Refleksi HUT Ke-75 Kemerdekaan RI: Pekerja Melawan Penjajahan Model Baru

390 views

 

“Malu Kita Teriak Merdeka, Kalau Sumber Daya Alam Terus Dikuras Asing, UU Dibuat untuk Kepentingan Asing”

 

Reaktor.co.id- Pasal demi pasal diproduksi untuk kepentingan asing, begitupun Omnibus Law RUU Cipta Kerja diciptakan hanya untuk melayani bangsa asing yang notabene untuk mengeruk sumber daya alam (SDA) bangsa Indonesia.

Juga untuk mengeksploitasi manusia Indonesia menjadi kuli di negeri sendiri. Bentuk penjajahan model baru telah datang, haruskah kaum pekerja/buruh Indonesia berpangku tangan.

Bung Karno sang Proklamator Kemerdekaan RI dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia jangan menjadi bangsa kuli kontrak.

Soekarno muda pernah menjadi pekerja KA ( Foto istimewa )

Senafas dengan semangat Soekarno, saat ini kaum pekerja/buruh juga sedang berjuang melawan penjajahan bentuk baru. Dalam berbagai akun media sosial, kaum buruh menggelorakan semangat juang dan rasa keprihatinannya.

Peringatan Hari Kemerdekaan ke-75 tahun ini sangat pahit dan perjalanan bangsa penuh “Vivere Pericoloso”. Kehidupan bangsa yang dicekam oleh pandemi Covid-19 juga dibarengi oleh rakusnya pihak asing yang terus menerus mengeruk isi perut Ibu Pertiwi.

Salah satu akun kaum buruh yang merefleksikan keprihatinan pada Hari kemerdekaan adalah punya Hendri Gita Subiyakto, aktivis serikat pekerja dari kota Mojokerto, Jawa Timur. Dia mengutip pernyataan Soekarno;

“Apakah kita mau Indonesia merdeka,yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera,yang semua cukup makan,cukup pakaian,hidup dalam kesejahteraan,merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?”

Bung Hendri menyerukan cabut dan batalkan omnibus law RUU Cipta Kerja yang sarat dengan kepentingan kaum kapitalis hasil perselingkuhan dengan penguasa dan wakil rakyat yang justru melupakan kesejahteraan rakyat.

Hendri Gita Subiyakto ( Foto Istimewa )

“Sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia akan rusak dan binasa bila RUU itu ditetapkan menjadi UU,” cetus Bung Hendri yang merupakan anggota FSP LEM SPSI.

Lebih lanjut dia menyatakan bahwa Indonesia butuh kerja tetapi yang bisa menghargai harkat dan martabat rakyat Indonesia serta yang bisa memanusiakan rakyat Indonesia bukan menjadikan rakyat Indonesia sebagai budak dengan memberikan upah sangat murah,tidak memberikan jaminan sosial kesehatan dan mempermainkan hukum ketenagakerjaan secara sepihak untuk menginjak rakyat Indonesia dengan alasan klasik demi investasi.

“Masa depan anak cucu kita dan masa depan bangsa serta negara ini ada ditangan kita saat ini dengan berjuang untuk menggagalkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja agar tidak ditetapkan menjadi UU,” tegas Bung Hendri.

Indra Munaswar dan posternya ( Foto istimewa )

Akun media sosial yang lain juga terlihat pada tokoh serikat pekerja yang selama ini menjadi nara sumber tentang UU Ketenagakerjaan, yakni Bung Indra Munaswar.

“Malu kita teriak MERDEKA, karena pemerintahan Negara RI masih terus memperjuangkan omnibus law untuk kepentingan asing,” cetus Bung Indra.

Peran Besar Organisasi Buruh untuk Indonesia Merdeka

Setelah negeri ini menyatakan kemerdekaan sejak 75 tahun lalu, harkat dan martabat rakyat luas masih terjajah. Dalam bentuk penjajahan ekonomi, penjajahan budaya, penjajahan di lapangan kerja, penjajahan agraria, dan lain-lain.

