Sarasehan Serikat Pekerja TOYOTA Group Menghadapi Era Industri 4.0

272 views

Serikat Pekerja di lingkungan korporasi TOYOTA mengadakan sarasehan pada 5-6 Juli 2019. Sarasehan mengambil tema “Bersama Membangun Hubungan Industrial yang Harmonis Antara Serikat Pekerja dengan Manajemen untuk Menghadapai Era Revolusi Industri 4.0“. Sarasehan yang hakekatnya merupakan sinergi Serikat Pekerja diikuti oleh beberapa perusahaan yakni PT TOYOTA Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), TOYOTA Astra Motor (TAM), DAIHATSU, HINO dan  PT. SUGITY CREATIVES.

Sarasehan Serikat Pekerja TOYOTA Group (foto SP LEM SPSI PT. Astra Daihatsu Motor)

Reaktor.co.id – Sinergi Serikat Pekerja antar pengurus PUK maupun DPC, DPD hingga DPP merupakan keniscayaan menghadapi masalah aktual. Dimasa mendatang sarasehan sebaiknya diisi dengan materi yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Materi tidak hanya terkait dengan bagaimana mewujudkan organisasi serikat pekerja yang ideal dan maju, tetapi juga perlu diisi dengan materi yang terkait dengan usaha pengembangan kompetensi karyawan menghadapi era Industri 4.0 yang menitikberatkan daya saing dan produdktivitas perusahaan.

Sebagai keluarga besar grup TOYOTA, sarasehan Serikat Pekerja yang menguatkan “pasar solidaritas” juga perlu mengaktualisasikan budaya perusahaan yang sudah tumbuh dan berkembang. Salah satunya adalah pentingnya mengenal Hansei, salah satu TOYOTA Culture. Dalam bahasa Jepang, kata “hansei” secara sederhananya diartikan sebagai refleksi, tetapi, dalam komunitas lean – terutama TOYOTA, hansei memiliki arti yang lebih luas lagi.

Serikat pekerja dan budaya perusahaan ( Foto Totoksis)

Dalam buku TOYOTA WAY, Jeffrey Liker menuliskan bahwa “Hansei” memiliki arti yang lebih dalam dibandingkan dengan refleksi itu sendiri. Namun, lebih kepada jujur mengenai kekurangan diri sendiri. Jika hanya mengutamakan kekuatan diri saja, kekalahan akan datang. Tetapi jika menyadari kekurangan yang dimiliki oleh diri sendiri, itulah kekuatan yang berada pada level yang tertinggi. Salah satu kunci kesuksesan TOYOTA selama bertahun-tahun yang menjadi pembelajaran dari perusahaan lain adalah makna dari Hansei itu sendiri.

Sarasehan juga menjadi momentum bagi Serikat Pekerja untuk mengantisipasi era Industri 4.0 dengan ikut serta bersama pihak manajemen menata kompetensi dan meningkatkan skill bagi segenap anggota Serikat Pekerja. Juga bisa dijadikan momentum untuk merancang sistem rumenerasi berbasis jenjang karir yang ideal.

Menghadapi era Industri 4.0 bagi organisasi pekerja merupakan perjuangan yang tidak ringan. Karena sistem ketenagakerjaan bisa dijungkirbalikkan, kompetensi makin kompleks, sistem kerja dan beban pekerjaan akan berubah, sistem pengupahan semakin bersifat individual yang mengedepaankan prinsip outsourcing. Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) di sektor industri merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dibendung.

Making Japan a major force in the Fourth Industrial Revolution ( Foto The Japan Times )

Esensi Industri 4.0

Organisasi Serikat Pekerja perlu menelaah kedepan (outlook) seperti apa dunia industri pada masa yang akan datang sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman (insight) yang baik. Kemudian persiapan seperti apa yang harus dimiliki oleh segenap kaum pekerja untuk menghadapi
.
Diperkirakan sebagian belahan Planet Bumi pada tahun 2020 dunia industri mulai memasuki tahapan yang disebut era Industri 4.0. Era ini adalah tren automasi industri dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur yang mana didalamnya termasuk teknologi cloud computing, cyber-physical system dan Internet of Things (IoT).

Kawasan industri atau pabrik tempat buruh bekerja akan bertransformasi menjadi smart factory atau pabrik cerdas. Serikat Pekerja perlu memotivasi agar anggotamya memiliki mental yang ulet dan semangat belajar yang tinggi untuk menguasai teknologi-teknologi yang menjadi pendukung terwujudnya Industri 4.0.

Ekosistem Industri 4.0 ditandai dengan adanya pabrik cerdas. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan.

Making Indonesia 4.0 tahapan sektor industri otomotif

Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.

1. Interoperabilitas (kesesuaian) : Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP).

2. Transparansi informasi : Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.

3. Bantuan teknis : Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.

4. Keputusan mandiri : Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan. (Totoksis).*

 

Industri 4.0. Sarasehan Pekerja Serikat Pekerja TOYOTA Group

Related Post

Leave a reply