Teatrikal dan Flashmob dalam Aksi Unjuk Rasa Serikat Pekerja

243 views

Sepanjang bulan Agustus ini berbagai organisasi serikat pekerja/buruh berencana melakukan aksi unjuk rasa menolak revisi Undang-undang Ketenagakerjaan. Aksi besar-besaran akan dilakukan tanggal 21 Agustus 2019 dengan sasaran Istana Merdeka, Mahkamah Konstitusi dan DPR/MPR RI.

Aksi teatrikal oleh anggota serikat pekerja (Foto Istimewa)

Reaktor.co.id – Efektivitas unjuk rasa atau demonstrasi oleh serikat pekerja/buruh ditentukan oleh beberapa faktor. Namun kini ada faktor yang cukup menentukan yakni faktor militansi, kreativitas teatrikal, viralisasi flashmob, alat peraga unik dan kemampuan orasi para tokoh SP.

Koordinator aksi 21 Agustus dari FSP LEM SPSI, Akhmad Jazuli dihubungi Reaktor.co.id hari ini menyatakan bahwa aksi akan difokuskan di Istana Negara dan Mahkamah Konstitusi.

“Bentuk aksi agak berbeda dengan aksi selama ini, agar tujuan unjuk rasa bisa tercapai dan lebih efektif. Selain itu aksi unjuk rasa  mengundang para tokoh publik. Telah disiapkan media sepanjang 1000 meter untuk tanda tangan menolak revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” kata Jazuli.

Jazuli juga menerangkan bahwa Pengurus Pusat, DPD,DPC hingga PUK sudah siap pada hari H. Bahkan beberapa PUK telah merancang secara istimewa seperti menyiapkan mobil komando dengan berbagai perangkat, alat peraga dan beberapa atraksi sebagai kejutan. Juga menyiapkan formasi Barisan Pelopor (BAPOR) yang optimal.

Aksi unjuk rasa diselingi flashmob berlatar bendera (Foto Istimewa)

Flashmob Serikat Pekerja

Efektivitas adalah pencapaian tujuan unjuk rasa secara tepat. Aksi unjuk rasa Serikat Pekerja (SP) membutuhkan event organizer (EO) yang berasal dari internal organisasi. Selain sebagai panitia aksi unjuk rasa, EO dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun rangkaian acara unjuk rasa.

EO juga harus jeli menyusun barisan atau arak-arakan massa serta tepat memilih alat peraga, simbol dan bila mana perlu tentang konfigurasi dan aksi teaktrikal. Flashmob bisa dilakukan peserta secara serentak, maupun dilakukan masing masing setiap unit kerja (PUK).

Aksi unjuk rasa yang monoton kurang mendapat perhatian publik dan sulit mendapat porsi pemberitaan media massa. Seni teatrikal selain menghibur juga mampu membangkitkan solidaritas.

Seni teatrikal dalam aksi unjuk rasa ( Foto Istimewa)

Teatrikal yang disertai dengan peraga dan ikon yang menjadi tuntutan aksi unjuk rasa sangat efektif untuk mendapatkan simpati publik. Selain itu pesan-pesan unjuk rasa bisa viral dan memiliki nilai lebih bagi media massa.

Flashmob pada prinsipnya adalah nyanyian atau yel-yel yang terpadu dalam gerakan massa serentak, kemudian direkam atau diliput dengan berbagai media lalu disebarkan lewat media sosial agar viral. Teriakan atau yel yel terkait tema unjuk rasa sebaiknya sudah disusun oleh EO atau panitia.

Flashmob yang unik perlu dirancang dan setelah dilakukan langsung diunggah dan diviralkan oleh masing masing masing peserta demo dan para jurnalis yang hadir. Perlu dicari tempat yg tepat dan latar yang relevan untuk Flashmob. Perlu dibuat ikon atau lambang tuntutan aksi, bisa berupa patung atau wujud tertentu, yang punya fotogenic atau pesona foto untuk kalangan media massa.

Barisan Pelopor sedang mengawal unjuk rasa SP ( Foto Media BAPOR LEM SPSI)

Peran Satuan Khusus

Peran satuan khusus serikat pekerja sangat penting dalam aksi unjuk rasa. Satuan atau pasukan khusus serikat pekerja mampu menciptakan deterrent effect atau daya getar kepada pihak lain. Hampir semua serikat pekerja memiliki pasukan khusus. Untuk FSP LEM SPSI ada pasukan khusus yang bernama BAPOR ( Barisan Pelopor), di FSPMI bernama Garda Metal.

BAPOR maupun Garda Metal memiliki fungsi yang sama sebagai pelindung organisasi, penegak disiplin, pembangkit solidaritas, pendorong konsolidasi organisasi serta bisa digerakkan dalam kondisi darurat seperti bla terjadi bencana alam atau kerusuhan sosial politik.

Militansi organisasi serikat pekerja bisa diukur dari kondisi pasukan khusus diatas. Miitansi merupakan modal yang sangat berharga bagi organisasi. Miltansi Serikat Pekerja menandakan semangat tinggi dan etos yang menggelegar dalam mencapai tujuan. Militansi berasal dari kata Latin ‘militare’, yang berarti kesetiaan mengabdi layaknya seorang tentara serta ketangguhan dalam berjuang.

Training militansi serikat pekerja ( Foto SP KEP SPSI )

Tidak mudah untuk menjadi anggota satuan khusus, seperti BAPOR atau Garda Metal. Mesti mengikuti diklatsar untuk digembleng dengan keras guna mencetak anggota yang militan, kuat mental dan tinggi solidaritas.

Dalam aksi unjuk rasa pasukan khusus SP mampu membuat aksi berjalan aman dan tertib, sehingga apa yang menjadi harapan dalam perjuangan melalui aksi massa bisa mencapai target, mendapat perhatian serius. Serta mampu menjadi bahan pemberitaan media massa secara luas.

Pasukan khusus SP selain berperan sebagai diterent efek juga berhasilan menggerakkan massa untuk meningkatkan eskalasi gerakan SP di Indonesia. Eksistensi pasukan khusus SP telah menghadirkan semangat baru dalam perjuangan serikat pekerja. Satuan khusus ini secara konsisten dan sigap telah mengawal setiap aksi massa yang dilakukan SP baik dalam tingkat nasional maupun daerah untuk memastikan aksi berjalan aman dan tertib. (Totoksis).*

barisan pelopor flashmob serikat pekerja teatrikal dalam unjuk rasa

Related Post

Leave a reply