Pemudik Udara Merosot, Pekerja Sewot

289 views

Lebaran kali ini kurang menggembirakan bagi entitas industri penerbangan. Arus pemudik yang semestinya bisa mendulang keuntungan besar kali ini terasa lesu. Para pekerja industri dan jasa penerbangan tampak sewot terkait merosotnya jumlah penumpang udara.

Kondisi penumpang dan kargo udara yang merosot terlihat dari data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Menunjukkan bahwa penumpang dan kargo di 36 bandara Tanah Air sepekan sebelum Idul Fitri 1440 H menurun hingga 21 % jika dibandingkan dengan lebaran tahun lalu. Kenaikan harga tiket pesawat dituding sebagai biang keladi kemerosotan tersebut.

Ironisnya kondisi merosotnya pemudik udara justru dianggap angin lalu oleh maskapai penerbangan. Bahkan BUMN penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk justru optimis dengan kondisi saat ini karena potensi permintaan bisa tiba-tiba meninggi.

Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Juniarto menyatakan korporasinya telah mempersiapkan penerbangan ekstra untuk menghadapi pemudik lebaran.

Bandara merupakan infrastruktur yang strategis bagi pemudik lebaran. Sayangnya sejumlah bandara masih mengandung masalah krusial.

Kondisi bandara baru seperti contohnya di Jawa Barat yakni Bandara Kertajati atau BIJB, menjelang hari Raya Idul Fitri tetap saja sepi. Letak bandara yang terpencil dan tiadanya infrastruktur bandara seperti jalan tol dan kereta bandara semakin membuat BIJB merana kesepian.

Berbagai proyek ekspansi dan renovasi yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura terhadap beberapa bandara hasilnya akan terlihat dalam pelayanan pemudik lebaran kali ini. Masih ada kondisi bandara yang dikepung rapat oleh pemukiman penduduk dan dikelilingi oleh gedung bertingkat. Hal itu tentunya merupakan masalah serius bagi penerbangan.

Masalah lainnya adalah pengembangan apron bandara. Masih ada beberapa bandara yang kondisi area apron sempit sehingga jarak antar wingtip tidak sesuai standar regulasi dan posisi parkir pesawat nose out sehingga mendekati strip runway.

Langkah PT Angkasa Pura untuk mengembangkan terminal dan apron di beberapa bandara masih terkendala oleh berbagai aspek. Terkait dengan masalah yang berpotensi mengundang bahaya udara, perlu audit kinerja bandara. Dibutuhkan sistem organisasi pengelola bandara yang andal yang didukung SDM berkompotensi tinggi yang mampu mengimplementasikan berbagai regulasi penerbangan.

PENERBANGAN PERINTIS

Masalah serius lainnya terkait angkutan udara bagi pemudik yang perlu diperhatikan adalah penerbangan komuter atau perintis yang melayani daerah terpencil. Pengoperasian pesawat komuter yang beroperasi di bandara perintis sangat rentan dengan rintangan alam. Kondisinya makin rawan karena mahalnya suku cadang impor dan biaya perawatan rutin pesawat.

Pengertian bandar udara perintis adalah bandara yang melayani jejaring dan rute penerbangan untuk menghubungkan daerah terpencil atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain dan yang secara komersial belum menguntungkan.

Secanggih apapun pesawat masih harus menghindari rintangan alam yang berat seperti awan Cumulonimbus, sekelompok burung yang sedang terbang hingga kondisi bandara yang acap kali diterobos binatang ternak atau binatang liar.

Bandara perintis berperan merangsang pertumbuhan ekonomi, menunjang pembangunan dan mengembangkan pariwisata daerah. Hingga kini bandara perintis masih mengandung bermacam kerawanan.

Seperti kondisi runway atau landas pacu bandara yang sering dilalui oleh hewan ternak, dijadikan area bermain sepakbola oleh warga sekitar, sebagai jalan pintas oleh warga sekitar serta dijadikan tempat anak-anak bermain layang-layang.

Tentunya hal itu mengganggu keselamatan penerbangan. Banyak masyarakat yang masih menganggap bandara perintis hanya bandara kecil biasa yang dilalui oleh pesawat kecil, mereka tidak mengetahui sepenuhnya tentang peran bandara perintis ini.

Mestinya kondisi seluruh bandara perintis harus memenuhi prosedur keamanan bandara seperti Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP).

Fasilitas bandara perintis hingga kini ada yang belum memenuhi standar. Misalnya kondisi runway yang tidak beraspal, terminal, ruang tunggu, gudang, kantor, peralatan pemadam kebakaran, alat komunikasi dan juga tenaga ahli yang belum disiapkan.

Kondisi pesawat komuter yang dipakai untuk penerbangan perintis juga masih sarat dengan masaalah. Jumlah pesawat dan SDM penerbangan yang mendukung penerbangan perintis masih kurang. Pesawat komuter kebanyakan bekas pakai atau sewa dari luar negeri.

Mestinya pemerintah jangan terlalu fokus terhadap bandara besar dan pesawat besar yang mengambil route yang gemuk. Akibatnya kurang perhatian terhadap route penerbangan perintis yang secara ekonomi kurang menguntungkan. Kondisinya bertambah rawan karena penerbangan perintis kekurangan SDM penerbangan yang berkompetensi baik.  (Totoksis)

mudik pemudik udara penerbangan transportasi pekerja

Related Post

Leave a reply