Perlindungan Pekerja Lansia saat Pandemi

345 views

Pekerja lansia di negeri ini masih banyak jumlahnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 penduduk lansia berjumlah 24,49 juta orang. Dari jumlah itu sekitar 49,79 % atau sekitar 12,19 juta orang di antaranya masih aktif bekerja.

Pekerja lansia (Foto Istimewa)

 

Reaktor.co.id – Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait penanganan pandemi Corona (Covid-19) telah diberlakukan. Pembatasan itu semestinya memperhatikan golongan masyarakat yang paling rentan yakni kaum lansia.

Perlu skema perlindungan terhadap kaum lansia yang kebanyakan tidak memiliki jaminan sosial yang layak. Program Kartu Prakerja yang banjir kritik karena pelaksanaannya amburaduldul dan sarat KKN, sebaiknya sebagian dananya dialihkan untuk program perlindungan pekerja lansia.

Crisis center atau tim yang dibetuk oleh serikat pekerja/buruh sebaiknya lebih peduli dengan nasib pekerja lansia.

Orang lanjut usia atau lansia lebih rentan terinfeksi Covid-19 karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih rendah. Perlu solusi segera untuk menyelamatkan para lansia dari keganasan Covid-19. Apalagi hingga saat ini masih banyak lansia yang terpaksa bekerja untuk kelangsungan hidupnya.

Pekerja lansia di negeri ini masih banyak jumlahnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 penduduk lansia berjumlah 24,49 juta orang atau sekitar 9,27 % dari total penduduk Indonesia. Dari jumlah itu sekitar 49,79 % atau sekitar 12,19 juta orang di antaranya masih bekerja.

Kondisi lansia saat ini sangat memprihatinkan karena sebagian besar tidak memiliki jaminan pensiun atau tunjangan hari tua. Dalam situasi pandemi Covid-19 sekarang ini perlu solusi konkrit untuk melindungi pekerja lansia. Program jaring pengaman sosial karena bencana mestinya mengutamakan para lansia.

Semakin banyak pekerja lansia kondisinya sangat mengenaskan karena tidak punya skema pembiayaan hari tua yang layak. Perlu menengok pembiayaan lansia di negara maju yang cukup ideal saat menghadapi pandemi seperti ini.

Di Indonesia hanya sebagian kecil saja lansia yang telah menyiapkan dirinya dengan pembiayaan lewat asuransi. Sebagian besar lansia tidak memiliki skema apapun termasuk pekerja lansia yang masih harus bekerja mencari nafkah.

Bahkan, skema jaminan hari tua yang selama ini dijalankan oleh BP Jamsostek jumlahnya sangat kecil dan masih jauh dari kebutuhan pembiayaan lansia. Jumlah iuran jaminan hari tua (JHT) yang ditetapkan 5,7 % dari upah. Perusahaan menanggung 3,7 %, dan sisanya 2 % dibayar oleh karyawan melalui pemotongan gaji.

Di negara maju, minimal dana yang mesti diinvestasikan untuk asuransi buruh lansia adalah sekitar 10 % – 30 % dari gaji. Besaran JHT dari BP Jamsostek jumlahnya masih jauh dari cukup untuk pembiayaan ketika buruh yang bersangkutan menginjak lansia. Oleh sebab itu pemerintah sebaiknya memberikan kartu buruh lansia untuk menambah tunjangan hari tua.

Sudah saatnya menata skema pembiayaan terhadap kaum lansia. Penataan itu berangkat dari realitas bahwa pada usia tertentu, seseorang berangsur-angsur akan kehilangan kemampuan untuk melakukan hal-hal dasar, seperti berjalan.

Dalam kondisi seperti diatas mereka sangat rentan terhadap berbagai penyakit.Oleh karenanya, para perencana keuangan global menyarankan perlu memasukkan biaya perawatan di usia lansia dalam daftar kebutuhan dana pensiun.

 

Pekerja lansia yang masih aktif bekerja

 

Skema Pembiayaan

Skema pembiayaan lansia standar global contohnya adalah long term care insurance (LTC). Skema ini cukup ideal untuk menjawab kebutuhan akan perawatan dan penjagaan bagi seseorang yang sudah kehilangan kemampuan untuk melakukan hal-hal dasar seperti para lansia.

Sudah saatnya program jejaring pengamanan sosial akibat pandemi Covid-19 diarahkan kepada penanganan lansia. Kini jumlah lansia di Indonesia sekitar 9,27 % jumlah penduduk. Setiap tahun, jumlah lansia bertambah rata-rata 450 ribu orang. Dari aspek sebaran, 80 % lansia berada di pedesaan.

Ada agenda global yang terkait dengan lansia dan patut untuk diadopsi. Salah satunya adalah The Gerontological Society of America yang memiliki fokus untuk memperbaiki kualitas kehidupan lansia. Antara lain usaha perbaikan prasarana khususnya hunian bagi lansia.

Hingga kini dukungan prasarana yang diberikan oleh pemerintah kepada penduduk lansia masih jauh dari memadai. Hal itu bisa dilihat dari sedikitnya jumlah Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) dibanding dengan jumlah lansia yang membutuhkannya.

Ironisnya, bangunan panti lansia di negeri ini sebagian besar kurang layak karena memang sejak awalnya tidak didesain untuk hunian lansia. Perlu program untuk membangun panti lansia yang mampu memenuhi kebutuhan sosialisasi lansia. Desain panti lansia juga harus bisa mendukung peningkatan kognitif lansia.

Panti sedapat mungkin memperhatikan faktor kemunduran fungsi tubuh dan berkurangnya peran di masyarakat bagi para lansia. Hal itu menyebabkan emosi yang labil, mudah tersinggung, dan kecewa berlarut-larut. Lansia dengan problem diatas menjadi rentan terhadap gangguan psikiatrik.

Problema diatas muncul dikarenakan rendahnya tingkat subjective well being pada diri lansia. Tingkat subjective well being sangat penting bagi lansia karena dengan itu dapat membantu lansia menghadapi masalah dirinya dan menumbuhkan sikap positif. (*)

Perlindungan Pekerja Lansia saat Pandemi

Related Post

Leave a reply