Semen China Ancam Industri dalam Negeri

71 views

Semen China yang murah berkualitas rendah. Konsumen yang mengerti kualitas semen akan menghindari penggunaan Semen China. Perusahaan semen China akan mendirikan pabrik di Ibu Kota Baru RI, Kalimantan Timur.

Semen China

Reaktor.co.id — Produk impor dari China menimbulkan masalah bagi pekerja Indonesia. Setelah impor baja yang menimbulkan PHK di PT Krakatau Steel, impor tekstil yang membuat pabrik tekstil megap-megap, kini pabrik semen dalam negeri digempur impor semen dari China yang juga mengancam industri semen dalam negeri.

Belum lagi “impor” TKA China yang menutup peluang kerja bagi pekerja dalam negeri.

Sejak 1909 hingga 1974, pasar semen Indonesia 100 persen dikuasai Semen Padang, SemenGresik, dan Semen Tonasa. Kini gempuran semen China mengancam dominasi semen dalam negeri. Pasalnya, harga semen China memukul semen dalam negeri.

Harga semen China jauh di bawah harga pokok produksi dan struktur harga produksi, mulai dari bahan baku sampai menjadi semen yang digunakan sehari-hari.

Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSP-ISI) pun tidak tinggal diam. Didampingi politisi Andre Rosiade, FSP-ISI mengadukan semen China kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Menurut Andre, hal yang terpenting dalam membuktikan ada tidaknya pelanggaran pasal 20 UU Nomor 5 Tahun 1999 terkait jual rugi (predatory pricing) adalah dengan menyelidiki struktur biaya perusahaan.

“Industri semen adalah industri yang kompetitif, harga bahan baku antar pabrik relatif sama. Maka aneh bila harga jual Semen Tiongkok (China) ini lebih rendah dari Harga Pokok Produksi. Untuk itu kami sangat yakin bahwa dapat diduga terjadi praktik jual rugi yang dilakukan oleh semen Tiongkok ini,” kata Andre, Senin (9/9/2019).

Dia menjelaskan, berdasarkan simulasi yang dibuat oleh serikat pekerja, harga yang ditawarkan oleh semen China jauh lebih rendah dari harga modalnya.

“Harga modal per sak semen (50 Kg) Rp 53.000, namun semen Tiongkok menjualnya diharga Rp 45.000. Data yang kami gunakan adalah data riil pasar,” jelasnya.

Praktik jual rugi yang dilakukan oleh semen China ini, kata Andre, memang seolah-olah menguntungkan konsumen dijangka pendek karena murahnya harga semen. Namun, lanjut dia, perhatikan jangka panjangnya sebagai contoh kasus matinya Semen Tarjun Indocement di Kalimantan Selatan.

“Semen Tarjun Indocement dulu menjual semennya diharga Rp 53.000 sedangkan harga Semen Tiongkok saat itu di Kalimantan dijual harga Rp 50.000 tapi begitu Tarjun di Kalimantan Selatan pabriknya mati harga semen Tiongkok dikerek diangka Rp 65.000. Inilah yang kita takutkan bila nanti semen lokal kita mati, mereka bisa naikkan harga seenaknya. Kedaulatan kita terancam. Presiden harus perhatikan ini,” paparnya.

“Kami berharap KPPU dapat segera menindaklanjuti bukti-bukti ini, Industri strategis kita dalam bahaya,” imbuh Andre

Pabrik Semen Cina di Kaltim

Andre juga menduga akan ada perusahaan semen asal China yang akan mendirikan perusahaannya di daerah Kalimantan Timur untuk memasok kebutuhan pembangunan infrastruktur di Ibu Kota baru tersebut.

“Patut diduga pembangunan ibu kota baru akan dinikmati oleh pabrik semen Tiongkok baru yang akan dibangun di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Hong Shi namanya. Bayangkan saja ibu kota baru yang akan dibangun sampai Rp 500 triliun kemungkinan besar pabrik semennya pun pabrik semen Hongshi,” kata Andre.

