Perpecahan Serikat Pekerja, Penyakit Kekanak-Kanakan yang Mesti Dibuang

627 views

Perpecahan merupakan malapetaka yang sedapat mungkin dihindari dalam perjalanan serikat pekerja (SP) yang tengah memperjuangkan kesejahteaan dan kemajuan bersama. Perpecahan SP yang disebabkan egoisme dan sikap oportunis dari segelintir pengurus atau anggota SP bisa menghancurkan posisi tawar dan melemahkan perjuangan.

Reaktor.co.id – Akhir-akhir ini media massa gencar memberitakan fenomena perpecahan SP. Seperti ekspos tentang dua kubu SP di lingkungan PT Garuda Indonesia Tbk.

Serikat Pekerja Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi) mendatangi Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (9/12), guna menjalin komunikasi dengan pihak Kementerian. Saat ini SP awak kabin pecah menjadi dua kubu, yakni Ikatan Awak Kabin Indonesia (Ikagi) versi pimpinan Zaenal Muttaqin dan Ikagi versi pimpinan Achmad Haeruman.

Sekretaris Jenderal Ikagi Jacqueline Tuwanakotta yang berada dalam kubu Zaenal Muttaqin mengatakan bahwa karyawan Garuda Indonesia merasa senang dengan pemecatan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara karena terjerat kasus penyelundupan motor Harley Davidson bekas dan dua sepeda Brompton dalam pesawat baru Airbus A330-900.

“Saat ini karyawan sudah merasa senang ketika Ari Askhara diturunkan, dicopot, banyak karyawan yang bersyukur, bahagia karena selama beliau memimpin banyak sekali kerusakan di Garuda Indonesia,” ujar Jacqueline saat unjuk rasa di Kementerian BUMN dikutip CNN.

Kelola SDM Sewenang-wenang

Dia mengatakan bahwa selama kepemimpinan Ari, banyak kebijakan yang dinilai merugikan karyawan. Misalnya saja mengenai jam kerja yang dirasa melewati batas, dan jika melakukan kesalahan maka langsung dipindahkan ke Papua yang kemudian kesalahan yang harusnya masuk dalam pembinaan.

Selain itu Dirut Ari juga tidak menghargai perjanjian kerja bersama (PKB) dan cenderung sewenang-wenang dalam mengelola SDM perusahaan. Beban kerja karyawan dan kesejahteraan karyawan tidak merata dan hanya dinikamti oleh sekelompok karyawan yang dekat dengan direksi.

Sementara itu, Anggota Sekretariat Bersama (Sekber) Garuda Indonesia yang juga anggota Ikagi kubu yang pro dirut Ari, yakni kelompok Achmad Haeruman menyatakan bahwa kondisi Garuda Indonesia di bawah kepemimpinan Ari Ashkara justru kondisinya baik-baik saja dan tidak ada pelanggaran terhadap waktu kerja karyawan.

Kubu tersebut membantah semua data dan fakta yang telah dibeberkan oleh kubu Zaenal Cs.
Salah seorang anggota IKAGI dari kubu Zaenal, Hersanti, yang juga mengaku sudah 30 tahun bekerja di Garuda Indonesia menyatakan asosiasi resmi diketuai oleh Zainal. Menurutnya, Achmad merupakan ketua IKAGI hasil ‘bentukan’ Ari Askhara.

“Saya kenal Achmad, itu teman saya juga, tapi Achmad pembentuk IKAGI yang baru, yang dibentuk Ari Askhara. Jadi IKAGI yang lama itu Zaenal dan Jacqueline (Sekjen IKAGI),” katanya kepada wartawan di Kementerian BUMN.

Era Persatuan SP

Memecah belah SP menurut tokoh nasional Arif Minardi merupakan modus kuno yang masih saja dilakukan oleh pihak eksternal maupun dari kalangan internal SP sendiri yang tergoda bujuk rayu dan jiwanya oportunis. Sehingga tega mengorbankan organisasi SP dan kawan sekerja.

“Cara memecah belah seperti itu mirip taktik penjajah yang dalam era Industri 4.0 sekarang ini mestinya tidak mempan lagi. Organisasi SP mestinya sudah memiliki kekebalan menghadapi bujuk rayu dan usaha yang memecah belah”, ujar Arif.

Lebih lanjut Arif Minardi yang saat ini adalah calon kuat dan mendapat dukungan luas untuk menjabat Ketua Umum Konfederasi SPSI, menyatakan bahwa saat ini adalah era persatuan bagi segenap serikat pekerja.

Saatnya menolak segala bentuk upaya pecah belah lalu menjunjung tinggi Mahatma Persatuan dikalangan SP. Mahatma adalah jiwa besar yang gandrung akan persatuan, jiwa yang meneguhkan perjuangan SP, baik lewat aksi di lapangan maupun lewat aktivitas kecendekiawanan atau intelektualitas aktivis serikat pekerja/buruh. Dengan cara curah pemikiran untuk menyusun konsep dan solusi kebangsaan yang berbentuk tulisan dan grup diskusi.

