Platform Ketenagakerjaan Digarap Asing

254 views

Pemerintah Indonesia memberi karpet merah bagi startup asing khususnya dari Singapura untuk menjalankan bisnisnya di kawasan Industri Nongsa Digital Park. Diantara yang mendapat kesempatan istimewa dari pemerintah Indonesia adalah startup dari Singapura yakni Glints.

Reaktor.co.id – Startup atau usaha rintisan yang menggarap platform tentang berbagai aspek ketenagakerjaan itu dikelola oleh para remaja lulusan SMA dari Singapura.

Sungguh ironis jika platform dan aplikasi tentang ketenagakerjaan di Tanah Air yang sangat potensial itu justru luput dari perhatian pengembang aplikasi dari dalam negeri.

Karpet merah untuk startup asing telah digelar berkat pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong pada acara Annual Leaders Meeting di Delegation Room, The Istana, Singapura, Selasa (8/10) kemarin. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto turut hadir mendampingi Presiden Jokowi.

“Beberapa kerja sama yang disepakati di bidang ekonomi, di antaranya adalah peningkatan investasi, perdagangan, ekonomi digital dan pendidikan vokasi. Ini menjadi kelanjutan dari kesepakatan Leaders’ Retreat tahun lalu,” kata Menteri Airlangga dalam keterangan pers yang diterima Reaktor, Rabu (9/10).

Pemerintah Indonesia dan Singapura sepakat untuk mengembangkan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Kawasan ini akan menjadi basis bagi pelaku industri kreatif di bidang digital seperti pengembangan startup, web, aplikasi, program-program digital, film, dan animasi.

Proyek tersebut dikoordinasikan oleh PT. Kinema Systrans Multimedia yang bekerja sama dengan Infinite Studios. Per Agustus 2019, jumlah tenant dan startup di NDP telah mencapai 50 perusahaan, termasuk startup dari Singapura, yaitu Glints (Start-up talent recruitment).

Menuju Platform Bisnis

Platform sangat dibutuhkan oleh organisasi maupun pekerja secara pribadi. Baik untuk pengembangan diri maupun solusi khusus masalah ketenagakerjaan.

Kondisi ketenagakerjaan global dan nasional menuntut terbentuknya platform bisnis/usaha. Dalam dunia bisnis dan ekonomi, platform adalah tempat di mana terjadi interaksi langsung antara dua (atau lebih) aktor ekonomi yang saling memberi keuntungan satu sama lain melalui proses penciptaan nilai yang berkelanjutan.

Interaksi tersebut difasilitasi oleh pemilik platform dengan memberikan sejumlah kontraprestasi tertentu yang disepakati oleh kedua belah pihak. Dalam konteks ini, platform sering disebut multi-sided platform, two-sided markets, atau two-sided networks (Rochet dan Tirole, 2001).

Bisnis berbasis platform berbeda dengan bisnis konvensional. Bisnis konvensional dapat dianalogikan seperti pipa yang mengalirkan air dari hulu ke hilir. Di hulu, produsen membuat produk dan jasa, menyalurkannya melalui jaringan distribusi, lalu menjualnya ke konsumen akhir di hilir.

Sementara bisnis berbasis platform lebih seperti pasar atau panggung terbuka di mana semua partisipan saling berkumpul, berinteraksi, dan melakukan transaksi satu sama lain secara terbuka. Atas penyediaan fasilitas ini, pemilik platform dapat mengutip biaya atau ongkos sewa yang bisa dibebankan kepada pembeli, penjual, atau keduanya.

Model bisnis berbasis platform sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru. Jazirah Arab di masa lampau mempunyai pasar yang dikenal dengan bazaar. Bangsa Romawi Kuno mempunyai rumah lelang . Keduanya memiliki prinsip kerja yang serupa dengan platform masa kini.

Bedanya, saat ini platform difasilitasi teknologi informasi terkini yang sangat tangguh. Akibatnya, platform di masa modern mampu menjangkau jejaring dalam ruang lingkup dan skala hampir tak terbatas.

Platform saat ini menjadi semakin relevan karena dengan lebih sedikit aset dan sumberdaya manusia yang dimiliki, bisnis berbasis platform dapat memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada bisnis konvensional dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Sebagai contoh, Uber, yang berdiri 2009 lalu memiliki kapitalisasi US$ 62 miliar. Bandingkan dengan BMW yang berdiri lebih 100 tahun lalu dengan market capitalisation sebesar US$60 miliar. Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini valuasi Go-Jek menyentuh US$ 3 miliar (sekitar Rp 40 triliun). Angka itu melampaui valuasi Garuda Indonesia yang hanya Rp 7,8 triliun dan Blue Bird Rp 8,7 triliun (Bloomberg ).

