Sejumlah Wartawan Dianiaya dan Diintimidasi Aparat saat Liput Demo Mahasiswa

179 views

Oknum polisi yang memukul wartawan Antara, Darwin Fathir, saat meliput demo mahasiswa di depan Gedung DPRD Sulsel, Makassar, Selasa (24/9/2019) (Dok. Agus Dian-AJI Makassar)

Reaktor.co.id – Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, wartawan/jurnalis dilindungi oleh Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers). UU Pers mengatur, wartawan tidak boleh dihalang-halangi oleh siapa pun saat menjalankan tugas profesionalnya.

Namun, keberadaan UU Pers sebagai payung hukum profesi wartawan telah diabaikan oleh oknum-oknum aparat kepolisian. Contoh kasus teranyar, dan menjadi viral di media sosial (Medsos), adalah tindakan penganiayaan oknum polisi terhadap tiga wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Wartawan Antara Makassar, Darwin Fathir, menjadi korban penganiayaan oknum aparat polisi

Tiga wartawan mengalami kekerasan oleh sejumlah oknum aparat kepolisian saat meliput demo mahasiswa di depan Gedung DPRD Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Selasa (24/9/2019) sore.

Ketiga jurnalis itu, yakni Muhammad Darwin Fathir wartawan LKBN Antara, Saiful wartawan media online inikata.com (Sultra), dan Ishak Pasabuan wartawan media online Makassartoday.com.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar memprotes keras perlakuan oknum kepolisian itu. Dikutip dari tirto.id, Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir, menjelaskan kronologinya. Darwin Fathir dikeroyok oleh polisi di depan kantor DPRD Sulsel. Dia diseret, dipukuli, ditendang dan dihantam menggunakan pentungan di tengah-tengah kerumunan polisi.

“Padahal dalam menjalankan tugas jurnalistiknya Darwin telah dilengkapi dengan atribut dan identitas jurnalis berupa ID Card Antara,” ujar Nurdin, Selasa (24/9/2019).

AJI Makassar memiliki bukti rekaman video dan foto yang menunjukkan pemukulan aparat kepada Darwin. Akan halnya Saiful, ia dipukul dengan pentungan dan kepala di bagian wajahnya oleh polisi. Penganiayaan itu diduga karena polisi tak terima saat Saiful masih memotret polisi yang memukul mundur para demonstran dengan gas air mata dan water cannon.

Padahal, Saiful telah memperlihatkan identitas lengkapnya sebagai seorang jurnalis yang sementara menjalankan tugas jurnalistik, peliput demonstrasi. Alih-alih memahami, polisi justru dengan tetap memukul Saiful. Saiful menderita luka lebam, di mata kiri dan kanannya akibat hantaman benda tumpul aparat. Ishak juga dilarang mengambil gambar saat polisi terlibat bentrok dengan demonstran. Ishak, ujar Nurdin, diduga dihantam benda tumpul oleh polisi di bagian kepala.

“Kami mendesak Kapolda Sulsel memproses tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera. Sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang,” tandas AJI Makassar.

Wajah oknum polisi yang arogan intimidasi wartawati peliput aksi demonstrasi mahasiswa di DPR RI Senayan, Jakarta

Perlakuan intimidatif juga dialami seorang wartawati yang tengah meliput aksi demonstrasi mahasiswa di bilangan Gedung DPR RI, Senayan Jakarta, Selasa (24 September 2019) sore.

Dalam video yang viral di medsos, terlihat seorang wartawati tengah meliput aksi demonstrasi mahasiswa. Saat akan mengambil gambar untuk kepentingan jurnalistik, terlihat seorang oknum polisi justru ingin merebut ponsel pintar (smartphone) milik sang wartawati.

Sejumlah sumber menyebutkan, kejadian itu berlangsung di gedung JCC Senayan. Bahkan ada yang menyebut wartawati itu adalah reporter dari Kompas.

Sang wartawati menolak permintaan oknum polisi. Sehingga terjadi adu mulut antar keduanya.

Ngapain kamu videoin,” tanya oknum polisi yang dengan nada intimidatif.

“Saya wartawan pak,” kata wartawati itu.

Oknum polisi itu kembali meminta paksa smartphone milik wartawati tersebut. Bahkan oknum polisi itu dengan sikap arogan tak mau tahu tentang aturan dalam UU Pers yang jadi dasar hukum kerja wartawan.

“Bapak diam yah, bapak tahu UU Pers nggak?” kata wartawati.

Nggak, saya nggak mau tahu,” timpal si oknum polisi.

Wartawan TVRI Sulteng,Rian Saputra, yang kamera dan hasil rekamannya dirampas dan dihapus oknum polisi Polda Sulteng

Kejadian terulang lagi di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Kali ini dialami wartawan/cameramen TVRI Sulteng, Rian Saputra. Kamera Rian Saputra dirampas dan dihapus secara semena-mena oleh seorang oknum polisi setelah ia mengabadikan aksi polisi membubarkan aksi demonstrasi mahasiswa di Jalan Raden Saleh, sekitar 200-an meter dari Gedung DPRD Sulawesi Tengah, Rabu (25 September 2019), sekitar pukul 16.00 wita.

Rian dihalang-halangi saat merekam pembubaran aksi oleh polisi. Kamera Rian juga dirampas bahkan video hasil rekamannya dihapus oleh oknum polisi. Setelah menghapus rekaman polisi lalu mengembalikan kamera milik Rian.

Dilansir kabarselebes, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulteng dan AJI Kota Palu langsung menyatakan membuat laporan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulteng atas perlakuan buruk oknum polisi yang diduga bertugas di Polres Palu itu kepada Rian.

Aturan UU Pers

Sebagai informasi, ketentuan Pasal 4 UU Pers menjamin kemerdekaan pers, dan pers nasional memiliki hak mencari, memperoleh dan menyebar luaskan gagasan dan informasi.

Selanjutnya, ketentuan Pasal 8 UU Pers menyatakan, dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. Karenanya, tindak kekerasan dan intimidasi aparat kepolisian terhadap wartawan melanggar UU Pers.

UU Pers juga mengatur sanksi bagi mereka yang menghalang-halangi tugas jurnalistik wartawan. Pasal 18 UU Pers menggariskan: ”Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.”  (AF)*

intimidasi Jurnalis reaktor tugas jurnalistik UU Pers Wartawan

Related Post

  1. author

    […] Baca: Wartawan Dianiaya dan Diintimidasi Aparat saat Liput Demo Mahasiswa […]

Leave a reply