Solusi Pekerja Migran Terjerat Kasus Hukum

102 views

Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Eti Ruhaeti sebentar lagi dibebaskan, menyusul telah terpenuhinya “diyat” atau tebusan uang kepada keluarga ahli waris majikannya. Eti pekerja migran berasal dari Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, sebelumnya terjerat kasus hukum di Arab Saudi. Diyat senilai 4 juta riyal atau sekitar Rp 15,2 miliar, terwujud berkat penggalangan dana dari para dermawan di Tanah Air.

Usaha pembebasan Eti Ruhaeti ( foto istimewa )

Reaktor.co.id – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh sudah mengirimkan nota diplomatik kepada Kerajaan Arab Saudi dan meminta Eti bisa segera dibebaskan dan dipulangkan ke Indonesia.
Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat M Ade Afriandi, seperti yang dilansir oleh harian Pikiran Rakyat (13/07), pihaknya telah memastikan ihwal pembebasan Eti dengan mengontak langsung Konsul Jenderal RI di Jeddah dan pejabat PWNI-BHI Kemlu, yang menangani kasus Eti. “Kini Eti sedang menunggu proses administarsi dari Mahkamah Pengampunan di Arab Saudi,” ujar Ade.

Peluncuran aplikasi SIPMI (foto Kemnaker)

Urgensi SIPMI

Beragamnya masalah yang dihadapi pekerja migran, serta semakin banyak yang terjerat kasus hukum di negara asing, maka diperlukan sistem cerdas untuk pencegahan. Keberadaan Sistem Informasi Pekerja Migran Indonesia (SIPMI) perlu dioptimalkan. SIPMI adalah aplikasi yang bisa dipasang lewat Google Play, yang dapat membantu pekerja migran Indonesia dan keluarganya, calon pekerja migran Indonesia dan purna pekerja migran Indonesia, sekaligus menjembatani alur informasi antara pekerja migran Indonesia, keluarga dan pemerintah secara langsung.

Menteri Tenaga Kerja (Menaker) M Hanif Dhakiri mengatakan, SIPMI merupakan bentuk perlindungan terhadap pekerja migran yang aman dan terlindungi. Aplikasi SIPMI ini sebuah terobosan besar dari pemerintah Indonesia khususnya Kemnaker.

“Aplikasi ini memiliki tiga prioritas manfaat, pertama sebagai media komunikasi yang mana dapat menunjang kebutuhan migran Indonesia untuk berkomunikasi secara personal maupun mengelola aktivitas grup. Seperti personal chating, grup chating, get and share location, baik sesama pekerja migran maupun dengan keluarganya,” ujar Hanif saat peresmian aplikasi.

Prioritas kedua dari aplikasi ini adalah sebagai sumber informasi migran baik dari sesama pekerja maupun dari pemerintah. Tak hanya itu, Aplikasi ini juga dapat memberikan perlindungan proteksi bagi para pekerja migran Indonesia di Luar Negri dari segi informasi.

Banyaknya kasus hukum yang menjerat pekerja migran, khususnya yang tergolong hukuman mati, merupakan pelajaran pahit bagi bangsa yang harus dicarikan solusinya. Pasalnya masih banyak PMI yang terjerat kasus hukum di luar negeri.

Solusinya bisa lebih rumit jika pekerja migran tersebut termasuk pekerja ilegal. Kondisi PMI sangat rentan dijerumuskan sebagai pelaku tindak kejahatan. Sangat banyak pekerja ilegal yang kerja di LN tidak memiliki visa kerja. Menurut catatan Direktur Perlindungan WNI dan PMI Kementerian Luar Negeri dalam tempo enam bulan saja terjadi sekitar 29 ribu kasus yang menjerat TKI di luar negeri. Bahkan pada 2017 tercatat sebanyak 229 pekerja migran asal Indonesia terancam hukuman mati karena berbagai kasus hukum.

SIPMI diharapkan dapat meningkatkan kualitas TKI yang akan bekerja ke luar negeri, sekaligus memperkuat perlindungan. Sistem bersifat business inteligence sehingga bisa mencegah kemungkinan penyimpangan atau pemalsuan. Karena sifatnya yang inteligence atau cerdas maka sistem mesti bisa membantu pihak pemerintah daerah dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk menggunakan data seoptimal mungkin. Karena selama ini pemerintah daerah sepertinya kurang berdaya menghadapi deretan panjang pekerja migran yang dinyatakan hilang.

Dengan sistem diatas pemerintah daerah bisa semakin mudah dalam memperbaiki layanan dengan memberdayakan lembaga atau komunitas keluarga pekerja migran serta membangun sistem informasi yang terkait dengan berbagai aspek ketenagakerjaan. (Totoksis).*

kasus hukum PMI SIPMI

Related Post

Leave a reply