Risiko Meminjamkan Uang kepada Teman

12 views

utang indonesia

Reaktor.co.id — Pinjam-meminjam uang bisa merusak hubungan pertemanan, namun bisa juga mempererat persahabatan jika proses pinjam-meminjang atau utang-mengutang ini berjalan sebagaimana mestinya.

Yang jadi masalah, jika kita meminjamkan uang kepada teman, maka saat ingin memintanya kembali, terkadang muncul perasaan tidak enak –bahkan tidak tega– untuk menagihnya. Di sini dibutuhkan kesadaran yang punya utang.

Tidak enak menagih hanya salah satu risiko meminamkan uang ke teman. Risiko lainnya, uang tidak dikembalikan secara utuh!

Menurut perencana keuangan Aidil Akbar, meminjamkan uang ke teman kemungkinan kembalinya uang sangat kecil. Berdasarkan pengalamannya, kemungkinan uang kembali di bawah 25%.

“Kemungkinan kembalinya pasti kecil. Kalo berdasarkan pengalaman si di bawah 25%,” tutur Aidil kepada detikcom, Sabtu (9/11/2019).

Menurut Aidil, sebagian orang memiliki kecenderungan malas membayar utang. Jadi, jika uang ingin betul-betul kembali perlu usaha yang besar untuk menagihnya.

“Kecenderungan untuk bayar utang itu orang males. Jadi 25% itu pake effort, yang repot itu kan nagihnya kita mesti nagih,” katanya.

Ditegaskan Aidil, manusia suka lupa bahwa dirinya punya utang ketika sudah punya uang. Jika digambarkan, hanya 1 dari 10 orang yang benar-benar merasa tidak enak jika berutang.

“Kalo saya perhatikan orang yang benar-benar punya rasa takut untuk membayar utang sekitar 10% kok. Jadi dari 10 orang paling cuma 1 yang benar-benar ngerasa bahwa gaenak ya punya utang mesti saya balikin nih,” jelasnya.

Tolak Pinjamkan Uang

Menolak meminjamkan uang kepada teman itu tidak baik. Terkesan tidak suka menolong. Apalagi jika sang teman memang benar-benar membutuhkan uang.

Namun, jika sang teman punya reputasi susah bayar utang, apalagi kita sendiri masih membutuhkan uang untuk kebutuhan pokok, ada tips dari perencana keuangan dari ZAP Finance, Prita Hapsari Ghozie.

Ia menyarankan, ketahui uang tersebut untuk apa sehingga mereka harus berutang. Jika memang untuk kebutuhan mendesak, pertimbangkan untuk Anda membantu semampunya.

“Jika memang mereka kesulitan akibat musibah, mungkin pertimbangkan bantuan semampunya. Jika tidak, tidak masalah kok mau menolak,” kata Prita.

Saran lain datang dari perencana keuangan Financial Consulting, Eko Endarto. Menurutnya, jika tidak mau memberikan utang, kita bisa beralasan bahwa kita sedang tidak punya uang.

“Kalo memang tidak berniat untuk minjemin, sebaiknya bilang aja nggak ada uang. Dia kan nggak tahu kita punya uang apa nggak. Cuma dia berspekulasi saja moga-moga dapet,” kata Eko.

Untuk membuat orang yang mau ngutang percaya bahwa Anda sedang tidak punya uang, jangan perlihatkan status atau unggahan seperti Anda sedang berlibur atau jalan-jalan.

“Jangan pernah memperlihatkan kita punya uang. Misalnya dengan selfie dimana-mana, jalan-jalan kemana, ya terlihat kita punya uang kan,” saran Eko.

Menurut Eko, orang akan sering berutang jika pernah dipinjamkan uang oleh orang tersebut. Sehingga, jika Anda memberikan utang sekali, mereka akan terus-terusan berutang kepada Anda.

“Orang mau minjem ke kita karena punya historical bahwa mereka pernah dapat dari kita. Sehingga itu yang membuat orang itu jadi gampang. Ketika dapet terus-terusan jadinya,” katanya.

Yang Ngutan Lebih Galak

Urusan yang berhubungan dengan uang biasanya agak sensitif. Apalagi kalau menyangkut masalah utang. Ketika berutang, sudah sepatutnya dibayar sesuai tanggal yang telah disepakati.

Tapi lucunya, tidak sedikit orang ketika ditagih utang malah lebih galak dari orang yang menagihnya.

Menurut Eko Endarto, sebagian orang menganggap suatu pinjaman bukan hal yang wajib untuk dikembalikan. Akibatnya, ketika berutang, mereka tidak memiliki niat untuk mengembalikannya.

“Kita menganggap suatu pinjaman itu suatu hal yang biasa, bukan suatu hal yang harus dikembalikan. Sehingga orangnya yang minjem tadi nggak berniat untuk mengembalikannya,” ucap Eko.

Dalam penilaian Eko, sebagian orang berutang untuk hal-hal yang tidak perlu. Akibatnya, tidak ada uang yang bisa diandalkan untuk mengembalikan utang tersebut.

“Kita itu terbiasa ngutang tapi untuk hal-hal yang nggak perlu sebenarnya. Sehingga habis untuk konsumtif. Untuk hal-hal yang tidak dipertimbangkan sebelumnya. Sehingga ketika berutang habis uangnya. Padahal kebutuhan udah sama,” katanya.

Untuk itu, tidak sedikit orang marah ketika ditagih utang karena mereka merasa terancam dan marah karena kesal dikejar-kejar utang.

Hal senada ikatakan Prita Hapsari Ghozie. Menurutnya, orang yang marah ketika ditagih utang karena mereka tidak mempunyai uang untuk mengembalikannya.

“Simple. Nggak ada uangnya,” katanya.

Bagaimana pengalaman Anda dalam hal pinjam-meminjam dengan teman?

 

Pinjam Uang Utang

Related Post

Leave a reply