Salat Istisqa dan Solusi Ilmiah Kekeringan

119 views

Menghadapi bencana kekeringan akibat kemarau berkepanjangan diselenggarakan salat Istisqa atau salat meminta hujan. Selain memohon pertolongan kepada Tuhan, bencana kekeringan mesti diatasi dengan mitigasi kekeringan dengan solusi teknologi.

Jamaah Salat Istisqa (ilustrasi)

Reaktor.co.id – Presiden Jokowi mengikuti Salat Istisqa di Masjid Amrullah, Kompleks Pangkalan TNI Angkatan Udara Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru, menyusul kemarau panjang yang melanda Tanah Air. Salat Istisqa diimami oleh Dr. Khairunnas Jamal, M.Ag, sementara khatib ialah Dr. H. M. Fakhri, M.A.

Penyelenggaraan salat Istisqa oleh petinggi negara dan para kepala daerah bersama masyarakat sebaiknya juga disertai dengan langkah ilmiah dan solusi teknologi untuk menghadapi kekeringan.

Syekh Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami menyebut cara salat istisqa dua rakaat serupa dengan salat dua rakaat salat Id. Hanya saja, cara salat keduanya berbeda sedikit dalam hal penempatan khutbah, pembacaan takbir, dan arah khatib pada khutbah kedua. Selebihnya kedua salat ini secara umum sama.

ويصلون ركعتين كالعيد بتكبيراته ويخطب خطبتين أو واحدة وبعدها أفضل واستغفر الله بدل التكبير ويدعو في الأولى جهرا ويستقبل القبلة بعد ثلث الخطبة الثانية وحول الإمام والناس ثيابهم حينئذ وبالغ فيها في الدعاء سرا وجهرا ثم استقبل الناس

Artinya, “Mereka salat istisqa sebanyak dua rakaat seperti shalat Id berikut takbirnya. Seseorang yang menjadi khatib kemudian menyampaikan khutbah dua atau sekali. Khutbah setelah shalat lebih utama. Khatib beristighfar dalam khutbah sebagai pengganti takbir pada khutbah Id. Khatib berdoa dengan jahar (lantang), lalu menghadap kiblat setelah lewat sepertiga pada khutbah kedua. Khatib dan jamaah memutar pakaian (selendang atau sorban) ketika itu. Pada saat itu, khatib meningkatkan kesungguhan berdoa sirr (rahasia) dan jahar (lantang), setelah itu ia kembali menghadap ke arah jamaah,”

Sebagaimana salat Id, orang yang salat istisqa juga dianjurkan bertakbir dan mengangkat kedua tangan sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua.

Setelah salat dua rakaat, khatib menyampaikan khutbah salat istisqa. Hanya saja khitb mengganti lafal takbir dengan lafal istighfar karena lafal ini lebih sesuai dibandingkan lafal takbir dalam konteks meminta hujan.

Berikut ringkasan tata cara salat Istisqa :

1. Salat dua rakaat.
2. Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
3. Rakaat kedua takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
4. Khutbah dua atau sekali sebelum (atau setelah) shalat. Khutbah setelahshalat lebih utama.
5. Sebelum masuk khutbah pertama khatib membaca istighfar sembilan kali.
6. Sebelum masuk khutbah kedua khatib membaca istighfar tujuh kali.
7. Perbanyak doa dalam khutbah kedua. Wallahu a‘lam.

Masyarakat pedesaan mencari air untuk minum ( istimewa )

Mengatasi Kekeringan

Kekeringan merupakan sesuatu yang ironis bagi negeri ini, mengingat sumber daya air yang selama ini melimpah namun belum terkelola dengan baik. Mestinya kekeringan yang merupakan agenda alam tahunan diantisipasi dengan baik. Perlu manajemen dan inovasi pengairan saat musim kemarau.

Definisi ilmiah dari kekeringan adalah kekurangan curah hujan dari biasanya atau kondisi normal. Bila terjadi berkepanjangan sampai mencapai satu musim atau lebih panjang akan mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan air.

Keparahan kekeringan atau drought severity tidak hanya terkait hanya pada durasi, intensitas dan sebaran spasial saja, melainkan pada kebutuhan air manusia dan tanaman yang ada dalam sistem wilayah suplai airnya. Kejadian kekeringan sangat berpengaruh terhadap kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan.

Kekeringan sulit diidentifikasi dan dikuantifikasi. Untuk itu perlu dibuat program penanganan yang menyeluruh dan pelaksanaan tindakan mitigasi yang terpadu yang mengarah pada sistem penanggulangan kekeringan dalam tatanan manajemen risiko.