Andre mempertanyakan tujuan pembangunan pabrik Hongshi tersebut, sebab dengan adanya perusahaan asal China tersebut akan menguntungkan beberapa investor asal Tiongkok tersebut.

“Pertanyaannya, pabrik semen baru ini untuk kepentingan bangsa atau untuk memfasilitasi investor-investor Tiongkok yang masuk ke Indonesia?”

Andre memaparkan, saat ini Indonesia mengalami surplus produksi semen sehingga tak perlu lagi ada pabrik semen baru dari China.

Untuk itu, ia meminta Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto untuk menghentikan pembangunan pabrik semen Hongshi.

“Pak Jokowi harus minta Airlangga Hartanto untuk melakukan moratorium pembangunan pabrik semen baru. Karena kita produksi 110 juta ton, konsumsi hanya 75 juta ton. Kita surplus 35 juta ton. Dengan pertumbuhan industri semen hanya 4% per tahun, sampai tahun 2030 kita tidak perlu bangun pabrik baru,” tegas Andre.

Andre menjelaskan, dampak lain apabila industri semen nasional mati, maka buruh-buruh semen terancam kehilangan pekerjaan.

Bahkan, Andre menyebutkan pabrik-pabrik semen nasional sudah mulai melakukan PHK terhadap ratusan buruh semen Indonesia.

“Pabrik semen sudah terjadi PHK itu untuk karyawan outsourcing. Di Baturaja 350 sudah dilepas, di Padang (Semen Padang) pun sudah ada 100-200 dilepas, bahkan mungkin ada 1000an lagi yang dilepas di Padang. Di Holcim 600 karyawan outsourcing dilepas. Yang kontraknya sudah habis itu tidak diperpanjang lagi, dan itu terjadi di seluruh pabrik semen di Indonesia,” tutupnya dilansir Liputan6.com.

Realitas Pasar

Dilansir CNBC Indonesia, produsen semen China terkenal menjual harga semen sangat murah dari produksi merek lokal.

Namun, harga semen murah yang ditawarkan produsen dari prinsipal semen China, macam semen CONCH, Garuda, hingga HIPPO, tak otomatis menarik minat pedagang dan konsumen.

Seorang pemilik Toko Bangunan Trubus 2 di kawasan Jalan Hankam, Jatiwarna, Budi, bercerita, ada beberapa alasan kenapa tak menjual produk semen China, seperti CONCH, Garuda, dan HIPPO.

Pertama, para konsumen memang lebih banyak percaya pada produk semen pemain lama macam Tiga Roda dan lainnya meski harganya lebih mahal.

Kedua, biasanya ia mengaku distributor produk semen China bermasalah, soal konsistensi harga dan pengiriman barang. Ia pernah memang mendapatkan harga semen China Rp30 ribu per sak (ukuran 40kg) saat pengiriman pertama lancar, tapi pengiriman kedua bermasalah.

Ketiga, persoalan kualitas, ia bilang semen CONCH, Garuda, HIPPO, dalam dunia bisnis, masuk kategori semen “Level 3”.

Menurut Budi kualitasnya biasa saja, tak bisa setara dengan produk semen pemain lama macam Tiga Roda dan Holcim.

“Kita tak pakai semen CONCH, HiPPO, Garuda. Kita pakai semen murahnya Rajawali (Tiga Roda) dan semen China merek Semen Jakarta,” katanya

Berdasarkan penelusuran CNBC Indonesia, di kawasan Keranggan-Cibubur, Bekasi, tak ada yang menjual semen CONCH, Garuda, dan HIPPO. Rata-rata pedagang beralasan ingin menjaga konsumennya.

Di pasaran, produk semen merek China ini harganya sangat bersaing, bahkan pemasaran mereka cukup agresif sampai di lapak online.

Semen HIPPO misalnya, untuk ukuran 50 Kg hanya dijual Rp47 ribu, dan ukuran 40 kh hanya Rp37 ribuan. Semen Garuda dibanderol dengan harga Rp44.800 untuk ukuran 50 kg, sedangkan 40 kg hanya Rp35.900.

