Revolusi Industri 4.0 Tantangan Serius Pekerja

319 views

Revolusi Industri 4.0

Dunia Masuki Era Revolusi Industri 4.0. Istilah “Revolusi Industri 4.0” pun kian populer dan dibahas di berbagai forum.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bahkan sempat mengatakan bosan dengan istilah itu, apalagi kenyataannya Indonesia masih mengimpor banyak barang dari Tiongkok (China).

Dalam sebuah acara bertajuk “Making Indonesia 4.0 vs Super Smart Society 5.0” di Jakarta, 11 Juli 2019, dalam sambutannya JK berseloroh jenuh berbicara soal revolusi industri 4.0 tetapi saat ini Indonesia masih impor barang dari Tiongkok.

“Ya four point zero. Namanya pun saya capek. Begitu banyak seminar, pertemuan, diskusi tentang ini dan banyak tulisan. tapi tetap aja kita impor barang dari China kan?” kata JK dikutip Liputan6.

JK menjelaskan, revolusi industri 4.0 tidak berlaku untuk semua negara. Tidak semua pihak menggunakan robot dalam dunia bisnis dan kehidupan sehari-harinya.

Pengertian Revolusi Industri 4.0

Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas” (Wikipedia).

Secara garis besar, revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet atau online dengan dunia usaha atau produksi di sebuah industri. Artinya, semua proses produksi ditopang dengan internet. Istilah revolusi industri 4.0 terkait erat dengan istilah Internet of Thing (IoT) atau Internet untuk Segala dan Disrupsi (Disrupstion).

Menurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun menjadi peluang baru, sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri.

“Jadi, kita perlu menginformasikan kepada para pemangku kepentingan bahwa industri 4.0 ini bukan hanya di depan mata, tetapi sudah berjalan. Ke depan, kebijakan industri harus selaras disesuaikan dengan perkembangan teknologi,” ujarnya dikutip laman Kemenperin.go.id.

Beberapa industri dalam negeri yang sudah siap menjalankan industri 4.0, menurut Airlangga, dalam proses pengoperasinya adalah industri semen, petrokimia, automotif, serta makanan dan minuman.

“Sekarang, industri automotif sudah menggunakan robotik dalam pengoperasiannya. Mereka juga sudah menggunakan infrastruktur internet of think untukberoperasi. Ke depan, sektorjasa dan yang lainnya juga bisa memanfaatkan data ataupun artificial intelligence,” jelasnya.

Airlangga mengatakan, Revolusi Industri 4.0 juga akan meningkatkan produktivitas, membuka kesempatan kerja, dan membuka pasar hingga ke luar negeri. Implementasi industri 4.0 akan menambah lapangan kerja baru yang memerlukan keterampilan khusus.

Tantangan bagi Pekerja

Di sisi lain, Revolusi Industri 4.0 menghadirkan tantangan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali pada sektor ketenagakerjaan.

Mekanisasi, otomatisasi, dan hadirnya kecerdasan buatan menjadi ancaman yang harus dihadapi pekerja atau buruh di era disrupsi saat ini.

Tantangan Revolusi Industri 4.0 bagi pekerja antara lain dibahas dalam sarasehan bertajuk “Pekerja di Tengah Badai Revolusi Industri 4.0” di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogykarta, 29 April 2019.

Dilansir laman resmi UGM, sarasehan menghasilkan kesimpulan, buruh/pekerja harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan akibat revolusi industri 4.0.

Buruh tidak boleh hanya berdiam diri, tapi harus melakukan inovasi.  Otomatisasi dan mekanisasi merupakan tantangan nyata yang kini dihadapi oleh para buruh.

Di satu sisi, revolusi industri menghadirkan banyak pekerjaan baru, tetapi di sisi lain tidak sedikit pekerjaan yang hilang. Di sisi lain, banyak jenis pekerjaan yang hilang, misalnya saat ini di sektor perbankan dan perhotelan banyak melakukan pengurangan pegawai.

Revolusi Industri 4.0 juga berdampak pada perubahan pola hubungan kerja yang tidak lagi mengikuti sistem dalam undang-undang. Dalam beberapa pekerjaan, kontrak kerja hanya didasarkan pada kepercayaan, tidak ada kontrak tertulis.

Tantangan Making Indonesia 4.0

Menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0, pemerintah mencanangkan program “Making Indonesia 4.0” pada 4 April 2019.

Lima sektor industri yang disiapkan menghadapi revolusi industri jilid 4 itu adalah makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), otomotif, kimia terutama biokimia, serta elektronik.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengklaim kelima sektor ini berkontribusi atas 86% permintaan pasar global.

Dilansir CNBC Indonesia, Airlangga mengemukakan tantangan masih dihadapi Indonesia dalam era Industri 4.0 ini:

  1. Industri hulu (upstream) dan antara (midstream) yang kurang berkembang. Ditandai oleh bahan baku dan komponen kunci yang sangat tergantung dari impor. Contohnya, lebih dari 50% industri petrokimia, 74% logam dasar, serta semua bagian penting di bidang elektronik dan otomotif.
  2. Belum optimalnya zona industri yang komprehensif seperti migas vs petrokimia. Kawasan industri juga kurang dikembangkan dan digunakan, seperti di Batam, Karawang, dan Bekasi.
  3. Tren sustainability global yang tidak terhindarkan di mana produksi dan ekspor produk yang ramah lingkungan kini menjadi kewajiban contohnya bahan bakar Euro 4 yang mulai menjadi syarat banyak negara serta pengembangan biosolar.
  4. Industri kecil dan menengah yang masih tertinggal. Data Kemenperin menunjukkan 62% pekerja Indonesia bekerja pada IKM dengan produktivitas yang masih rendah.
  5. Infrastruktur digital yang belum memadai dan platform digital yang belum optimal. Teknologi seluler, misalnya, masih mengadopsi 4G dan belum siap dengan 5G. Kecepatan rata-rata fiber optic juga masih kurang dari 10 Mbps. Selain itu, infrastruktur cloud juga masih terbatas.
  6. Pendanaan domestik dan teknologi yang terbatas.
  7. Masalah tenaga kerja yang tidak terlatih. Indonesia memiliki angkatan kerja terbesar ke-4 di dunia, namun sangat kekurangan talenta. Anggaran pendidikan pemerintah saat ini hanya sekitar US$ 114/kapita.
  8. Belum adanya pusat-pusat inovasi. Anggaran pemerintah untuk penelitian dan pengembangan (R&D) masih sangat terbatas, hanya 0,1% hingga 0,3% dari PDB. Pemerintah sendiri menargetkan anggaran litbang dapat naik setidaknya mencapai 2% untuk masuk ke industri 4.0.
  9. Belum ada pusat litbang yang kuat yang disponsori pemerintah atau swasta. Selain itu, hingga saat ini juga belum ada insentif fiskal yang komprehensif untuk mengadopsi teknologi Industri 4.0.*

 

Ketenagakerjaan Pekerja Revolusi Industri 4.0

Related Post

Leave a reply