Rizal Ramli, Kemerdekaan dan Paradoks Gelas Anggur

174 views

Untuk bermimpi mimpi yang mustahil
Untuk melawan musuh yang tak terkalahkan
Untuk menanggung kesedihan yang tak tertahankan
Untuk berlari di mana berani berani tidak pergi
Untuk benar yang salah

(Frank Sinatra – The Impossible Dream)

Rizal Ramli orasi dalam aksi Serikat Pekerja ( Foto Pribadi)

Reaktor.co.id – Rizal Ramli adalah tokoh pergerakan dan pakar ekonomi jempolan yang sangat menggemari Frank Sinatra. Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya pada era pemerintahan Presiden Jokowi awal periode pertama itu sangat menjunjung tinggi adagium “Walk the Talk” dalam dialektika perjuangannya.

Di balik daya kritisnya, segudang analisis dan prediksinya yang akurat terkandung kerja detail dan karya futuristik serta langkah perjuangan yang tiada henti.

Sosok yang akrab disapa RR ini memiliki premis yang kukuh: bangsa ini mampu mewujudkan kejayaan dalam waktu yang relatif cepat jika strategi pembangunan, tata kelola negara dan haluan ketenagakerjaan di negeri ini dikelola dalam ekosistem yang baik.

RR sangat peduli terhadap gerakan serikat pekerja/buruh. Sekitar tahun 2001 sempat membantu gerakan Serikat Pekerja PT Dirgantara Indonesia (SP FKK PT DI) yang pada waktu itu dipimpin oleh Arif Minardi.

Saat itu RR memberikan arahan dan pertimbangan terhadap SP PT DI dalam memperjuangkan tuntutannya.

Khusus menyangkut masalah ketenagakerjaan/perburuhan, RR berpendapat kebijakan ketenagakerjaan di negeri ini mestinya menekankan prinsip berdikari. Jangan terlalu disetir oleh pihak investor hitam yang kerjanya hanya mengeklpoitasi sumber daya alam negeri ini.

RR percaya negeri harapan bisa ditempuh secara lebih cepat jika adanya totalitas mensejahterakan kaum pekerja/buruh.

Rizal Ramli bersama putri kandung dan menantunya di New York ( Foto Pribadi )

RR sangat mencintai bangsanya, gandrung akan budayanya hingga merawat keragaman etnisnya. Kegandrungan RR itu temurun pada putri kandungnya Daisy, seorang arsitek di New York, yang sangat piawai usaha kuliner masakan Jawa.

Putri kandung RR itu menjadi ikon “glokalisasi”, yakni globalisasi yang memiliki akar tunjang potensi lokalitas. Lewat usahanya, warga dunia bisa menikmati lezatnya masakan Jawa dalam kemasan globalisasi.

Menyongsong peringatan HUT kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, ada baiknya merenungi premis RR sebagai jamu temulawak yang bisa menyehatkan tubuh bangsa Indonesia dalam mengarungi sengitnya persaingan global. Meskipun pahit temulawak itu menyehatkan bangsa.

“Saya memiliki premis bahwa selama ini terjadi struktur ekonomi gelas anggur yang merupakan hasil kebijakan ekonomi Orba dan baby Orba selama puluhan tahun,” tutur RR.

Menurutnya, di bagian atas gelas anggur dikuasai oleh kelompok bisnis besar dan BUMN yang tidak efisien dan kebanyakan jago kandang sehingga sering menjadi beban (liability) negara.

Pegangan gelas anggur tersebut sangat tipis, yang menunjukan kecilnya golongan menengah dan usaha skala menengah yang independen.

Bagian bawah dari gelas anggur tersebut sangat besar yang menunjukan puluhan juta usaha kecil dan ekonomi rakyat. Negara selama ini selalu memanjakan bagian atas dari gelas anggur dan mengabaikan lapisan bawah, yang struktur ekonominya super-kompetitif dan margin keuntungannya sangat tipis. Struktur gelas anggur yang sangat timpang tersebut sangat tidak adil.

Struktur yang sangat tidak adil tersebut harus diubah menjadi struktur piramida. Indonesia memerlukan usaha skala besar tetapi bukan sekadar jago kandang tetapi juga jago dunia, yang kompetitif di dunia internasional dan mampu membawa nilai tambah di pasar internasional ke dalam negeri. Transformasi dari jago kandang menjadi jago dunia memerlukan peran besar kaum pekerja/buruh dan adanya kebijakan yang koheren.

Rizal Ramli berjiwa Merah-Putih ( Foto Pribadi )

Urgensi Kepemimpinan Buruh

Rizal Ramli sangat mengapresiasi gerakan serikat pekerja/buruh yang selama ini merupakan pejuang produktivitas. Menurut RR, selama dunia masih berproduksi aksi buruh tidak akan berhenti. Agenda aksi buruh terus bertransformasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Kegaduhan yang menyertai aksi serikat pekerja/buruh selama ini hendaknya bersifat substansial. Kegaduhan substansial yang minus kerusuhan akan melahirkan dialektika sebuah bangsa yang ingin menjadi bangsa yang besar.

Dialektika sebuah bangsa yang menurut Bung Karno bersifat up and down, digembleng jatuh bangun kembali. Hanya dengan itulah bangsa Indonesia menjadi bangsa besar.

Dalam situasi bangsa Indonesia yang seperti ini, sebenarnya dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjadi seorang disorganisator. Sifat disorganisastor inilah yang dimiliki oleh para aktivis serikat pekerja/buruh.

Para aktivis sadar bahwa tugas kepemimpinan bukan hanya untuk menjadi organisator utama, tetapi juga menjadi disorganisator utama.

Pemimpin semacam ini adalah sosok yang terus menerus mengusik rutinitas organisasi negara agar dapat mengambil sikap dan mampu menjawab pertanyaan kunci apakah yang kita kerjakan selama ini benar atau salah, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Aksi buruh yang selama ini mengusung semboyan El pueblo unido jamás será vencido ( rakyat bersatu tak bisa dikalahkan ) diharapkan bisa mencegah gaya manajemen pemerintahan yang bersifat mediokrasi. Yakni sikap manajemen yang setengah-setengah, ragu-ragu, bahkan tidak pernah tuntas dalam mengambil keputusan.

Sifat mediokrasi telah berimplikasi dalam aspek yang lebih luas. Salah satu implikasi yang dirasa pahit oleh rakyat terutama kaum pekerja/buruh adalah kondisi elit politik di negeri ini tengah mengalami pendangkalan berpikir dan moral. Serta gemar melakukan korupsi yang sistemik dan berjamaah.

Aksi atau gerakan buruh seharusnya tidak berputar-putar dalam lingkaran yang sempit layaknya undur-undur. Undur-undur merupakan binatang kecil yang hidup di pasir atau tanah kering yang sekaligus dipakai sebagai sarang berbentuk kerucut kecil terbalik. Gerakannya sangat terbatas, hanya berjalan mundur.

Gerakan buruh jangan terlalu monoton dalam lingkaran yang itu-itu saja, tetapi harus mengalami lompatan dan terobosan. (Totoksis).*

 

Hari Kemerdekaan RI paradoks gelas anggur Rizal Ramli

Related Post

Leave a reply