Saatnya Benahi Tenaga Kerja Sektor Logam

113 views

Paradoks industri logam sedang terjadi di Tanah Air. Di satu sisi sektor logam dasar kini menjadi penyumbang besar investasi pada semester I-2019, namun di sisi lain beberapa industri logam justru sedang musim pengrumahan pekerja dan PHK. Seperti yang terjadi di PT Krakatau Steel dan anak perusahaan.

Proses pengecoran pada pabrik smelter -ilustrasi ( foto istimewa )

Reaktor.co.id – Industri Makanan dan Logam Penyumbang Besar Investasi Semester I-2019. Demikian judul siaran pers Kementerian Perindustrian (Kemenperin ) yang diterima Reaktor.co.id pada Kamis (01/08/2019).

Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya serta Industri makanan merupakan sektor manufaktur yang menjadi penyumbang terbesar pada realisasi investasi sepanjang semester I tahun 2019. Secara total, penanaman modal sektor industri manufaktur di periode Januari-Juni tahun ini berkontribusi hingga Rp 104,6 triliun.

Merujuk data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kelompok penanaman modal asing (PMA), industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menyetor sebesar USD1,46 miliar.

Kawasan smelter di Konawe-ilustrasi (foto istimewa)

Menperin Airlangga Hartarto menyampaikan, pihaknya fokus menjalankan kebijakan hilirisasi industri, salah satunya di sektor logam. Implementasinya, pembangunan beberapa pabrik smelter di dalam negeri, terutama yang berbasis logam.

“Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri smelter berbasis logam karena termasuk dari 10 besar negara di dunia dengan cadangan bauksit, nikel, dan tembaga yang melimpah,” tutur Airlangga.

Airlangga meyakini, kinerja industri manufaktur masih positif pada semester II-2019 seiring dengan peningkatan investasi belakangan ini. Apalagi, pemerintah baru saja menerbitkan kebijakan yang dapat memacu daya saing industri nasional.

Regulasi itu adalah Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019, yang mengatur pemberian insentif super taxdeduction sebesar 200 persen bagi perusahaan yang melakukan pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi tertentu dan 300 persen bagi perusahaan melakukan kegiatan penelitian di Indonesia.

 

Aktivitas pekerja pertambangan – ilustrasi (foto isitimewa)

Urgensi Pengembangan SDM

Eksistensi SDM yang berkompetensi dibidang metalurgi ( ilmu logam ) dan pertambangan menjadi tulang punggung penambangan dan proses pengolahan hasil tambang. Ini harus segera dibenahi oleh pemerintah pusat dan daerah. Diperlukan program pengembangan SDM yang menekankan peningkatan nilai tambah pertambangan.

Hingga kini kesiapan infrastruktur pengolahan hasil tambang masih jauh dari harapan. Pemerintah daerah perlu terlibat langsung dalam penyiapan SDM lokal untuk mendukung pengolahan hasil tambang. SDM tersebut sebaiknya mulai dilatih sehingga pengetahuan tentang metode dan teknologi yang akan digunakan dalam usaha tambang dan pabrik logam bisa dioptimalkan.

Apalagi teknologi dan SDM yang digunakan sangat menentukan besarnya biaya investasi yang harus dikeluarkan, serta kapasitas produksi yang bisa dimaksimalkan. Jangan sampai lapangan kerja dibidang metalurgi dan pertambangan yang berkompetensi justru diisi oleh tenaga kerja asing (TKA), sedang pekerja lokal/pribumi hanya dipekerjakan sebagai kuli kasar yang cuma mengandalkan otot.

Dibutuhkan solusi untuk menyegarkan kompetensi bagi pekerja lokal yang sudah eksis. Menyegarkan profesi bisa dilakukan dengan cara menambah keahlian dibidang bahasa asing terkait bidang industri logam dan pertambangan.

Perlu peran lembaga atau konsultan pendidikan internasional untuk menambah keahlian bahasa asing bagi pekerja logam dan pertambangan. Kemampuan berbahasa asing sangat menunjang penguasaan teknologi metalurgi dan pertambangan.

Apalagi sebagian besar investasi proyek smelter atau pengolahan bahan mentah tambang merupakan pihak asing yang membawa teknologi dan proses produksinya yang berbasis dari negaranya.

Seperti contohnya penguasaan bahasa Jepang sangat penting bagi SDM metalurgi dan pertambangan. Karena Jepang dimasa mendatang akan menjadi kiblat metalurgi dan teknologi tambang bawah tanah.

SDM Indonesia perlu transfer teknologi dari Jepang. Pengriman SDM itu untuk mendalami mining safety and processing technology. Pengiriman SDM itu bisa bekerja sama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Coorporation. (Totoksis).*

Kemenperin SDM metalurgi smelter

Related Post

Leave a reply