Program Padat Karya Atasi Kekeringan

80 views

Bencana kekeringan di berbagai daerah mulai mencekam. Merusak lapangan kerja dan menambah angka pengangguran di pedesaan. Akibatnya para petani terpaksa urbanisasi menyerbu kota untuk mengais penghasilan dengan bekerja secara serabutan.

Reaktor.co.id – Petani terancam gagal panen karena tanaman padinya puso akibat kekeringan. Selain itu usaha peternakan rakyat juga mengalami kesulitan untuk mencari pakan rumput dan dedaunan. Serta kesulitan memberi minum ternak mereka. Paceklik telah datang di berbagai pelosok negeri, pentingnya segera menghadirkan program padat karya.

Kekeringan adalah siklus tahunan yang mestinya bisa diantisipasi dengan baik. Perlu mengatasi kekeringan secara terpadu antar disiplin ilmu dan kelembagaan. Sehingga ada solusi yang kredibel. Meliputi aspek  teknis dan program sosial ekonomi yang tepat.

Program padat karya pertanian harus segera di diterapkan Utamanya terkait dengan usaha mekanisasi pertanian. Dengan cara membagikan langsung alat mesin pertanian (alsintan) untuk mengatasi kekeringan.

Kekeringan menyebabkan debit air sungai terus merosot bahkan banyak sungai yang kering kerontang akibat rusaknya lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS). Hal itu membuat petani semakin menjerit. Untuk mengatasi hal itu pemerintah pusat bersama daerah  harus segera menggalakkan proyek padat karya infrastruktur pengairan dalam skala besar, sedang, maupun kecil. Apalagi infrastruktur perairan di daerah-daerah sekitar 40 persen dalam kondisi rusak berat.

Program padat karya untuk infrastruktur pengairan skala kecil dan menengah seperti pembenahan saluran primer, tersier, pintu air, sepadan sungai, jamban keluarga dan instalasi air bersih akan menimbulkan social multiflier effect. Karena akan menciptakan lapangan kerja selama musim paceklik serta memompa motivasi kerja bagi masyarakat desa.

Jangan sampai motivasi kerja semacam itu dikooptasi dengan cara yang sangat eksesif, yakni melalui program bantuan langsung tunai.

Kekeringan merupakan bencana alam yang membutuhkan penanganan dan tahap tanggap darurat. Pemerintah daerah sebaiknya memiliki sistem manajemen kekeringan yang disertai dengan aplikasi untuk penanganan bencana kekeringan. Sistem itu sangat berguna untuk menjalankan program padat karya.

Memahami fenomena kekeringan dapat dilakukan melalui informasi historis dan frekuensi kejadian ekstrim. Setelah perilaku kekeringan diketahui, perlu diidentifikasikan faktor-faktor yang dapat menjelaskan tentang sektor-sektor yang berpotensi terancam resiko. Dan untuk selanjutnya perlu dibuat program penanganan yang menyeluruh dan pelaksanaan tindakan mitigasi yang terpadu yang mengarah pada sistem penanggulangan kekeringan dalam tatanan  manajemen risiko.

Sistem manajemen kekeringan berbeda pada tiap negara. Kekeringan juga menjadi problem serius di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat dengan membentuk lembaga National Drought Mitigation Center (NDMC) yang dikoordinir oleh perguruan tinggi  antara lain Universitas Nebraska Lincoln. Tugas utama badan tersebut adalah membantu masyarakat dan instansi atau lembaga pemerintah, mengembangkan dan melaksanakan tindakan untuk mengurangi kerawanan akibat kekeringan.

Setiap tahunnya 15 persen dari wilayah Amerika mengalami kekeringan dengan tingkat yang parah. Hasil kerja dan karya NDMC telah dirasakan masyarakat luas terutama dalam membantu perencanaan kekeringan, merencanakan tindakan mitigasi proaktif dan mengadakan hubungan dengan pakar kekeringan terkait.

Negara lain yang sangat serius menangani masalah kekeringan adalah India. Negara itu mengalami frekuensi kekeringan makin membesar akhir-akhir ini. Agar mencapai suatu sistem monitoring yang berdaya guna maka jaringan pos dari berbagai instansi dan antar negara bagian di India dipadukan secermat mungkin, sehingga peta kekeringan dapat digambarkan secara detail.

Dalam hal ini digunakan indeks kekeringan Standardized Precipitation Index (SPI) yang juga memperlihatkan suatu korelasi yang baik dengan parameter lain yang mencerminkan kekeringan. Pemerintah India berhasil mengestimasikan SPI untuk berbagai skala waktu dan dipetakan untuk melihat sebaran spasialnya guna tindakan aksi sosial dan solusi teknologi pengairan.

Selama ini SPI telah digunakan di berbagai negara sebagai alat untuk memonitor kekeringan. Workshop on Indices and Early Warning Systems for Drought di University of Nebraska-Lincoln melahirkan “Lincoln Declaration on Drought Indices” yang berisi pernyataan bahwa SPI akan mencerminkan sifat kekeringan meteorologi di seluruh dunia.

Kelebihan SPI adalah sederhana dengan input hujan serta mampu menjelaskan kekeringan menggunakan skala waktu, mengandung standardisasi dan mampu mengindikasikan kering dan basah dengan cara yang sama.

Bencana kekeringan selama ini semakin menambah jumlah pengangguran di desa. Skema penciptaan lapangan kerja saat kekeringan yang cocok adalah padat karya yang sistemik, berkualitas dan bisa mendongkrak produktifitas pedesaan. Bukan padat karya yang asal-asalan dan penuh penyelewengan oleh oknum birokrat dan LSM.

Oleh sebab itu manajemen program padat karya dalam penanganan kekeringan harus mengedepankan transparasi dan akuntabilitas publik. Dalam tataran eknomi, program padat karya bukanlah sesuatu yang baru. Sayangnya, di negeri ini dari waktu kewaktu program padat karya itu dilaksanakan asal-asalan tanpa disertai perencanaan yang baik dan kurang adanya keterkaitan teknis pembangunan infrastruktur daerah.

Program padat karya penanganan kekeringan hendaknya melibatkan interaksi antara tiga aktor utama yakni warga perdesaan, pihak motivator atau fasilitator serta pengambil kebijakan proyek pada berbagai tingkatan. Sehingga terwujud pendekatan pemberdayaan yang lebih komprehensif dan mengedepankan transparansi. (Arif Minardi, Totoksis).*

kekeringan padat karya urbanisasi

Related Post

Leave a reply