Perum Bulog Terancam Bangkrut: Bunga Utang Rp 240 Miliar Perbulan

219 views

Nama besar Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) bakal tinggal kenangan saja. Utang membengkak. Setiap bulan, Bulog harus membayar bunga utang sebesar 240 milyar.

Gedung Perum Bulog

Reaktor.co.id – Ibarat sebuah kapal besar, Perum Bulog di ambang karam. Betapa tidak, kondisi perusahaan milik negara yang pada 10 Mei 2019 lalu genap berusia 52 tahun itu saat ini bisa diibaratkan ‘hidup segan mati tak mau’.

Ada apa gerangan dengan Perum Bulog? Saat ini, Bulog tengah dirundung beban berat. Alih-alih untuk menghasilkan untung, perusahaan ini justru didera berbagai kesulitan sekadar untuk bertahan hidup.

Utang yang kian membengkak sedang melilit tubuh Bulog. Tak tanggung-tanggung, setiap bulannya Bulog harus membayar bunga utang sebesar 240 milyar.

Dari mana asalnya utang tersebut? Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Budi Waseso, menjelaskan, Bulog mulai berutang saat mendapatkan penugasan resmi dari negara untuk membeli atau menyerap gabah petani. Nah, uangnya bersumber dari pinjaman dengan tingkat bunga komersial.

Dirut Perum Bulog, Budi Waseso

Bersamaan dengan tugas sosial itu, Perum Bulog diberikan wewenang khusus untuk mencari keuntungan sebagaimana lazimnya sebuah perusahaan. Keuntungan Bulog selama ini didominasi oleh penyaluran (penjualan) beras sejahtera (Rastra) dan beras miskin (Raskin) kepada kelompok masyarakat miskin di Indonesia. Dengan mekanisme itu Perum Bulog bisa bertahan. Cicilan utang pun relatif bisa diselesaikan setiap bulannya.

Tapi, kondisi saat ini jauh berbeda. Perum Bulog kini tak lagi mendapatkan penugasan khusus menyalurkan Rastra/Raskin. Bulog tidak lagi diberi peluang untuk menyalurkan Rastra/Raskin, karena diganti dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Manakala Raskin/Rastra diganti bantuan nontunai, secara teoritis tidak ada lagi penyaluran bantuan pangan dari Bulog yang dalam setahun bisa mencapai 2,8 juta-3,4 juta ton itu. Di sisi lain, kewajiban Bulog menyerap gabah/beras petani terus dipacu. Akibatnya, gudang-gudang Bulog penuh dengan stok beras yang menuntut anggaran untuk perawatan agar tidak rusak.

Dengan kata lain, Perum Bulog kehilangan salah satu sumber pendapatan utamanya sebagai sebuah perusahaan. Akibatnya, utang Perum Bulog semakin menumpuk.

“Bulog harus menyiapkan anggaran Rp 14 sampai Rp 16 miliar setiap hari yang berasal dari bunga dan operasional. Belum pinjaman kami yang luar biasa. Ini satu bulan kami kalau membayar bunga Rp 240 sampai Rp 250 miliar, itu baru bunganya,” ungkap Budi Waseso dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9 September 2019).

Mantan Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) yang popular disapa Buwas itu mewanti-wanti anggota Dewan, jika terus dibiarkan tanpa bantuan konkret, Perum Bulog bakal kolaps dan akan hilang dalam sejarah negara ini.

Dalam rapat dengan Komisi IV DPR, Perum Bulog mengusulkan anggaran sebesar Rp 12,6 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Anggaran sebesar itu akan dialokasikan untuk komoditas beras Rp 5,8 triliun dan untuk komoditas nonberas (jagung, kedelai, gula dan daging) Rp 6,7 triliun. (AF)*

 

bantuan pangan non tunai budi waseso buwas kapal karam perum bulog rastra/raskin reaktor

Related Post

  1. author

    […] Perum Bulog Terancam Bangkrut: Bunga Utang Rp 240 Miliar Perbulan […]

Leave a reply