Syarat Omnibus Law Diterapkan di Indonesia

119 views

Indonesia menganut sistem civil law, namun konsep omnibus law bisa diterapkan dengan syarat. Indonesia tidak menganut UU Payung karena posisi seluruh UU adalah sama. Omnibus law untuk mengharmonisasikan aturan, jangan sampai justru disalahgunakan untuk melindungi kepentingan koruptor dan tidak sesuai dengan semangat UU yang diharmonisasi.

Reaktor.co.id– Rencana pemerintah mengeluarkan omnibus law dinilai dapat menjadi salah satu solusi penting mengharmonisasikan berbagai aturan di Indonesia. Sebab, saat ini masih banyak terjadi tumpang tindih aturan sehingga menyebabkan ketidakpastian regulasi. Padahal, kepastian aturan menjadi salah satu perhatian utama bagi investor.

Anggota Dewan Pewakilan Daerah (DPD) RI, Jimly Asshiddiqie, menilai kebutuhan untuk mengharmonisasi peraturan di Indonesia sangat diperlukan karena banyak peraturan masih berlaku secara de jure, tapi dalam praktiknya tidak ada. Bahkan, menurutnya, masih ada aturan yang diterapkan dalam praktik, padahal tidak berlaku lagi.

Jimly menuturkan, melalui omnibus law yang merupakan beleid, penggabungan sejumlah aturan menjadi satu UU sebagai payung hukum baru tersebut, pemerintah bisa membangun suatu sistem yang dapat menata ulang perundang-undangan di Indonesia.

“Dalam perumusan, pengkajian, dan pengeksekusian omnibus law tidak hanya tugas dari pemerintah inti saja, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat termasuk kepala biro, kepala staf, hingga LSM,” ujar Jumly, di Kantor Bappenas, Jakarta, (21/10) dikutip Koran Jakarta.

Selain itu, Jimly juga memberikan beberapa masukan untuk mempercepat penerapan omnibus law seperti mengevaluasi UU, PP, dan Perpres mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan secara tepat.

Sebelumnya, dalam pidato pelantikan, Minggu (20/10), Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan omnibus law sebagai salah satu dari lima prioritas yang siap dijalankan dalam lima tahun ke depan. Rencana penyederhanaan dan pemangkasan regulasi dilakukan dengan menerbitkan UU besar, yaitu, UU Cipta Lapangan Kerja dan UU Pemberdayaan UMKM.

“Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU,” kata Presiden Jokowi.

Penunjukkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD untuk bergabung dalam Kabinet Kerja Jilid 2 ditengarai juga untuk memuluskan tekad presiden untuk membentuk beberapa omnibus law.

Jimmy Z Usfunan

Syarat Penerapan

Pakar hukum tata negara, Jimmy Z Usfunan, berpendapat pada dasarnya ada persoalan konflik antara penyelenggara pemerintahan, saat ingin melakukan inovasi atau kebijakan yang kemudian berbenturan dengan peraturan perundang-undangan. Sehingga konsep omnibus law menjadi salah satu jalan keluar yang mungkin bisa diambil oleh pemerintah. Akan tetapi, omnibus law haruslah dilakukan dalam tingkatan UU.

Meski Indonesia menganut sistem civil law, Jimmy berpendapat konsep ini bisa digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi dua hal. Pertama, persoalan kriminalisasi pejabat Negara. Selama ini, katanya, banyak pejabat pemerintah yang takut menggunakan diskresi dalam mengambil kebijakan terkait penggunaan anggaran karena jika terbukti merugi, bisa dijerat dengan UU Tipikor.

“Masalahnya antara UU Administrasi Pemerintah dan UU Tipikor itu ada konflik, karena dalam UU tipikor itu tidak ada elemen yang menunjukkan adanya niat jahat atau mens rea. Oleh sebab itu, aparat penegak hukum selalu melihat dari kaca mata positivis hanya untuk perbuatan ketika perbuatan ini dilakukan dan ada kerugian Negara maka di situ kena, sedangkan di UU Administrasi Pemerintah dibolehkan adanya diskresi.