Oleh karena itu, tak berlebihan kiranya bila platform disebut sebagai pondasi dasar ekonomi digital. Apalagi, platform kini menjamah di berbagai banyak bidang kehidupan kita. Misalnya, e-commerce ada Bukalapak dan Tokopedia.

Transportasi online ada Go-jek, Grab dan Uber. Di bidang pendanaan (peer-to-peer lending) ada Investree, Amartha, Modalku, Koinworks, Sementara untuk menggalang dana sosial (fundraising) ada KitaBisa. Di bidang pendidikan ada Ruang Guru. Contoh tersebut hanyalah segelintir dari sekian banyak platform yang tersedia di Indonesia.

Apabila kita amati lebih dalam menjamurnya bisnis berbasis platform, setidaknya dapat kita tarik sejumlah hal menarik. Pertama, ekosistem platform menjadi jauh lebih penting daripada produk dan akan menjadi semakin relevan di masa mendatang.

Hal ini sangat kentara pada kasus Apple dan Microsoft di zaman 1980-1990an. Kendati Apple memiliki produk yang lebih unggul, Microsoft mendominasi pasar karena memiliki jejaring vendor dan mitra lebih kuat. Kali ini situasi berbalik di mana Apple menjadi pemilik platform yang unggul melalui Apple iTunes dan Apple Store.

Platform Karier untuk Anak Muda

Apakah Anda adalah seorang fresh graduate yang sedang kesulitan mendapatkan pekerjaan? Jika iya, Anda bisa bergabung dengan platform karier asal Singapura, Glints, yang baru saja mendapat keistimewaan pemerintah Indonesia.

Glints merupakan perusahaan pengembangan karier yang didirikan oleh tiga anak muda berusia 22 tahun. Ketiganya memiliki tujuan untuk membantu anak muda yang hendak mencari pekerjaan untuk bisa lebih mengembangkan dirinya serta mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan skill yang dimiliki.

Hal tersebut sesuai dengan namanya, yang memiliki arti bersinar. “Kami ingin anak-anak muda bersinar dalam kariernya,” ungkap Chief Operating Officer, Looi Qin En, saat meluncurkan platform Glints di Senayan City, Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu, Chief Executive Officer Glints Oswald Yeo, menegaskan Glints bukan hanya sebuah platform yang khusus untuk membantu mencari pekerjaan. Tetapi, lebih untuk membantu anak muda mengembangkan dirinya. Karenanya, dalam laman Glints juga menyediakan layanan Live Career Consultations.

“Melalui fitur tersebut, para pencari kerja dapat berkonsultasi seputar karier. Misalnya bagaimana membuat CV yang menarik, hingga tips untuk menjawab pertanyaan pada wawancara kerja yang pertama,” ujar Oswald dalam kesempatan yang sama.

Platform tidak hanya menyediakan informasi lowongan pekerjaan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk magang, pelatihan kerja paruh waktu, dan lain-lain.

Ada pula fitur lainnya, yakni Dynamic Career and Skills Path Explorer, yang membantu kandidat untuk mengetahui skill apa saja yang harus dimiliki agar cocok dengan satu lowongan pekerjaan tertentu. Glints sendiri sejak kemunculannya di Singapura telah memiliki lebih dari 20.000 orang kandidat pencari pekerjaan.

Saat ini, disebutkan bahwa 2.000 perusahaan mulai dari startup hingga perusahaan multinasional sudah bergabung dengan Glints untuk mencari kandidat yang sesuai dengan dibutuhkan. Di Indonesia sendiri, kata Country Manager Glints Oliver Yiu, Glints sudah bekerja sama dengan Tokopedia, Happyfresh hingga Adidas dan Puma.

“Indonesia memiliki lebih banyak anak muda dibandingkan dengan Singapura, sehingga dalam satu tahun pertama, kami menargetkan akan bisa memiliki 1 juta pengguna, terutama karena untuk bergabung menjadi user tidak dipungut bayaran,” katanya.

Untuk itu, Glints ke depan akan melebarkan sayapnya hingga ke kota-kota lainnya di Indonesia selain Jakarta. Bahkan, dalam waktu dekat ini Glints akan mulai menjangkau Bandung seiring dengan kerja samanya dengan perguruan tinggi di Bandung untuk dalam mengadakan pameran karier.

Perusahaan startup ini sebelumnya berdiri dengan investasi sebesar SGD$ 550.000 atau setara dengan Rp 5,4 Miliar yang berasal dari 500 Startup, East Venture, Singapore Press Holdings, Pixvine Capital, 8Capita, dan lain-lain.

Untuk memudahkan penggunanya, perusahaan ini juga sedang mengembangkan aplikasi mobile Glints. Meski begitu, Qin En menyebutkan bahwa laman versi mobile-nya sudah cukup user friendly sehingga membuat penggunanya lebih nyaman. (TS).*

Nongsa Digital Park Platform ketenagakerjaan

Related Post

Leave a reply