Pramuwisata, Profesi Masa Depan Berbasis Lokalitas

90 views

Pramuwisata atau pemandu wisata dituntut untuk memberikan layanan prima dan tingkat profesionalitas sesuai standar kepada wisatawan. Tanpa keberadaan pramuwisata, pemasaran destinasi wisata kurang efektif dan daya tarik kurang lengkap. Oleh sebab itu pemerintah meningkatkan kompetensi pramuwisata sesuai dengan semangat zaman dan kemajuan teknologi.

Reaktor.co.id – Eksistensi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) diberbagai daerah sebagai wadah pramuwisata perlu dibenahi. Mesti diperkuat agar bisa berperan optimal bagi kemajuan pariwisata Indonesia.

Lingkup pekerjaan pramuwisata antara lain, mengatur perjalanan wisatawan ke lokasi tujuan, memberikan penjelasan tentang perjalanan dan obyek wisata, membantu mengurus dokumen perjalanan dan barang bawaan wisatawan; memberi pertolongan kepada wisatawan, dan sebagainya.

Melihat pentingnya keberadaan pramuwisata, wajar jika pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memberlakukan proses sertifikasi kerja bagi setiap pramuwisata yang bekerja di lapangan.

Tidak mudah untuk menjadi pramuwisata (pemandu wisata) atau tour leader resmi di bawah HPI. Ada sertifikasi hingga kompetensi yang harus dipenuhi.Untuk menjadi anggota HPI secara nasional, itu kami patokannya selalu pada lisensi yang diberikan oleh pemerintah melalui dinas pariwisata di daerah masing-masing.

 

Transformasi Industri Pariwisata

Perkembangan industri pariwisata global telah mentransformasi organisasi pemasaran wisata secara drastis. Salah satunya ditandai adanya transformasi profesi pramuwisata.

Profesi diatas spektrumnya semakin melebar dan merasuki segenap elemen masyarakat. Pemerintah daerah yang ingin mengembangkan potensi pariwisatanya dengan sungguh-sungguh, mau tidak mau harus melakukan program praktis yang bertujuan memperluas basis pramuwisata. Diwaktu mendatang seluruh elemen masyarakat diharapkan mampu berperan sebagai pramuwisata secara baik untuk daerahnya.

Transformasi pramuwisata tidak bisa dihindari karena merupakan tuntutan jaman. Oleh sebab itu pentingnya reposisi yang sebaik-baiknya bagi profesi pramuwisata di negeri ini agar tidak tergusur oleh kemajuan teknologi.

Tak bisa dimungkiri, bahwa eksistensi pramuwisata elektronik bisa menutup kekurang-sempurnaan kinerja pramuwisata konvensional. Dengan layanan elektronik spektrum pariwisata yang semakin melebar dan mendalam bisa terkelola dengan baik. Eksistensi pramuwisata elektronik juga merupakan jawaban terhadap kurangnya jumlah dan kemampuan teknis dari pramuwisata di daerah.

Fakta menunjukan bahwa daerah kunjungan wisata selalu bermasalah dengan pramuwisata. Baik dalam hal jumlah maupun kinerjanya yang kurang bisa diharapkan untuk memenuhi kepuasan para wisatawan. Salah satu contoh, setiap menjelang musim turis atau liburan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) senantiasa kekurangan pramuwisata dengan kompetensi tertentu.

Pramuwisata elektronik juga merupakan solusi terhadap sulitnya mencetak sosok pramuwisata dengan kualifikasi yang ideal. Selama ini program pelatihan kepariwisataan bidang assesor hasilnya belum memuaskan. Bidang assesor seperti pelatihan pramuwisata untuk jenis Wisata Diving, Arung Jeram, Wisata Goa dan lain-lain kurang efektif karena jenis wisata seperti itu memerlukan waktu dan ketrampilan khusus.

Sehingga yang paling ideal menjalaninya adalah sosok yang sehari-harinya memang menggeluti bidang itu. Sistem pramuwisata elektronik juga bisa menjadi sarana penunjang bagi Pengembangan Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) di daerah.

Sehingga materi pelatihan yang mengacu kepada Competence Based Training (CBT ) bisa lebih efektif. Ketimpangan jumlah pramuwisata antara yang memiliki dan tidak memiliki lisensi juga bisa diatasi dengan adanya sistem pramuwisata elektronik. Selama ini telah terjadi polemik menyangkut legalitas profesi pramuwisata.

Beberapa pihak menuntut bahwa profesi pramuwisata memerlukan legalitas kompetensi dalam bentuk lisensi. Dengan tingkatan lisensi pramuwisata muda, madya dan utama (pengatur perjalanan wisata).

Namun, tuntutan adanya lisensi seperti diatas di lapangan menjadi bias. Karena arti dan nilai dari lisensi itu kurang mencerminkan kompetensi dan hanya sebagai alat birokrasi yang sarat penyalahgunaan dan manipulasi. Oleh sebab itu proses pembuatan peraturan tentang pramuwisata sebaiknya sesuai dengan semangat zaman dan harus memperhatiakan konvergensi TIK dan jejaring sosial.

Tak bisa dimungkiri lagi perkawinan antara radio, iPod dan internet pada saat ini telah menyegarkan industri pariwisata dunia. Perkawinan itu merupakan basis terwujudnya pramuwisata elektronik. Pramuwisata elektronik bukan bertujuan untuk menggusur profesi pramuwisata, namun menjadi penunjang yang sekaligus menutup rendahnya kompetensi.

