Ralat Kekuatan Gempa dari M 7,4 jadi M 6,9, BMKG Utamakan Peringatan Dini Tsunami

88 views

Tsunami di Jepang

Reaktor.co.id – Terkait gempabumi yang menggetarkan wilayah Samudera Hindia Selatan Banten dan Lampung pada Jumat (2/8/2019), malam pukul 19.03 WIB, bermunculan tanda tanya dari netizen. Apa itu?

Seperti diketahui, awalnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa gempabumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,4 dengan kedalaman 10 km.

Namun, belakangan, BMKG melakukan pemuktahiran data. Gempabumi dan berpotensi tsunami tersebut ternyata berkekuatan Magnitudo 6,9 dengan kedalaman 48 km.

BACA JUGA: Gempa M 6,9 Banten: 4 Meninggal, 4 Luka, 223 Rumah Rusak

Mengapa datanya bisa berubah? Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, melalui siaran pers yang dirilis oleh Humas BMKG Sabtu (3/8/2019), menerangkan bahwa pihaknya lebih mengutamakan kecepatan informasi tentang peringatan dini tsunami ketimbang akurasi.

Langkah BMKG itu sejalan dengan amanah dari UU Nomor 31 Tahun 2009 tentang  Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( UU MKG). Mengutip ketentuan pasal 37 UU MG, Daryono mengatakan “informasi kejadian ekstrem (gempabumi dan tsunami) wajib seketika disebarluaskan”.

Ia menambahkan, kecepatan dan akurasi adalah dua hal yang tidak selalu memungkinkan terpenuhi dalam waktu yang bersamaan. Ia menunjuk satu contoh kasus gempabumi di Jepang sebagai ilustrasi.

“Dari kasus Gempa Tohoku pada tahun 2011 yang lalu, Japan Meteorogical Agency (JMA) yang merupakan BMKG-nya Jepang, dalam waktu 3 menit langsung menyampaikan informasi kejadian gempa dengan Magnitudo 7,9 dan Peringatan Dini Tsunami dengan ketinggian 6 meter,” beber Daryono.

Masih sebagian kecil sinyal gempa tertangkap oleh jaringan sensor gempa JMA pada menit ke-3 tersebut, dan itu baru mampu memberikan perhitungan magnitudo 7,9 beserta potensi kejadian tsunami.

Begitu menerima informasi dari JMA pada menit ke-3 pascagempa, penduduk daerah terdampak sudah mulai mengevakuasi diri secara mandiri, bersiaga menghadapi ancaman tsunami.

Baru pada menit ke-50, JMA melakukan pemutakhiran (update) kembali magnitudo gempa menjadi M 8,8, dan diperbarui lagi menjadi M 9,0. Akurasi baru tercapai di atas menit ke-50 untuk gempa dengan magnitudo M 9,0.

“Jika peringatan dini tsunami diinformasikan JMA setelah menit ke-50 karena menunggu akurasi, tsunami sudah lebih dulu melanda. Situasi dan kondisi geologi dan tektonik di Jepang hampir serupa dengan situasi dan kondisi di wilayah Indonesia,” ungkap Daryono.

Daryono menuturkan, beberapa pantai di Indonesia juga berada pada posisi rawan tsunami dengan sumber gempa bermagnitudo besar, di mana akurasi perhitungannya baru bisa diperoleh pada menit-menit yang akan terlalu terlambat sebagai bahan peringatan dini tsunami.

Kecepatan informasi inilah yang membuat penduduk daerah terdampak memiliki waktu berharga (golden time) secara lebih dini, untuk melakukan evakuasi mandiri. Akurasi informasi dapat dicapai dengan proses pemutakhiran sesuai dengan perkembangan jumlah sinyal-sinyal kegempaan yang terekam oleh jaringan sensor gempabumi. (AF)*

bmkg gempabumi peringatan dini tsunami reaktor

Related Post

Leave a reply