Kita perlu belajar dari negara lain yang selama ini berhasil mengatasi kekeringan sepanjang waktu. Sistem manajemen kekeringan berbeda pada tiap negara. Kekeringan juga menjadi problem serius di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dengan membentuk lembaga NDMC (National Drought Mitigation Center) yang dikoordinir oleh perguruan tinggi antara lain Universitas Nebraska Lincoln.

Tugas utama badan tersebut adalah membantu masyarakat dan instansi atau lembaga pemerintah melaksanakan tindakan untuk mengurangi kerawanan akibat kekeringan.

India dan Israel sangat serius menangani masalah kekeringan. Selama ini negara tersebut mengalami frekuensi kekeringan yang sangat tinggi. Namun berkat inovasi teknologi pengairan dan sistem monitoring kekeringan yang baik, maka aktivitas pertanian dan kebutuhan air untuk rumah tangga, pertanian dan industri bisa tercukupi.

Ada baiknya kita mencermati Israel yang 95 persen wilayahnya terdiri dari gurun Negev yang sepanjang tahun kondisinya sangat kering. Di daerah tersebut curah hujan rata-rata hanya 280 milimeter tiap tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang sebagian besar wilayahnya memiliki curah hujan antara 2.000 sampai 3.000 milimeter pertahun.

Perkebunan anggur di Gurun Negev (istimewa)

Namun, berkat solusi inovasi teknologi pengairan yang dikenal dengan program Kibbutz, maka gurun tesebut berubah menjadi hutan dan daerah pertanian yang sangat produktif.

Bahkan gurun Negev yang dulunya merupakan tempat yang paling kering dimuka bumi, kini berubah menjadi kolam-kolam perikanan untuk budidaya berbagai jenis ikan air hangat, seperti barramundi, tilapia, bass bergaris dan lain-lain.

Kini gurun Negev memiliki sekitar 350 juta pohon besar berkat program inovasi untuk mengatasi kekeringan ekstrim yang dipelopori oleh para ilmuwan di Institut Weizmann yang mengelola pusat riset Flux Net di Yatir.

Menghadapi kekeringan sebaiknya tidak cukup hanya dengan berdoa. Perlu langkah ilmiah dan sistem monitoring yang andal dan terus menerus. Perlu disiapkan lembaga untuk memonitor dan mencari solusi tepat guna menghadapi kekeringan.

Kita perlu belajar dari India dalam hal monitoring dan manajemen kekeringan. Di negara itu berbagai lembaga terkait dipadukan secermat mungkin, sehingga peta kekeringan dapat digambarkan secara detail. Dalam hal itu digunakan indeks kekeringan Standardized Precipitation Index (SPI) yang juga memperlihatkan suatu korelasi yang baik dengan parameter lain yang mencerminkan kekeringan. Pemerintah India berhasil mengestimasikan SPI untuk berbagai skala waktu dan dipetakan untuk melihat sebaran spasialnya guna tindakan aksi sosial dan solusi teknologi pengairan.

Selama ini kekeringan yang mendera berbagai daerah di Indonesia menyebabkan aktivitas bercocok tanam menjadi stagnan. Kekeringan mengakibatkan pengangguran di perdesaan semakin meningkat. Selain itu usaha peternakan rakyat juga mengalami kesulitan untuk mencari pakan rumput dan dedaunan serta kesulitan memberi minum ternak mereka. Kekeringan adalah siklus tahunan yang mestinya bisa diantisipasi dengan baik. Sehingga kondisi yang memilukan itu tidak terulang terus.

Untuk mengatasi kekeringan perlu langkah terpadu antar disiplin ilmu dan antar kelembagaan. Sehingga ada solusi yang kredibel yang meliputi aspek teknis dan program sosial-ekonomi yang tepat. Antara lain dengan program padat karya yang lebih produktif, partisipatif dan berkelanjutan. Program itu sekaligus juga mengatasi masalah pengangguran akibat terhentinya proses bercocok tanam.

Program padat karya untuk infrastruktur pengairan skala kecil dan menengah seperti pembenahan saluran primer, tersier, pintu air, sepadan sungai, jamban keluarga dan instalasi air bersih akan menimbulkan efek domino yang positif. Karena akan menciptakan lapangan kerja selama musim kemarau. (TS).*

kekekeringan shalat Istisqa

Related Post

Leave a reply