Bahkan Undang-Undang dibuat sepertinya hanya untuk kepentingan bangsa asing dengan kedok demi kepentingan invetasi asing dan kapitalis komprador. Kaum pekerja melihat Undang-Undang dibuat bukan untuk kemaslahatan segenap bangsa.

Seperti kelakuan sang penjajah kepada kaum bumiputera, rezim penguasa bersikap seperti Sinterklas. Rakyat hanya diberi receh, dirayu dengan sepotong roti yang berwujud bantuan langsung tunai dan kartu prakerja. Semua itu merupakan propaganda untuk melancarkan terwujudnya UU yang sangat didamba pihak asing.

Tak seindah propaganda Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang digembar-gemborkan, nyatanya RUU pesanan asing itu sederet pasal-pasalnya mirip dengan prinsip penjajahan.

Meminjam istilah Bung Karno, hal diatas bisa dikatakan sebagai exploitation de l’homme par l’homme.

Bung Karno pernah menjadi pekerja di Surabaya, yakni pada perusahaan angkutan kereta api. Pahit dan getirnya Soekarno muda menjadi pekerja yang dieksplotasi tenaga dan pikirannya menjadikan dirinya sangat anti penindasan terhadap pekerja dalam bentuk apapun.

Soekarno sadar bahwa gerakan kaum pekerja jauh sebelum Indonesia merdeka telah memberikan inspirasi dan melahirkan kesadaran nasional untuk berbangsa.

Bahkan media massa yang diterbitkan oleh kaum buruh pada saat itu mampu menjadi pendongkrak indeks literasi kaum bumi putera hingga kemerdekaan.

 

Sebelum Indonesia merdeka, pada era sekitar tahun 1930-an tingkat literasi kaum buruh di Tanah Air justru pernah dalam tingkat yang tinggi. Hal itu ditandai dengan adanya media massa yakni tiga surat kabar yang dikelola oleh kaum buruh dan tokoh pergerakan bangsa, yakni koran Moestika, Oetoesan Indonesia, dan Soeara Oemoem.

Konten ketiga koran di atas selain menjadi senjata kaum buruh dalam hubungan kerja juga menjadi alat yang hebat untuk mendongkrak tingkat literasi kaum buruh dan seluruh bangsanya. Tokoh pendongkrak literasi tersebut antara lain Haji Agus Salim, Surjopranoto, Sukiman, dan Mohamad Hatta.

Partai politik dan organisasi massa sebelum Indonesia merdeka justru banyak yang belajar dari organisasi buruh/pekerja. Mereka belajar dari kaum buruh tentang arti perjuangan, belajar tentang literasi dan penggalangan opini, tentang taktik dan strategi perlawanan.

Itulah fakta sejarah bahwa kaum pekerja/buruh punya andil yang sangat besar untuk mewujudkan kemerdekaan bangsa Indoensia. Fakta itu tertulis dalam berbagai literasi, salah satunya adalah dalam buku “Buruh, Serikat dan Politik” Indonesia pada era 1920-1930-an, karya John Ingleson.

Jika membaca buku best seller diatas, para anggota DPR/MPR dan para eksektif saat ini mestinya merasa malu. Fakta sejarah menyatakan bahwa organisasi buruh pernah menjadi guru bangsa yang mengajari partai politik dan organisasi massa tentang hakekat perjuangan merebut kemerdekaan dan mengenai peta jalan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Para wakil rakyat yang bercokol di Senayan mestinya tidak berkhianat kepada kaum pekerja/buruh dengan mengesahkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja secara diam-diam dan penuh tipu daya.

Kini tantangan dan tekanan terhadap organisasi buruh semakin kompleks. Selain meningkatkan profesionalisme dan kompetensi, organisasi buruh saat ini memiliki misi penting untuk menggagalkan RUU Cipta Kerja.