Menurutnya, jika pemerintah ingin menggunakan omnibus law untuk mengatasi persoalan ini, bisa saja dibuat UU baru dengan konsep omnibus law. Selama ini, antara diskresi dan tindak pidana korupsi memang terus menimbulkan persoalan bagi pengambil kebijakan, namun tidak semua diskresi selalu mengandung tindak pidana korupsi.

UU baru bisa menegaskan tentang mensrea atau niat jahat dari pengambil diskresi. Omnibus law menjadi pelindung bagi pejabat daerah yang ingin melakukan inovasi dan kreasi untuk kemajuan ekonomi dan investasi.

Namun, Jimmy mengingatkan bahwa jika sudah dibentuk UU baru untuk mengharmonisasikan dua aturan ini, maka jangan sampai UU baru justru disalahgunakan untuk melindungi kepentingan koruptor dan tidak sesuai dengan semangat UU yang diharmonisasi, misalnya pemberantasan korupsi dari UU Tipikor.

Kedua, omnibus law bisa digunakan di Indonesia untuk penyeragaman kebijakan pusat dan daerah dalam menunjang iklim investasi. Berkenaan dengan hal ini, lanjutnya, omnibus law bisa menjadi cara singkat sebagai solusi peraturan perundang-undangan yang saling berbenturan, baik secara vertical maupun horizontal.

Hanya saja, kata Jimmy, persoalan yang akan muncul adalah mengenai kedudukan UU hasil omnibus law ini. Secara teori perundang-undangan di Indonesia, kedudukan UU dari konsep omnibus law belum diatur. Jika melihat sistem perundang-undangan di Indonesia, UU hasil konsep omnibus law bisa mengarah sebagai UU Payung karena mengatur secara menyeluruh dan kemudian mempunyai kekuatan terhadap aturan yang lain. Tetapi, Indonesia justru tidak menganut UU Payung karena posisi seluruh UU adalah sama.

“Hanya saja menjadi persoalan secara teori peraturan perundang-undangan mengenai kedudukannya, sehingga kedudukannya harus diberikan legitimasi dalam UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Harus direvisi,” jelas Dosen Universitas Udayana, dikutip Hukumonline.

Bagaimana jika tidak dilakukan revisi terhadap UU No. 12 Tahun 2011? Menurut Jimmy, harus dilihat bagaimana isi ketentuan di dalam UU Payung tersebut, apakah bersifat umum atau detail seperti UU biasa.

Jika bersifat umum, maka tidak semua ketentuan yang dicabut melainkan hanya yang bertentangan saja. Tetapi jika ketentuannya umum, akan menjadi soal jika dibenturkan dengan asas lex spesialis derogat legi generalis (aturan yang khusus mengesampingkan aturan yang umum. Oleh sebab itu, harus diatur dalam hierarki perundang-undangan perihal kedudukannya.

“Dan perlu dipahami bahwa terdapat keinginan kuat dari pusat terhadap peningkatan investasi, tapi bagaimanapun ada investasi tertentu yang tidak bisa diterima oleh daerah karena dianggap dapat memudarkan nilai kultural masyarakat setempat. Sehingga perlu hati- hati mengaturnya,” tambah Jimmy.

Selain itu Jimmy mengatakan meski omnibus law dimungkinkan di Indonesia, ia mengingatkan jangan sampai omnibus law memunculkan persoalan dalam penghormatan terhadap otonomi daerah yang menekankan pada kehendak daerah mengatur daerahnya.

Karena dengan adanya omnibus law, maka secara otomatis peraturan tingkat daerah juga harus mematuhi aturan baru dari konsep omnibus law. (TS).*

kedudukan Undang-Undang penerapan omnibus law

Related Post

Leave a reply