PHK Mengancam, Pekerja Harus Re-Skilling

89 views

Re-skilling center atau pusat pelatihan kembali akan menjadi jauh lebih populer dari pendidikan umum atau perguruan tinggi. Re-skilling dilakukan untuk meningkatkan kompetensi pekerja.

PHK

Ilustrasi Korban PHK (123rf)

Reaktor.co.id, Jakarta — Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mengancam ribuan pekerja. Salah satu penyebab PHK adalah beberapa bidang pekerjaan digantikan robot atau mesin.

Menurut Direktur Bina Pemagangan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Siti Kustiati, pekerjaan yang paling banyak digantikan robot di sektor manufaktur.

“Jadi terkait pekerjaan yang digantikan robot, paling banyak di sektor manufaktur di pabrik, kalau dulu di pabrik tekstil masih dikerjakan operator sekarang sudah mulai pakai robot,” ujar Kustiati dikutip Suara, Selasa (12/11/2019).

Kemenaker tidak punya data secara mendetail bagian apa saja yang akan tergantikan robot. Namun, kata Kustiati, pihaknya sudah meminta perusahaan untuk mengisi secara mendetail kebutuhan tenaga kerja.

Dikemukakannya, diprediksi akan ada 20 ribu tenaga kerja yang kena PHK. Pemerintah akan turun langsung dengan menggalakkan program re-skilling untuk bisa diikuti mereka yang terkena PHK.

Re-skilling dilakukan untuk meningkatkan kompetensi pekerja. Dengan begitu, pekerja yang tergusur robot bisa mendapatkan lapangan kerja lain.

Menurut Kustiati, re-skilling merupakan langkah awal pekerja menghadapi era digital.

“Melalui re-skilling, ada 20 ribu yang ter-PHK, bagi yang ingin melakukan re-skilling ke kompetensi yang lainnya,” katanya.

Program ini bisa diikuti dengan mendaftar secara online di kios 3 in 1. Tenaga kerja bisa memilih untuk mengikuti pelatihan di mana saja. Ada 305 Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh Indonesia.

“Nanti masuk kios 3 in 1 atau bisa juga masuk di Sisnaker (Sistem Ketenagakerjaan) klik saja di situ. Nanti ada jadwal pelatihan apa saja dan di BLK mana saja,” jelasnya.

Pentingnya Re-Skilling

Ekonom Imam Sugema dalam sebuah ulasannya di Republika menuturkan, lima tahun yang akan datang re-skilling merupakan salah satu kata yang paling sering kita dengar.

Setiap orang yang kehilangan pekerjaan akan mencari pusat-pusat pelatihan yang menawarkan keterampilan baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Begitu pun bagi para pencari kerja baru yang merasa waktu tunggu bekerjanya terlalu lama karena pendidikan yang ditempuhnya tidak lagi sesuai dengan zaman. Re-skilling center atau pusat pelatihan kembali akan menjadi jauh lebih populer dari pendidikan umum atau perguruan tinggi. Mengapa?

Sudah banyak yang meramalkan akan adanya gelombang disrupsi di dunia kerja maupun dunia pendidikan. Beberapa bidang pekerjaan akan mendadak hilang atau makin sedikit seperti bagian ticketing, pramusaji, teller di bank, tukang sol, tukang las, sopir taksi, kondektur dan sopir bus, pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya. Sebagian hilang karena digantikan oleh mesin yang beroperasi secara digital.

Bahkan guru, dosen, dan sekretaris akan semakin menyusut. Pendidikan tinggi tidak lagi diminati karena menjadi kurang relevan. Dosen hanya dibutuhkan untuk mencetak dosen, ilmuwan, dan para peneliti.

Keahlian yang tinggi tidak hanya bisa diperoleh dari ruang kelas, tetapi bisa juga didapatkan secara virtual di dunia maya. Hampir segala sesuatu bisa Anda cari dengan bertanya kepada Google.

Jika ruang kelas tidak memberi pengetahuan dan keahlian yang lebih baik dari Google, hampir bisa dipastikan ruang kelas tersebut tidak lagi diminati.

Bukankah apa yang saya sampaikan di atas hampir setiap saat kita dengar dari para ahli? Jika para teller di bank terkena PHK massal, lantas mereka akan bekerja di mana? Jawabannya pasti adalah mereka akan pindah profesi.

Profesi apa? Segala jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh penyedia pekerjaan. Semudah itukah? Yang pasti mereka akan memerlukan keahlian baru dan di situlah rumitnya.

“Coba kita bayangkan kalau ada jutaan orang yang ingin beralih profesi entah karena PHK atau karena merasa bidang keahliannya tidak lagi dibutuhkan oleh pasar. Mereka akan bingung tentang tiga hal,” tulisnya.

Ketiga hal itu adalah mereka akan bertanya-tanya tentang bidang keahlian apa yang sesuai dengan minat dan bakat mereka sendiri sekaligus dibutuhkan pasar kerja, akan mencari-cari tempat untuk mendapatkan keahlian baru tersebut, dan berapa lama mereka harus menempuh pelatihan dan berapa korbanan finasialnya selama pelatihan.*

 

kompetensi Pekerja PHK Reskilling robot

Related Post

Leave a reply