Psikotes, Momok bagi Pelamar Kerja yang Mesti Dijinakkan

124 views

Bagi pelamar kerja, tes psikologis atau psikotes merupakan momok yang menakutkan karena banyaknya peserta yang berguguran di medan ini. Mereka yang gugur bukan saja menimpa para yunior yang masih bau bangku sekolah, tetapi bisa juga menimpa jenderal yang sudah malang melintang di medan juang.

 

Suasana psikotes Pansel Komisioner KPK ( Foto Liputan6.com)

Reaktor.co.id – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan dinyatakan tak lolos dalam seleksi calon pimpinan (capim) KPK periode 2019-2023. Irjen. Pol. Basaria Panjaitan, S.H., M.H. adalah perempuan pertama yang terpilih menjadi komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia.

Basaria yang sudah kaya pengalaman itu gagal lolos dari tes psikologis atau seleksi tahap ketiga yang digelar Panitia Seleksi (Pansel) Capim KPK, Minggu (28/7) lalu.

Namun dia berjiwa besar menerima kegagalan tes tersebut lalu memberikan dukungan buat koleganya yang lolos pada tahap tes selanjutnya. Yakni tahapan tes profile assessment yang digelar pada Kamis dan Jumat, 8-9 Agustus 2019 di Gedung Lembaga Pertahanan Negara (Lemhanas), Jakarta Pusat.

Sebanyak 40 peserta yang lolos berasal dari berbagai profesi, mulai dari dosen dan akademisi, advokat, jaksa, pensiunan jaksa, dan hakim. Ada juga anggota Polri, auditor, Komisi Kejaksaan RI, Komisioner KPK, PNS, dan pensiunan PNS.

Apa yang dialami oleh Basaria layaknya dialami oleh para pelamar kerja lain. Baik para pencari kerja yang baru lulus sekolah, maupun para pelamar yang memperebutkan kursi jabatan direksi BUMN maupun jabatan komisioner di berbagai lembaga.

Bagi pelamar kerja psikotes amat melelahkan dan menguras emosi, namun momok itu mesti dijinakkan supaya tidak gugur.

Ada bagian psikotes yang sangat menyebalkan karena banyak jebakan, yakni bagian tes Edwards Personal Preference Schedule (EPPS).

Namun tidak perlu khawatir, mereka yang berkali-kali gagal dan kemudian berhasil lolos, dikarenakan  mau mempelajari dan berlatih mengerjakan soal-soal psikotes sebelum waktu tes tiba.

Pengertian Psikotes

Psikotes merupakan alat atau sarana bagi psikolog untuk dapat memahami secara utuh berbagai aspek psikologi individu agar dapat memberikan gambaran (profil psikogram) setiap individu yang mengikuti tes tersebut.
Dalam psikotes atau tes psikologi ada 3 aspek yang diukur, yaitu: kecerdasan, kepribadian dan juga sikap atau cara kerja.

Aspek kecerdasan digunakan untuk mengetahui kecerdasan secara umum atau kecerdasan secara spesifik seperti kemampuan analisa atau kemampuan berhitung.

Aspek kepribadian digunakan untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar, lingkungan baru maupun tugas-tugas baru dan lain sebagainya.
Sedangkan aspek sikap atau cara kerja digunakan untuk mengetahui semangat kerja, motivasi berprestasi, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, inisiatif dan lain sebagainya.

Tujuan Psikotes

Tujuan psikotes untuk mencari orang dengan karakteristik yang tepat untuk mengisi sebuah posisi di perusahaan atau lembaga pemerintahan.

Sekurangnya ada 12 jenis soal atau segmen dalam psikotes

1. Tes Kemampuan Verbal
1.1 Psikotes sinonim (persamaan kata)
1.2 Psikotes antonim (lawan kata)
1.3 Psikotes analogi verbal (kolerasi makna)
1.4 Psikotes kemampuan penalaran
2. Tes Logika Aritmatika (Deret Angka)
3. Tes Logika Matematika
4. Tes Logika Penalaran (Deret Gambar)
5. Tes Hafalan Kata
6. Tes Pauli-Kraepelin(Tes Koran)
6.1 Tes Kraepelin
6.1 Tes Pauli
7. Tes Wartegg
8. Tes Menggambar Manusia
9. Tes Menggambar Pohon
10. Tes Menggambar Rumah, Pohon dan Manusia (House Tree Person Test)
11. Tes Army Alpha Intelegence
12. Tes Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)

 

Tes Pauli/Kraepelin (Tes Koran)

Jenis Tes Pauli-Kraepelin atau sering juga disebut sebagai tes koran adalah tes perhitungan sederhana. Tugas anda hanya menjumlahkan deretan angka-angka (0-9) yang disusun secara vertikal.

Namun, berita buruknya adalah jumlah deretan angka-angka yang harus anda jumlahkan sangatlah banyak, kira-kira sebesar lembaran koran. Makanya tidak heran jika tes ini sering disebut dengan nama “tes koran”.

Tes ini digunakan untuk mengukur karakter anda pada beberapa aspek seperti ketelitian, kecepatan, konsistensi, emosi dan juga daya tahan terhadap stres.

Pada tes Kraeplin, penjumlahan angka dilakukan dari bawah ke atas. Kemudian setiap beberapa menit, anda akan diinstruksikan oleh petugas psikotes untuk pindah dari satu kolom ke kolom berikutnya.

