Peran Serikat Pekerja Membangun Budaya Perusahaan

248 views

Mengembangkan keterampilan dan keahlian pekerja serta ikut memajukan perusahaan merupakan fungsi serikat pekerja sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. Salah satu usaha untuk memajukan perusahaan adalah membangun budaya perusahaan.

Anggota Serikat Pekerja menerapkan Budaya 3S ( Foto PUK LEM ADM )

Reaktor.co.id – Peran serikat pekerja (SP) untuk membangun budaya perusahaan ditunjukkan oleh PUK Serikat Pekerja LEM SPSI Astra Daihatsu Motor.

PUK yang baru mengadakan konsolidasi total itu mulai menggalakkan Budaya 3S (senyum, salam,sapa) di lingkungan perusahaan. Untuk mewujudkan corporate culture diperlukan rekayasa sosial lintas disiplin ilmu serta memberikan peran yang berarti kepada SP.

Pengurus SP menyadari setiap anggota memiliki potensi yang hebat, dan dapat dikembangkan untuk berperan penting dalam kemajuan perusahaan. Mengacu pada nilai perusahaan “Winning Concept, Winning System & Winning Team”, pengurus berusaha meningkatkan kualitas anggota sehingga mampu berkontribusi dan mengembangkan diri secara optimal.

Untuk kedepan pengurus diharapkan membuat program yang lebih konkret berupa pelatihan dan pengembangan hard skill dan soft skill bagi setiap anggota SP berdasarkan kompetensinya.

Pengurus Serikat Pekerja konsolidasi organsisasi membangun budaya perusahaan ( Foto PUK LEM ADM)

Daya Ungkit Kebudayaan

Kebudayaan selayaknya menjadi kata kunci dalam program pembangunan. Istilah kebudayaan berasal dari bahasa Latin cultura atau colere yang berarti mengolah. Kebudayaan tidak sekedar seni tradisi. Lebih dari itu, kebudayaan bisa membentuk dan memajukan korporasi dan ketenagakerjaan.

Masalah etos kerja sulit ditingkatkan tanpa melalui rekayasa kebudayaan. Rekayasa itu bisa membentuk pekerja untuk bekerja keras dan cerdik ( work hard and smart ). Serta membentuk sikap positif pekerja yang selalu berusaha untuk maju atau sikap “N ach” (Need of achievement).

Kebudayaan mencerminkan perilaku yang dipelajari (learned behaviour) yang ditularkan dari satu anggota masyarakat kepada yang lainnya. Beberapa unsur kebudayaan ditularkan antar generasi.

Kebudayaan suatu masyarakat sangat menentukan ketentuan-ketentuan yang mengatur bagaimana aktivitas bisnis atau perusahaan dijalankan dalam masyarakat tersebut. Perusahaan multinasional seperti AT&T, General Electric, Google, DuPont yang tingkat kemajuannya melesat sangat jauh juga telah membangun budaya korporasinya secara konsisten.

Budaya Tertawa Tulus

Budaya tertawa tulus ternyata semakin penting bagi korporasi. Bahkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh konsultan internasional Hay Group menyatakan bahwa tipe kepemimpinan organisasi atau manajemen korporasi yang paling efektif pada era sekarang ini adalah yang sarat humor.

Untuk menghadapi krisis, perusahaan multinasional sekarang ini telah menggencarkan budaya tertawa tulus. Terapi tertawa, senam tertawa, dan eksploitasi humor telah menjadi trend di perusahaan multinasional.

Dalam konsteks tersebut terlihat adanya transformasi budaya kerja dari yang serba kaku dan terburu waktu, menjadi ruang atau situasi kerja yang mampu berbagi emosi.

Ikwal tertawa mendapat perhatian yang cukup besar dalam bentuk penelitian terkait kinerja otak manusia. Seperti yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terus melakukan riset mengenai budaya tertawa dan fungsi otak.

Secara ilmiah tertawa tulus sangat berbeda efek dan maknanya dengan tertawa palsu. Tertawa tulus sangat berguna untuk memompa motivasi diri, terapi penyembuhan jasmani dan rohani, serta obat pengusir stress atau depresi yang paling ampuh. Tertawa tulus bisa dideteksi secara ilmiah, begitu pula dengan tertawa palsu.

Tertawa tulus atau senyuman sejati oleh pakar psikologi Ekman disebut dengan istilah tertawa Duchenne. Istilah tersebut diambil dari nama seorang neurologis asal Perancis Duchenne de Boulogne.

Dia melakukan riset pertama dalam bidang tersebut pada 1980-an. Teorinya menyatakan bahwa senyuman yang tulus melibatkan secara simultan dua otot wajah , yakni otot zygomatic major, yang memanjang dari tulang pipi dan mengangkat sudut-sudut mulut.

Dan yang kedua bagian luar dari otot obicuralis oculi, yang mengelilingi mata, dan terlibat dalam menarik ke bawah alis mata dan kulit di bawah alis mata, dan menarik ke atas kulit di bawah mata, dan mengangkat pipi-pipinya.

Tertawa atau senyuman yang artificial atau palsu hanya melibatkan otot zygomatic major. Duchenne menyimpulkan bahwa emosi dari kesenangan yang jelas diekspresikan pada wajah oleh kontraksi gabungan antara otot zygomatic major dan obicuralis oculi.

Yang pertama mematuhi keinginan kita, namun yang kedua hanya dimainkan oleh emosi-emosi yang manis oleh misteri jiwa. (Totoksis).*

Budaya Perusahaan tertawa tulus

Related Post

Leave a reply