Arif Minardi saat ini telah menyusun konsepsi dan grand strategi untuk memperjuangkan kaum pekerja dari berbagai aspek. Tidak hanya sebataskem yang tertuang dalam pasal-pasal yang tercantum dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 saja,,tetapi lebih luas lagi, karena persoalan pekerja/buruh kait mengkait dan bertemali dengan banyaak aspek, seperti masalah kemiskinan, politik anggaran negara, strategi industrialisasi dan anatomi kekuasaana yang acap kali berdusta terhadap kaum buruh.

Konsepsi Arif Minardi bisa dibilang sebagai haluan negara versi buruh. Konsepsi setebal ratusan halaman yang berbasis data resmi itu layak disosialisasikan hingga ke sel terkecil gerakan SP. Sehingga bisa membangkitkan solidartitas dan otomatis daya literasi buruh.

Mengutip konsepsi dan grand strategi yang telah disusun oleh Arif Minardi bahwa, eksistensi serikat pekerja/serikat buruh dalam upaya membangun bangsa demi mensejahterakan anggota dan keluarganya menghadapi tantangan, baik internal maupun eksternal.

Tantangan internal tercermin dalam pertumbuhan serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi. Dari sekitar 9 juta pekerja/buruh yang menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh pada awal reformasi 1998, kini hanya tersisa 2.717.961 pekerja/buruh. Dari 192.238 perusahaan, serikat pekerja/serikat buruh hanya eksis 11.852 perusahaan.

Federasi dan Konfederasi naik drastis, federasi serikat pekerja/serikat buruh membengkak menjadi 137, dan konfederasi menjadi 15.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa seluruh SP telah berjuang dan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh. Ada hasil yang didapatkan oleh pekerja/buruh. Namun demikian, secara umum pekerja/buruh relatif masih belum sejahtera.

FSP LEM SPSI juga telah berupaya untuk menyatukan dan beraliansi dengan beberapa serikat pekerja seperti Gekanas, dan masih berusaha terus untuk menyatukan gerakan serikat pekerja/serikat buruh.

Butuh waktu untuk dapat menyatukan seluruh gerakan serikat, dan hasilnyapun belum tentu bisa bersatu, mengingat selalu ada kepentingan pribadi, kelompok/golongan, ego sektoral. Oleh karena itu harus ada strategi terobosan.

Melihat peran dari kekuasaan dalam menentukan kebijakan dalam hal apapun khususnya ketenagakerjaan, maka menurut pandangan kami, pekerja/buruh harus mulai memikirkan untuk masuk dalam pemerintahan, bahkan jika diperlukan ikut dalam pencalonan presiden, gubernur, bupati/walikota, anggota parlemen, dan kedudukan-kedudukan strategis lainnya.

Strategi apa yang diperlukan untuk dapat menduduki jabatan-jabatan strategis tersebut, apakah membentuk partai, bekerjasama dengan partai, atau bentuk-bentuk kerjasama lainnya.

Untuk membentuk partai, sepertinya saat ini kurang tepat karena citra partai politik yang sedang buruk akibat maraknya korupsi, penyalahgunaan wewenang para penyelenggara negara.

Kalkulasi Politik

Saat ini kekuatan pekerja/buruh formal berjumlah 50 juta orang, apabila dengan keluarganya dapat mencapai sekitar 75 hingga 100 juta orang.

Dengan jumlahnya yang sangat besar tersebut, dimana angka 50 juta itu hanyalah pekerja/buruh formal saja, jika ditambah dengan pekerja/buruh informal beserta keluarganya, jumlahnya dapat mencapai 80 persen hingga 90 persen penduduk Indonesia.

Secara kalkulasi politik jumlahnya yang demikian besar pekerja/buruh dapat ikut mempengaruhi dan menentukan kebijakan dan program negara yang terkait dengan hajat hidup rakyat dimana pekerja/buruh termasuk didalamnya.

Bahkan seharusnya pekerja/buruh melalui perwakilannya dapat menduduki jabatan-jabatan penting dan strategis negara, mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD, dan jabatan-jabatan penting lainnya .

Ada wadah organisasinya yaitu serikat pekerja/serikat buruh, jaringan yang luas yaitu antar serikat pekerja sehingga kalkulasi politik menjadi sangat realistis.

Untuk itu pengurus organisasi SP perlu pengetahuan yang memadai, yaitu mampu membuat konsep alternatif untuk menyelesaikan permasalahan negara yang sedang krisis multidimensional terutama kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Kalkulasi politik tersebut diatas, apabila dikonsolidasikan dapat menjadi kekuatan yang sangat dahsyat.
Karena kalkulasi itu ada organisasinya yaitu SP/SB yang walaupun sebagian besar pekerja/buruh belum masuk SP/SB, tetapi melalui jaringan SP/SB yang tersebar diseluruh Indonesia, maka berdasarkan kesamaan nasib, anggota SP/SB dapat menggalang dan mempengaruhi pekerja/buruh yang belum berorganisasi untuk mendukung konsep yang ditawarkan.