Selain itu pramuwisata elekronik juga bisa menumbuhkan ragam profesi lainnya seperti profesi penyiar radio, budayawan, dan lain-lain. Industri pariwisata dunia yang telah menjadi pilar ekonomi diwarnai dengan lahirnya pemandu wisata elektronik yang mampu melayani secara paripurna.

Pemandu Wisata Portabel

Organsiasi Industri pariwisata dunia yang telah menjadi pilar ekonomi diakselerasi oleh lahirnya pemandu wisata portabel yang mampu melayani dengan baik. Di negara lain iPod telah menjadi pemandu wisata yang sangat menarik.

Sekedar contoh, Dublin Pariwisata yang sukses meluncurkan iWalks dalam bentuk serangkaian podcast atau audio panduan yang tersedia bagi wisatawan. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mendongkrak industri pariwisatanya.
Hasilnya, Dublin telah menempati posisi puncak di Eropa untuk obyek wisata perkotaan.

Sepeti Dublin iWalks yang telah membuat beberapa tema seperti Abad Pertengahan Dublin, Castles dan Katedral dan lain-lain dalam bentuk seri audio, yang dilengkapi peta dalam bentuk pdf yang dapat didownload dari situs web.

Kini sudah ada sekitar 15.000 cityguide podcast yang bisa diakses secara gratis maupun berbayar. Menurut pakar industri pariwisata Profesor Dan Erkkila dari University of Minnesota’s, Industri pariwisata dunia semakin membutuhkan media online bisnis wisata seperti iJourneys yang menggunakan iPod.

Media wisata itu memungkinkan para wisatawan lebih fleksibel dalam menikmati wisatanya. Para wisatawan dunia kebanyakan mengunduh media wisata dari Viator sebelum melakukan perjalanan. Sekedar catatan, Viator mampu menciptakan sumber daya yang komprehensif untuk wisatawan. Apalagi Viator memiliki paket lebih dari 5.500 tur dan aktivitas di 400 kota dan lebih dari 80 negara.

Namun begitu, instrumen di atas akan lebih afdol jika dibuat oleh media lokal yang ada di sekitar destinasi wisata. Dengan ini akan terwujud premis: “Content is the King, Locality is the Queen”. Jika kesenjangan digital sudah teratasi, pasti tidak ada yang lebih baik dalam membuat konten destinasi wisata kecuali masyarakat lokal itu sendiri.

Destination Management Organization (DMO)

Fakta menunjukkan bahwa pada saat ini terjadi perubahan pola konsumsi dari para wisatawan. Selera mereka bergeser ke jenis wisata yang bisa menikmati produk atau kreasi budaya, peninggalan sejarah dan ekowisata.
Perubahan pola wisata ini perlu segera diantisipasi dengan berbagai strategi pengembangan produk pariwisata maupun sarana promosi. Sayangnya di berbagai daerah obyek ekowisata masih tersembunyi.

Pemerintah daerah kebanyakan masih asal-asalan dalam mengelola obyek daya tarik wisata (ODTW) ekowisata. Belum ada kreasi dan inovasi untuk memperbaiki daya saing. Dibutuhkan langkah yang profesional dari praktisi pariwisata untuk mendesain sebuah Ecotourism Awareness Campaign dengan aplikasi e-Tourism yang bertujuan memperkenalkan lebih dalam lagi berbagai paket ekowisata.

Untuk lebih menghidupkan kampanye itu alangkah baiknya jika potensi ODTW ekowisata di seluruh negeri ini di super imposed dengan apliaksi e-Tourism ke obyek ekowisata di negara lain dan penyebaran pemandu wisata portable.

Perlu mendorong kreatifitas rakyat luas untuk membuat konten destinasi wisata yang ada di negeri ini dengan berbagai aplikasi lalu di unggah ke sosial media. Persaingan global untuk menjaring wisatawan begitu sengitnya. Strategi untuk menjaring wisatawan telah diwarnai dengan langkah yang unik dan spektakuler. Juga dengan metode buzz marketing lewat sosial media.

Pihak pengelola ekowisata sebaiknya menerapkan Destination Management Organization (DMO) dengan aplikasi e-Tourism. Aplikasi e-Tourism pada prinsipnya memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk meningkatkan daya guna dalam bidang pariwisata.

Serta memberikan berbagai jasa layanan pariwisata kepada wisatawan dalam bentuk teknologi informasi. Dengan demikian program pemasaran ekowisata lebih mudah diakses. e-Tourism membentuk pengelolaan sistem informasi pariwisata menjadi terpadu. Dalam tataran best practises penerapan DMO berfungsi sebagai community marketer dan quasi-public representative.

Para pengelola obyek ekowisata sebaiknya memperluas basis pramuwisata. Untuk itulah seluruh elemen masyarakat diarahkan agar mampu berperan sebagai pramuwisata secara baik yang berwawasan kelestarian lingkungan.
Seperti mengarahkan para wisatawan untuk bijak dalam memilih suvenir.

Perlu diperhatikan material apa yang digunakan untuk suvenir itu. Karena tidak sedikit suvenir yang mengambil bagian tubuh hewan untuk dijadikan cinderamata, seperti misalnya kura-kura atau penyu yang diawetkan. Hal itulah yang bisa mencederai hakekat ekowisata. (TS).*

Destination Management Organization pramuwisata transformasi industri wisata

Related Post

Leave a reply