Selamat Hari Pahlawan 10 November 2019

27 views

Hari Pahlawan

TIAP tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Tanggal 10 November sendiri adalah momentum perlawanan bangsa Indonesia di Kota Surabaya melawan pasukan sekutu.

Bersama ribuan tentara Belanda, pasukan sekutu (NICA) menyerbu Indonesia pada 29 September 1945 dengan dalih menghalau tentara Jepang. Bangsa Indonesia memandangnya sebagai upaya Belanda untuk kembali menduduki Indonesia.

Terjadilah pertempuran di berbagai tempat antara pasukan sekutu dengan tentara Indonesia. Klimaksnya terjadi pada 10 November 1945 yang dikenal sebagai “Pertempuran Surabaya”. Ribuan rakyat Indonesia gugur.

Inggris dan NICA melalui Mayor Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Indonesia untuk menyerah tanggal 10 November pagi hari.

Namun, di batas ultimatum tersebut rakyat Surabaya menjawabnya dengan meningkatkan perlawanan secara besar-besaran. Salah satu pimpinan perlawanan tersebut adalah Bung Tomo, penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama tahun 1995.

Di Radio NIROM (stasiun radio milik Belanda yang berhasil diambil alih arek-arek Suroboyo), Bung Tomo –Pemimpin Besar Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia (BPRI) — melakukan pidato yang berkobar-kobar untuk membakar semangat para pemuda Surabaya dan sekitarnya untuk melawan pasukan sekutu.

Darinyalah lahir pekikan yang kini sangat terkenal, “Merdeka atau Mati” dan “Maju Terus Pantang Mundur”, dan pekikan-pekikan lainnya mendorong keberanian untuk berjuang.

“Perang Surabaya” melibatkan pasukan sekutu dengan 30.000 serdadu (26.000 didatangkan dari Divisi ke-5 dengan dilengkapi 24 tank Sherman) dan 50 pesawat tempur dan beberapa kapal perang.

Perang ini menimbulkan perlawanan lain di semua kota, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, sampai dengan aksi membakar kota 24 Maret 1946 dan Mohammad Toha meledakkan gudang amunisi Belanda, Palagan Ambarawa, Medan, Brastagi, Bangka dan lain-lain.

Perlawanan ini terus berlanjut baik dengan senjata maupun dengan negosiasi para pimpinan negeri seperti Perjanjian Linggajati di Kuningan, perjanjian di atas kapal Renville, Perjanjian Roem-Royen, sampai akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, tahun 1949.

Satu hal yang sering dilupakan. Bung Tomo dan para pemimpin perlawanan Indonesia mengobarkan semangat juang dengan pekik takbir “Allahu Akbar”.

DALAM persepsi umum, “pahlawan” itu gabungan kata “pahala” dan “wan”. Artinya, “orang yang berpahala”, merujuk pada makna istilah berakhiran “wan” seperti “wartawan” (orang yang meliput dan menulis berita), “hartawan” (orang yang berharta banyak), “dermawan” (orang yang berderma), dan sebagainya.

Lalu, apa itu pahala?

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pahala artinya “buah (ganjaran) perbuatan baik”; berpahala = berbuat kebaikan; berbuat jasa. Sedangkan “pahlawan” diartikan sebagai “(orang yang) sangat gagah berani; pejuang yang gagah berani atau yang terkemuka”.

Menurut Kamus Besar Indonesia, pahlawan adalah “pejuang yang gagah berani, atau orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran”.

Dengan demikian, kalau disimpulkan, pahlawan adalah orang yang berjuang menegakkan kebaikan dan membela kebenaran.

Namun demikian, makna pahlawan sekarang meluas, sangat luas, yakni setiap orang yang berbuat baik atau berjasa bagi kebaikan orang lain. Guru disebut pahlawan (tanpa tanda jasa) karena kebaikannya mendidik; pencetak gol dalam pertandingan sepakbola disebut pahlawan karena menjadikan timnya menang; TKI/TKW disebut pahlawan devisa karena mendatangkan uang dari luar negeri; dan sebagainya.

Jelas, para pejuang kemerdekaan, seperti Diponegoro, Soedirman, Moh. Natsir, dan sederet nama besar lainnya adalah pahlawan. Mereka berjuang demi kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan. Mereka adalah pahlawan yang muncul pada masa perjuangan melawan penjajahan dan memerdekakan bangsa-negara ini.

Pahlawan muncul dalam situasi perjuangan, situasi krisis. Mereka berada di barisan depan (kadang juga di belakang) dalam perjuangan itu atau dalam mengatasi krisis. Sekarang, Indonesia dalam krisis multidimensi. Jelas, butuh perjuangan mengatasi krisis ini. Para pejuangnya bisa disebut pahlawan –dengan syarat mereka ikhlas, tanpa pamrih, sebagaimana para pejuang kemerdekaan dulu.

Pejuang yang memerangi kemiskinan adalah pahlawan. Orang yang berjuang memberantas korupsi adalah pahlawan. Orang yang berjuang untuk mengubah negeri ini menjadi sejahtera lahir-batin, makmur, aman, dan damai adalah pahlawan. Demikian juga yang menegakkan keadilan. Pendek kata, pejuang penegak kebenaran dan kebaikan adalah pahlawan.*

 

Hari Pahlawan Pahlawan

Related Post

Leave a reply