Sarat Nilai Sejarah, PT Pos Indonesia Mesti Diselamatkan

152 views

Kondisi PT Pos Indonesia (Posindo) sedang oleng seperti yang diperbincangkan dalam media sosial terakhir ini. Krisis yang mendera BUMN itu ditunjukkan oleh Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPI) dalam berbagai aksi unjuk rasa. Kondisi perusahaan yang krisis menyebabkan karyawan sering terlambat menerima gaji.

Ujung tombak PT Posindo sedang bergerak (foto istimewa)

Reaktor.co.id – Ironis, Posindo yang memiliki cabang di seluruh kecamatan kini didera masalah keuangan yang serius. Pemerintahan Jokowi mesti segera mengatasinya, agar penyakit yang diderita perusahaan plat merah itu tidak semakin kronis.

Portofolio usaha Posindo yang meliputi jasa kurir, jasa keuangan, jasa ritel, dan properti saat ini sulit bersaing karena model bisnisnya belum ditransformasikan secara tuntas. Inilah kegagalan Kementerian BUMN sebagai pengelola.

Sejarah mencatat keberadaan Pos Indonesia begitu panjang, Kantor Pos pertama didirikan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff pada tanggal 26 Agustus 1746 dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang dari kantor-kantor di luar Jawa dan bagi mereka yang datang dari dan pergi ke Negeri Belanda. Sejak itulah pelayanan pos telah lahir mengemban peran dan fungsi pelayanan kepada publik.

Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Untuk menghadapi persaingan yang ketat, Posindo membutuhkan investasi besar untuk mentransformasi diri agar bisa kompetitif di era ekonomi digital. Namun hingga kini investasi yang berupa dana segar tak kunjung menghampiri. Manajemen masih gigit jari memikirkan bagaimana mendapatkan investasi itu.

Setelah beberapa tahun lalu gagal melakukan go public. Posindo perlu mencoba lagi langkah melepas sahamnya secara perdana kepada masyarakat atau initial public offering (IPO) seperti yang pernah dilakukan pada 2013.

Impian PT Posindo melantai di bursa ( foto istimewa)

Saat itu masih gagal, dan hingga tahun 2019 belum jelas apakah itu dilanjutkan. Pada 2013 Posindo gagal karena Komite Privatisasi meminta Posindo mengkaji kembali revaluasi asetnya sebelum melantai di Bursa Efek.

Mestinya ketika IPO diterapkan semua proposal bisnis Posindo mulai dari jasa logistik, perbankan, properti, hingga jasa ritel harus mampu meyakinkan seluruh pemangku kepentingan. Pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Posindo 2019 mestinya ada belanja modal yang memadai.

Bisnis jasa logistik didefinisikan sebagai usaha menempatkan item produk tertentu kesuatu lokasi, dengan waktu paling singkat dan pada saat yang tepat.

Simpul-simpul bisnis logistik antara lain meliputi perencanaan dan pengawasan produksi, manajemen inventori, pergudangan, unitisasi atau pengepakan menurut jumlah unit tertentu, transportasi, serta manajemen informasi seperti prosedur order maupun konfirmasi penerimaan barang.

Jenis usaha Posindo yang ada pada saat ini memerlukan transformasi. Jenis usaha itu meliputi layanan standar, layanan keagenan atau kemitraan, dan layanan pengembangan yakni Poserba dengan mengacu kepada konsep one stop shopping.

Dinamika logistik dunia semakin menemukan bentuk yang lebih efektif dan efisien melalui prinsip insourcing. Jika mencermati pertumbuhan sektor logistik dunia yang persentase terhadap PDB mencapai 13,8 persen dengan nilai kontrak mencapai 300 miliar dolar AS pertahun, mestinya fakta itu memotivasi dan menjadi perhatian serius bagi BUMN yang bergerak di sektor logistik.

Sayangnya, belum ada strategi yang jitu bagi sistem logistik nasional. Akibatnya indeks  logistik nasional masih belum menggembirakan. Kegiatan logistik di Tanah Air tertinggal oleh negara-negara di Asean.

Armada PT Posindo menjangkau seluruh Tanah Air (foto Pos Logistics)

Bisnis logistik di Indonesia masih belum optimal karena hanya sebatas proses distribusi produk akhir yang nilai ekonomisnya kurang begitu besar. Selain itu kegiatan atau bisnis logistik banyak dilakukan secara konvensional dengan infrastruktur kuno dan minus standardisasi.

Bisnis jasa logistik di Indonesia pada saat ini juga terkendala oleh masalah warehouse yang multiguna. Mestinya ada infrastruktur warehouse semacam Vendorville yang ada disekitar kantor pusat Wal Mart di Arkansas Amerika Serikat.

Infrastruktur diatas mestinya bisa dilaksanakan oleh Posindo hingga ke tingkat kecamatan dengan mentransformasikan kantor pos sebagai locality mart sebagai plasa produk lokal yang didukung dengan media baru dan komunitas prosumer yang mampu berperan sebagai sel aktif.

Sudah saatnya Posindo memiliki layanan total logistik berupa usaha jasa yang diberikan mulai dari layanan warehousing, transporting dan sekaligus juga layanan freight forwarding sebagai satu kesatuan. Langkah kedepan akan lebih baik jika pengelola Posindo mampu membentuk usaha warehousing yang merupakan proses penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran barang sebagai bagian dari supply chain management yang dikelola secara efisien dan efektif.

Proses operasi layanan warehousing itu secara garis besar meliputi purchasing order, realisasi purchasing order, konfirmasi purchasing order, penempatan barang (put away) dan konfirmasi  daftar put away, proses dispatch, sales order, realisasi sales order, konfirmasi sales order dan replenishment order serta konfirmasi replenishment order.

Pengembangan usaha logistik Posindo harus disertai platform yang jelas dan dipahami seluruh unit organisasi. Bahwa pada hakekatnya supply chain merupakan jaringan fasilitas dan sistem informasi logistik canggih yang menghubungkan hulu sampai dengan hilir. (R2).*

 

PT Pos PT Posindo SPPI usaha logistik

Related Post

Leave a reply