yaitu Mobil Toyota Innova, Honda Jazz, Mitsubishi All New Pajero Sport, Motor Honda Vario, Yamah F1 ZR, dan Vespa Sprint. Harta kekayaan lainnya berupa benda bergerak lain senilai Rp 715 juta.

Kasus penangkapan komisioner KPU telah mencoreng integritas penyelenggara pemilu. Mestinya komisioner KPU harus mampu membangun sistem yang mendukung implementasi tata kelola kepemiluan yang baik bercirikan jujur, adil, transparan dan profesional. Jika integritas itu hancur lebur bisa menyebabkan krisis demokrasi.

Kasus suap dan fraud (kecurangan ) yang dilakukan oleh komisioner KPU tingkat pusat maupun daerah bisa berimplikasi  terjadinya kecurangan/manipulasi dalam pemilu, baik dalam skala besar maupun kecil. (TS).*

komisioner KPU ditangkap

Related Post

Leave a reply