Bahkan, semen CONCH ukuran 40 Kg di toko Bukalapak ada yang dijual hanya Rp34.300 per sak, dan ukuran 50 Kg dipatok Rp42.900 per sak oleh pelapak di Jakarta, harga ini memang belum termasuk ongkos turun barang tapi relatif sangat murah.

Harga semen lokal macam Tiga Roda ukuran 40 Kg dijual sampai Rp39.800 per sak, bahkan di penjual lainnya yang sama-sama area Jakarta, menjual sampai Rp48 ribu per sak padahal pabriknya dekat dengan Jakarta.

Ukuran 50 kg, harganya dijual ada yang sampai Rp54.400 per sak. Semen Gresik salah satu pemain lokal, juga menjual cukup mahal, ukuran 40 kg dijual Rp 40.400 per sak, dan ukuran 50 kg dibanderol Rp50.500 per sak.

Prinsipal semen China sudah memproduksi langsung semennya di Indonesia. Beberapa produk semen yang prinsipalnya dari China menggunakan nama-nama “lokal”, misalnya PT Jui Shin Indonesia di Bekasi memiliki produk semen bernama “Semen Garuda”.

Di pasar, harga semen ini sangat bersaing, Semen Garuda dibanderol dengan harga Rp44.800 untuk ukuran 50 kg, sedangkan 40 kg hanya Rp35.900.

Ada nama lain yaitu “Semen Jakarta”, di bawah PT Semen Jakarta  di Banten. Di pasar, harga semen ini sangat kompetitif, di toko online Tokopedia misalnya untuk semen 50 kg hanya dibanderol Rp41.300, dan kemasan 40 Kg harganya Rp33 ribu saja.

Nama-nama produk semen yang ada di pasar Indonesia lainnya juga unik, misalnya “Semen Merah Putih” produk PT Cemindo Gemilang ini merupakan patungan perusahaan Indonesia dengan Singapura.

Ancam Industri Dalam Negeri

Pemerintah yang gencar mengimpor produk, terutama produk China, jelas mengancam industri dalam negeri yang bisa berakhir dengan kebangkrutan dan PHK.

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi, barang-barang China akan makin membanjiri Indonesia. Pemerintah diminta memperketat impor barang dari Negeri Tirai Bambu itu.

Dilansir laman resmi Kementerian Perindustrian, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Adi Lumaksono mengatakan, serbuan barang dari Cina akan semakin masif dan mulai terlihat pada Agustus ini. Barang dari Cina akan banyak karena harganya semakin murah.

Berdasarkan data BPS, tanpa ada devaluasi saja China terus menjadi pengimpor barang terbanyak ke Indonesia dengan nilai 24,miliar dolar AS atau 16,5 persen dari jumlah impor.

Masih dilansir laman Kemenperin, banjir produk China bisa membunuh industri lokal. Menurut pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada, Rimawan Pradiktyo, sudah seharusnya pemerintah bisa membendung masuknya produk impor, khususnya dari China, dan meningkatkan daya saing di dalam negeri.

Rimawan memaparkan, produk China dengan harga yang jauh lebih murah sangat diminati konsumen di Indonesia, sehingga dikhawatirkan akan menggeser produk lokal yang harganya jauh lebih mahal.

“Apabila pemerintah tidak melakukan pengaturan terhadap masuknya produk China, maka dampaknya akan sangat besar,” paparnya.

Produk China, menurut Rimawan, bisa mengungguli produk lokal yang harganya jauh lebih tinggi, sehingga produk lokal tidak diminati konsumen.

Kondisi ini pada gilirannya akan mematikan perusahaan lokal. Akibat dari semua itu maka perusahaan lokal akan ditutup dan meningkatkan pengangguran di dalam negeri.

“Kondisi ini akan mendorong investasi asing makin berkurang karena mereka mengalihkan dananya ke negara lain yang akan dijadikan basis produksi ke pasar Indonesia. Hal ini akan menekan ekspor Indonesia ke pasar dan impor barang dari negara lain akan makin banyak masuk ke Indonesia,” paparnya. (RL).*

 

Semen China

Related Post

Leave a reply