Penguatan Mental untuk Penyandang ODP, Perlu Tips Agar Tidak Stres yang Bisa Turunkan Imunitas.

315 views

Menyandang predikat sebagai orang dalam pemantauan (ODP) perlu penguatan mental dan ketenangan jiwa. Sesaat setelah dinyatakan sebagai ODP jangan sampai kondisi yang bersangkutan menjadi super cemas, stres hingga depresi. Karena kondisi seperti ini justru bisa menurunkan imunitas atau kekebalan tubuh yang bisa berakibat fatal.

 

Reaktor.co.id- Perlu persiapan mental dan tips untuk menyikapi status sebagai penyandang predikat ODP. Semua pihak perlu memberikan dukungan spiritual dan kiat-kiat yang bisa memberikan ketenangan dan rasa optimis bagi penyandang ODP.

Setelah diadakan rapid test atau tes massal Covid-19 yang diselenggarakan diberbagai daerah, diperkiarkan terjadi lonjakan jumlah orang yang positip terinfeksi Covid-19. Oleh sebab itu perlu tindakan yang bisa menguatkan mental bagi yang dinyatakan positip terinfeksi.

Ada sepuluh tips atau kiat bagi penyandang ODP yang dikemukakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia DKI Jakarta (PDSKJI Jaya ) berdasarkan pengalaman dan penuturan beberapa ODP di DKI Jakarta.



Merujuk buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Kementerian Kesehatan RI yang telah direvisi dua kali, dengan edisi ketiga yang terbit pada tanggal 16 Maret 2020.

Definisi ODP adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus tersebut. Selain itu, bisa juga orang sehat yang pernah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi Covid-19.

“Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya terus meningkat. Karantina diri selama 14 hari rasanya pasti lama sekali diiringi rasa was-was,” tutur Nova Riyanti Yusuf , Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Cabang DKI Jakarta.

PDSKJI Jaya telah menghimpun informasi tentang pengalaman orang-orang yang menjadi ODP dan membagi tips dari mereka untuk masyarakat. Dan juga jangan stigma mereka yang menjadi ODP, karena tidak sengaja kontak dengan orang yang terinfeksi COVID-19 bisa terjadi kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

“Mari menjaga kewarasan dengan tetap waspada. Mari saling mendukung satu sama lain dengan perikemanusiaan,” ajakan Nova Riyanti Yusuf (Noriyu) dalam lini massanya.

Nova Riyanti Yusuf  (foto istimewa)

Selain kiat untuk ODP, Noriyu juga mengingatkan manfaat terapi humor atau jenaka terhadap ODP. Bila dilakukan secara teratur bisa melahirkan situasi ceria, yang pada gilirannya bisa menguatkan mental.

Penelitian menunjukkan bahwa tertawa dan sikap kejenakaan dapat menurunkan hormon-hormon stres dan meningkatkan sistem imunitas atau kekebalan tubuh.

Riset dari Robert Provine yang hasilnya tertuang dalam buku “Laughter, A Scientific Investigation” menunjukkan mekanisme biologi ketawa yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Itulah kenapa Noriyu yang juga kreator konten podcast membuat episode “Humor dan Kesehatan Jiwa” (episode ke-6). Tema episode ini sepintas lalu memang kurang sesuai dengan kondisi saat ini.

Namun jika direnungkan secara mendalam justru saat kondisi masyarakat yang penuh kecemasan dan ketegangan diperlukan kejenakaan atau humor-humor yang  bisa membasahi jiwa-jiwa yang cemas dan gelisah. Bukan berarti sikap kejenakaan itu mengurangi empati bagi pengidap penyakit.Kejenakaan yang tulus justru bisa menambah motivasi bagi ODP maupun yang sedang sakit atau dirawat.

“Saya ngobrol-ngobrol dengan dr Andreas, psikiater yang sangat mendalami ikwal humor, sekitar satu bulan yang lalu. Menyiarkan ini hanya sebagai pengingat saja, bahwa kita biasanya humoris. Apa pun kondisi yang menyebalkan dan menyesakkan dada bagi masyarakat Indonesia, dalam sekejap luapan emosi selalu berujung pada meme-meme humor yang mengocok perut karena tertawa,” ujar Noriyu dalam lini massanya.

Noriyu sang perancang UU Kesehatan Jiwa saat dirinya duduk di Komisi IX DPR RI, menyatakan bahwa tertawa dapat mengurangi hormon stres dan meningkatkan sel-sel imun serta antibodi pelawan infeksi. Sehingga meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit.