Pada tes Pauli, penjumlahan angka dilakukan dari atas ke bawah. Kemudian setiap selang waktu beberapa menit, anda akan diinstruksikan oleh petugas psikotes untuk menggarisbawahi angka terakhir yang sudah anda jumlahkan.

 

Tes Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)

Tes EPPS ini merupakan tes kepribadian. Hasil tes ini akan menguak karakter dan kepribadian seseorang dengan lebih detail.

Tes ini digunakan untuk menguak kepribadian seseorang dan itu penting bagi perusahaan untuk mendapatkan seseorang dengan kepribadian yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Dalam tes ini ada 15 soal sama yang diulang-ulang untuk mengukur validitas jawaban anda. Jika nilai konsistensi anda kurang dari 10, maka anda dinyatakan gagal.

Tes psikologis Edwards Personal Preference Schedule (EPPS) sangat menyebalkan bagi pencari kerja. EPPS adalah sebuah tes dimana peserta akan diminta memilih dua kondisi yang terpaksa dia harus pilih. Seringkali kedua kondisi ini tidak ada yang kita sukai tetapi tetap harus memilih.

Psikolog Amerika Henry Murray mengembangkan teori kepribadian yang diselenggarakan dalam hal motif , menekan, dan kebutuhan . Murray menggambarkan kebutuhan sebagai potensi atau kesiapan untuk merespon dengan cara tertentu dalam keadaan tertentu yang diberikan.

Teori kepribadian berdasarkan kebutuhan dan motif menunjukkan bahwa kepribadian seseorang adalah refleksi dari perilaku yang dikendalikan oleh kebutuhan. Sementara beberapa kebutuhan bersifat sementara dan berubah, kebutuhan lain yang lebih mendalam duduk di alam kita.

Menurut Murray, kebutuhan-kebutuhan psikogenik berfungsi sebagian besar pada tingkat bawah sadar, tapi memainkan peran utama dalam kepribadian kita .

Tes EPPS dirancang untuk menggambarkan relatif pentingnya individu beberapa kebutuhan yang signifikan dan motif. Hal ini berguna dalam situasi konseling ketika tanggapan ditelaah dengan terperiksa.

EPPS adalah salah satu tes verbal, dimana karena sifat-sifat dari tes verbal ini bisa membuat individu menjadi waspada, sehingga bisa saja berbohong. Namun harus diingat bahwa korelasi antara apa yang dicerminkan keluar dengan keadaan ”dalamnya” mempunyai korelasi yang tinggi.

EPPS merupakan tes kepribadian yang bersifat verbal dan memakai forced choice technique. Sifatnya memilih, diantarkan kepada pilihannya (walaupun dasarnya juga alternatif, A atau B namun disertai kata-kata yang sifatnya mengantar kepada pilihannya).

Tes kepribadian ini untuk melihat kecenderungan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Menurut Edwards (1953) kebutuhan-kebutuhan seseorang dapat diklasifikasikan ke dalam 15 golongan yang dibuat berdasarkan daftar kebutuhan pokok manusia, yang disusun oleh Henry Murray dan kawan-kawan (1938).

Golongan-golongan tersebut yaitu :

1. Achievement; untuk berbuat sebaik mungkin; untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sukar dan menarik.
2. Deference; untuk menyuruh orang lain memutuskan sesuatu pendapat bagi dirinya; untuk menyesuaikan apa yang diharapkan oleh orang lain terhadap dirinya.
3. Order; untuk berbuat secara teratur dan rapih dengan perencanaan sebelumnya.
4. Exhibition; untuk menjadi pusat perhatian; untuk menonjolkan sesuatu prestasi atau menyatakan keberhasilannya.
5. Autonomy; untuk berdiri sendiri dalam membuat keputusan; untuk menghindari urusan dan campur tangan orang lain.
6. Affiliation; untuk baik hati; untuk ikut ambil bagian dengan teman-teman sekelompok; untuk bekerja bersama atau berbuat sesuatu dengan orang lain.
7. Intraception; untuk menganalisa motif-motif dan perasaan-perasaan seseorang; untuk memahami dan mengerti perasaan-perasaan orang lain.
8. Succorance; untuk menerima bantuan atau affeksi dari orang lain; untuk supaya orang lain bersimpati dan mengerti tentang dirinya.
9. Dominance; untuk mengatasi dan mempengaruhi orang lain; untuk memerintah orang lain; untuk ingin diperlakukan sebagai pemimpin.
10. Abasement; untuk merasa bersalah bila orang lain berbuat kesalahan; untuk menerima fitnahan, merasa takut dan rendah diri.
11. Nurturance; untuk menolong teman dan orang lain; untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan; untuk mengampuni dan berlaku dermawan terhadap orang lain.
12. Change; untuk berbuat sesuatu yang baru dan berbeda; untuk ingin mengikuti perubahan-perubahan keadaan dan kebudayaan.
13. Endurance; untuk bertekun dalam tugas-tugas yang dihadapinya; untuk tidak ingin diganggu selama dalam bertugas.
14. Heterosexuality; untuk bergaul bebas dengan lawan jenisnya; untuk ikut aktif dalam pertemuan dimana orang dari jenis lain hadir.
15. Aggression; untuk menyerang pendapat orang lain yang berbeda; untuk suka mempermainkan orang lain.

(Totoksis/diolah dari berbagai sumber).*

EPPS pelamar kerja psikotes

Related Post

Leave a reply