Puluhan Ribu Buruh Linting Tembakau Terancam PHK

40 views

Buruh linting rokok pabrikan kecil

Reaktor.co.id – Jika disetujui pemerintah, usulan kenaikan batasan produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) Golongan 2, dari 2 miliar menjadi 3 miliar batang, yang diajukan oleh pabrikan rokok asing beromset triliunan rupiah, maka puluhan ribu buruh linting tembakau rokok terancam mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk “Kebijakan Tarif Cukai Berkeadilan Ciptakan Persaingan Industri yang Sehat”, yang berlangsung di Balairaos, Kompleks Keraton Yogyakarta, belum lama ini.

Para pemilik pabrikan kecil dari wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang bergabung dalam Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) menolak tegas usulan tersebut karena hanya akan menguntungkan pabrikan besar asing tersebut. Sebaliknya, nasib ratusan pabrikan lokal skala kecil dan puluhan ribu pelinting tembakau yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari pemerintah bakal sengsara.

Diskusi Media Kebijakan Tarif Cukai Berkeadilan Ciptakan Persaingan Industri yang Sehat di Bale Raos Magangan, Keraton Yogyakarta

“”Dengan tegas kami pemilik pabrikan kecil di wilayah Yogyakarta, JawaTengah, dan JawaTimur menolak usulan kenaikan batas produksi SKT golongan 2 ini karena akan menyebabkan sekitar 11.000 pelinting yang bekerja di pabrikan SKT golongan 1 kehilangan pekerjaan. Tidak hanya itu, negara juga berpotensi kehilangan penerimaan cukai sekitar Rp 1 triliun,” ungkap Joko Wahyudi, Ketua Paguyuban MPSI.

Bagaimana mungkin sebuah pabrikan yang memiliki modal besar dan merupakan salah satu pabrikan besar dunia, lanjut Joko, ingin menaikan batasan produksi SKT golongan 2 yang tarif cukainya lebih murah.

Informasi yang diterima Joko menyebutkan, saat ini pabrikan SKT besar asing itu memiliki volume produksi 1,8 miliar batang atau berada di SKT golongan 2 dengan tarif cukainya Rp 180 perbatang.

Diprediksi, pada tahun 2020, volume produksi pabrikan SKT besar asing tersebut akan tembus 2 miliar batang atau masuk ke golongan 1 dengan tarif cukai Rp setinggi Rp 290-Rp 365 perbatang.

Disinyalir, agar terhindar dari kewajiban membayar tarif cukai tertinggi di golongan 1, pabrikan besar asing tersebut mengajukan usul kepada pemerintah agar batasan produksi SKT golongan 2 dinaikan dari 2 miliar menjadi 3 miliar batang. Tagetnya, pabrikan besar asing yang beroperasi di lebih 70 negara ini bisa menaikkan volume produksinya, sehingga omsetnya meroket dengan tetap menikmati tarif cukai murah.

Joko mengingatkan, tanpa adanya kenaikan batasan produksi SKT golongan 2 itu saja, para buruh linting telah menderita karena terjadinya penurunan tajam pangsa pasar SKT dari 37% pada 2006 menjadi 17% pada 2018. Bahkan, pada 2019, sejumlah pabrikan SKT golongan 1 telah mengurangi jumlah produksinya dan meliburkan puluhan ribu buruh pelinting selama beberapa hari.

Dewasa ini, 75% buruh pelinting SKT bekerja di pabrikan SKT golongan 1. Jadi, apa pun kebijakan yang merugikan pabrikan SKT golongan 1 bakal mempengaruhi nasib para buruh.

”Kami berharap pemerintah tidak tunduk pada usulan pabrikan besar asing, yang hanya akan menyengsarakan puluhan ribu buruh pelinting yang hudupnya sudah menderita,” tandasnya. (AF)* 

Buruh buruh linting rokok reaktor Sigaret Kretek Tangan

Related Post

Leave a reply