Artinya kita sudah mempunyai captive market, tidak ada komunitas yang senasib sebesar pekerja/buruh, bahkan partaipun tidak mempunyai captive market. Makanya partai-partai ketika musim kampanye mendatangi SP/SB.

Evaluasi Atasi Kelemahan

Banyak penyebab tidak bersatunya gerakan buruh, mulai dari perpecahan, ego sektoral, kepentingan kelompok/golongan, kepentingan pribadi, dan godaan-godaan baik dari penguasa maupun dari pengusaha.

Ditambah lagi kurangnya kesadaran tentang politik dan kekuasaan yang memegang peranan sangat penting dalam membuat kebijakan/program, pengalokasian anggaran, juga sebagai regulator dan eksekutor dalam pelaksanaan kebijakan/program untuk mensejahterakan seluruh rakyat termasuk pekerja/buruh didalamnya.

Hal itu menyebabkan perjuangan pekeja/buruh seperti jalan ditempat. Sebenarnya ada hasil tetapi relatif masih jauh dari harapan, hal ini terlhat dari masih rendahnya upah rata-rata pekerja/buruh secara nasional yang sekitar 2,9 juta rupiah per bulan.

Pekerja/buruh hanya menjadi seperti komoditas ekonomi dan politik tanpa berperan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi hajat hidup kaum pekerja/buruh.

Mengapa pekerja/buruh krisis kepercayaan terhadap Pengurus SP/SB. Perilaku kurang amanah oknum oknum pengurus/aktivis pekerja/buruh yang harusnya menjadi teladan bagi pekerja/buruh malahan sebaliknya, makin memperburuk citra SP/SB dan menjadikan potret gerakan SP/SB sering dicurigai sebagai gerakan yang tidak murni memperjuangkan pekerja/buruh.

Walaupun sesungguhnya oknum-oknum itu tidak banyak tetapi akan digeneralisir seolah-olah semua gerakan hanyalah untuk kepentingan sesaat saja, ibarat peribahasa “nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Bagaimana untuk mengatasi kelemahan tersebut.Sudah sering dilakukan oleh para aktivis pekerja/buruh dalam upaya penyatuan gerakan tersebut, pernah bersatu kemudian pecah lagi.

Menurut pendapat kami, gagalnya upaya-upaya tersebut disebabkan salah satunya karena tidak adanya cita-cita, tujuan, strategi yang konkrit yang dapat digunakan sebagai kerangka pikir, landasan, dan pijakan dalam pergerakannya. Untuk hal inilah kami mempunyai gagasan, ide, kajian yang kami tuangkan dalam satu konsep yang kami beri judul “Persembahan Pekerja/Buruh Untuk Indonesia Adil Makmur”

Ambil Peluang

Melihat kekuatan pekerja/buruh seperti yang telah diuraikan diatas, ikwal kekuatan dengan kuantitas yang besar yaitu 50 juta pekerja/buruh formal beserta keluarganya yang dapat mencapai sekitar 75 – 100 juta orang, belum lagi jika dapat mempengaruhi pekerja/buruh informal, jumlahnya akan mencapai 80 persen penduduk negara ini.

Dan kelemahan berupa belum bersatunya gerakan pekerja/buruh, yang apabila dapat diatasi dengan satu konsep sebagai landasan dan pijakan dalam gerakan pekerja/buruh, bukanlah suatu hal yang mustahil pekerja/buruh dapat ikut menentukan kebijakan negara dan dapat mempengaruhi konstelasi politik nasional.

Serta mempunyai peluang untuk menempatkan pekerja/buruh di lembaga lembaga tinggi negara seperti eksekutif, legislatif, yudikatif, juga menduduki jabatan-jabatan penting dan strategis negara, mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD, dan jabatan-jabatan penting lainnya.

Sudah selayaknya jabatan-jabatan strategis tersebut digunakan untuk kebaikan seluruh rakyat Indonesia termasuk pekerja/buruh di dalamnya, dengan demikian tujuan utama yaitu untuk menghapus kemiskinan rakyat Indonesia dan mensejahterakan pekerja/buruh dapat tercapai.

Demi tercapainya cita-cita dan tujuan mulia tersebut, maka kita harus menyusun strategi dan rencana kerja yang terukur dan tepat sasaran berdasarkan pengalaman berorganisasi dan beraktivitas selama ini serta berdasarkan pemetaan melalui SWOT Analysis seperti yang selama ini sering kami uraikan. (TS).*

konsep kebangsaan Arif Minardi persatuan serikat pekerja

Related Post

Leave a reply