Momentum Hari Kemerdekaan RI menjadi spirit hebat bagi serikat pekerja/buruh untuk melakukan perjuangan total. Perang Barata Yudha melawan pengesahan RUU pesanan asing.

Perang besar itu menurut sumber Reaktor akan dimulai pada 25 Agustus 2020, dalam bentuk aksi besar-besaran dan sporadis di seluruh pelosok tanah air.

Soekarno dan kaum pekerja dalam darahnya mengalir semangat perjuangan dan daya perlawanan yang sama. Bung Karno bisa merasakan dialektika perjuangan kaum buruh sepanjang zaman, karena dirinya pernah melakoni semua itu.

 

 

Hal itu pernah dikemukan oleh Yacob Nuwa Wea, tokoh pekerja yang membidani kelahiran UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Mantan menteri tenaga kerja itu selalu memasang lukisan besar Bung Karno di ruang kerjanya sebagai benang merah sejarah.

Bung Karno menjadi paham arti perjuangan kaum pekerja/buruh sejak terjadinya klimaks aksi buruh pada tahun 1921 di Garut, Jawa Barat. Aksi mogok besar-besaran telah merepotkan pemerintahan kolonialis Belanda. Nah, dalam kasus itu, Belanda menuduh Sarekat Islam-lah dalangnya. Maka, pada hari itu juga Belanda menangkap H.O.S. Cokroaminoto dan menjebloskannyake balik jerajak besi.

Di sisi lain, Ibu Cokroaminoto sudah meninggal. Adik-adik Utari, Anwar dan Harsono masih kecil-kecil. Karena itu pula, tanpa berpikir panjang, ia pamit kepada Inggit Garnasih, ibu kostnya. Ia juga pamit kepada Profesor Klopper, Presiden Sekolah Teknik Tinggi, tempatnya kuliah. Ia pamit pulang ke Surabaya, mengambil-alih tugas kepala keluarga yang tidak bisa dijalankan Cokroaminoto karena ia meringkuk di penjara.

Hal pertama yang ia lakukan setiba di Surabaya adalah mencari pekerjaan. Tidak terlalu sulit untuk seorang pemuda dengan tingkat pendidikan seperti Sukarno, sekalipun ia seorang pribumi, inlander kotor di mata Belanda. Bung Karno berlabuh di jawatan kereta api, bekerja sebagai klerk, atau tenaga kasar.

Kedudukannya sebagai Raden Sukarno, EKL atau Der Eerste Klasse. Sebagai seorang klerk stasiun kereta api kelas satu, Bung Karno menelan uap dan asap selama tujuh jam sehari. Sebab, kantornya tidak ada ventilasi untuk masuk udara bersih, dan langsung berhadapan dengan rel dan pelataran stasiun.

Atas pekerjaannya, ia menerima upah setara 165 rupiah. Dari jumlah itu, sekitar 124 rupiah diserahkan kepada keluarga Cokro, sisanya yang 40 rupiah dikantonginya sendiri, untuk sekali-kali mengajak keluarga Cokro sekadar nonton bioskop.

Kerja keras sehari-hari, mengurus keluarga Cokro di sisi yang lain, membuat Sukarno sama sekali tidak punya waktu untuk belajar bagi dirinya sendiri. Terlebih, Belanda memutuskan, anak-anak orang orangtuanya menjadi tahanan, dilarang masuk sekolah. Karenanya, Sukarno juga mengajari Anwar dan Harsono di rumah, agar tidak ketinggalan pelajaran.

Syahdan, Cokroaminoto dibebaskan bulan April 1922, setelah tujuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bung Karno senang bukan kepalang, bersyukur tiada henti. Tiga bulan kemudian, di bulan Juli 1922, ketika tahun pelajaran baru segera dimulai, Bung Karno kembali ke Bandung, ke Sekolah Teknik Tinggi. (*)

Penjajahan Baru Refleksi Hari Kemerdekaan RIRI

Related Post

Leave a reply