Lebih jauh dia menyatakan bahwa tertawa melepaskan endorphine, zat kimiawi yang menyenangkan, sehingga endorphine dapat meningkatkan sense of wellbeing dan bahkan menghilangkan rasa sakit sejenak.

Namun saat ini kita semua sedang beradaptasi dengan kondisi yang sama sekali baru dan belum pernah kita alami sebelumnya, yaitu social (physical) distancing. Laughing is most likely not in our menu.

“Jika berkenan mendengarkan. Untuk selalu ingat “The way we were”. I hope we will be able to laugh again. A hearty laugh, not a bitter one. Stay strong and optimistic. There is a light at the end of the tunnel. Untuk mendengarkan para pembaca bisa klik link spotify,” pungkasnya.

Kondisi Lapangan

Kasus di lapangan memang sering menimbulkan tekanan psikis bagi ODP karena banyaknya pihak yang ikut campur. Seperti misalnya yang dialami oleh seorang warga Kabupaten Bogor dengan status Orang Dalam Pengawasan (ODP) Covid-19 pada Minggu 22 Maret 2020 di Sukaraja, Kabupaten Bogor. Dia diperiksa oleh tim kesehatan yang didampingi langsung Kapolres Bogor dan Kasat Brimob Polda Jabar.

Pemeriksaan terhadap warga Kabupaten Bogor tersebut terkait dengan yang bersangkutan mengikuti seminar bulan Februari 2020 lalu, dimana dalam acara tersebut diketahui salah seorang terjangkit virus corona.

Meskipun Kapolres Bogor AKBP Roland Ronaldy, menyatakan bahwa kehadiran dirinya bersama Kasat Brimob Polda Jabar Kombes Pol. Asep Saepudin, selaku Pamen Asistensi dalam gugus pencegahan penyebaran Covid-19 (Virus Corona) di wilayah hukum Polda Jabar.

Namun ada baiknya sebenarnya tidak perlu langsung melakukan pendampingan pengecekan kesehatan terhadap salah satu warga masyarakat. Mestinya tidak perlu beramai-ramai, cukup beberapa orang saja dan tidak perlu heboh.

Dalam pelaksanaan pemeriksaan seorang yang berstatus ODP diatas dipimpin oleh Kasi Surveillance Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Adang Mulyana bersama dengan 3 orang tenaga medis lainnya. Itu mestinya sudah cukup.

Dalam kasus virus corona jenis baru, yaitu SARS-COV-2 penyebab Covid-19, di Indonesia sendiri banyak istilah yang muncul dan menimbulkan kebingungan pada sebagian pasien. Istilah itu di antaranya orang dalam pemantauan ( ODP), pasien dengan pengawasan ( PDP), dan suspek.

Untuk memperjelas apa perbedaan dari ketiga istilah tersebut sebaiknya merujuk
definisi ketiga istilah tersebut berdasarkan yang tercantum di buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Kementerian Kesehatan RI yang telah direvisi dua kali, dengan edisi ketiga terbit pada tanggal 16 Maret 2020.

Secara sederhana bisa dimaknai seperti berikut :

1. Pasien dalam pengawasan (PDP) adalah mereka yang memiliki gejala panas badan dan gangguan saluran pernapasan. Gangguan saluran pernapasan itu bisa ringan atau berat, serta pernah berkunjung ke atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan Covid-19. Tidak hanya itu, PDP ini juga memiliki indikasi atau diketahui pernah berkontak dengan langsung dengan kasus yang terkonfirmasi atau probabel Covid-19.

2. Orang dalam pemantauan ( ODP) adalah mereka yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus tersebut. Selain itu, bisa juga orang sehat yang pernah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi Covid-19.

3. Suspek Sementara adalah istilah lain untuk PDP. Perbedaan utama PDP dan ODP adalah apakah ada gabungan panas badan dan gangguan pernapasan, dan apakah pernah berkontak dengan kasus terkonfirmasi.

Namun, permasalahannya adalah bahwa sakit Covid-19 ini bisa muncul dengan gejala ringan ataupun berat, dan diagnosis Covid-19 pun memerlukan waktu.

Oleh sebab itu, orang-orang yang memenuhi kriteria ODP maupun PDP dianggap berpotensi menularkan Covid-19 sampai terbukti sebaliknya dan harus menjalankan isolasi.

Dari sisi isolasi, yang harus dilakukan untuk PDP dan ODP agak berbeda. Isolasi PDP seharusnya dilakukan di rumah sakit, sedangkan ODP harus melakukan isolasi diri dengan berdiam di rumah selama 14 hari atau disebut dengan karantina mandiri. (*)

ODP Covid-19 PDP Covid-19 PDSKJI Jaya

Related Post

Leave a reply