Pembodohan Publik, Pakai Buzzer Agar RUU Cipta Kerja Segera Disahkan

594 views

Segala cara dihalalkan agar RUU Cipta Kerja bisa segera digolkan. Ada pihak yang berusaha melemahkan perjuangan serikat pekerja/buruh dengan cara mengerahkan buzzer untuk kampanye bombastis demi RUU tersebut. Pengerahan buzzer merupakan pombodohan publik dan preseden buruk penyusunan undang-undang.

 

Reaktor.co.id- Akhir-akhir ini bertebaran di media sosial konten yang mendengungkan kampanye dengan tagar #IndonesiaButuhKerja. Baik di Twitter maupun Instagram.

Bahkan sejak dua bulan lalu juga marak penyebaran SMS kepada publik yang berisi sanjungan seolah-lah RUU Cipta Kerja dibuat dengan tujuan yang sangat mulia. Seolah-olah RUU Cipta Kerja klaster ketenagakerjaan (Bab IV) bisa menjadi dewa penyelamat dan sangat berarti bagi pekerja.

Padahal menurut para pekerja nyatanya tidak seperti itu, justru dalam draf RUU Cilaka itu, banyak pasal-pasal yang bisa menimbulkan malapetaka dan penindasan terhadap kaum pekerja.

Kampanye terselubung untuk mencari dukungan publik terkait dengan penyusunan RUU Cipta Kerja juga terlihat mencolok di beberapa media mainstream yang selama ini menjadi corong dan pro rezim penguasa.

Para buzzer dikerahkan untuk mengurangi pengaruh dan melemahkan gerakan serikat pekerja/buruh yang selama ini sangat solid dan militan menentang RUU Cipta Kerja dengan cara melakukan aksi unjuk rasa secara sporadis dan terus menerus.

Bahkan hampir seluruh organisasi serikat pekerja/buruh akan melakukan aksi mogok nasional dan unjuk rasa besar-besaran jika RUU Cipta Kerja disahkan begitu saja.

Pemerintah menyatakan bahwa pembahasan RUU Cipta Kerja atau Omnibus Law telah dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) lebih dari 75%.

Timbul pertanyaan besar dibenak masyarakat, “untuk mendorong RUU Cipta Kerja, apakah pemerintah membayar influencer atau buzzer untuk mendukung RUU Cipta Kerja agar segera disahkan ?

Tagar tersebut telah diramaikan oleh influencer, artis dan atlit. Apakah mereka semua dibayar oleh pemerintah?

Dikutip dari CNBC Indoensia, Staf Ahli Bidang Regulasi, Penegakan Hukum, dan Ketahanan Ekonomi Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi mengatakan tidak tahu menahu adanya para selebritis yang menggaungkan #IndonesiaButuhKerja.

 

Menurut Elen, pemerintah melalui Kemenko Perekonomian membantah membayar para influencer atau buzzer tersebut.

“Kami tidak pernah membayar dan tidak mungkin mempunyai anggaran untuk influencer RUU Cipta Kerja. Penyusunan dan pembahasan sesuai dengan ketentuan yang ada,” kata Elen kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/8/2020).

Elen pun tidak tahu kenapa 21 selebritis tersebut menyuarakan #IndonesiaButuhKerja, sebagai bentuk dukungannya untuk mengesahkan RUU Cipta Kerja.

“Kemenko tidak memiliki program yang berkaitan dengan influencer. Namun kami berterima kasih apabila masyarakat ikut menyampaikan dukungannya atas RUU Cipta Kerja,” kata dia melanjutkan.

Dikutip CNBC Indonesia, ada pengakuan dari Satria Ramadhan selaku Manager Aditya Fadila (Adit Insomia) yang mengatakan, Adit Insomia tidak bisa memberikan komentar atas terkait unggahan dirinya di instagram, karena satu dan lain hal.

Seperti diketahui, Aditya melalui akun instagramnya @adit_insomia menuliskan:

INDONESIA BUTUH KERJA. Kalo kangen liburan, pastinya kangen juga kerja. Yang bisa bikin lo liburan,ya karena kerja. Gue kangen kerja kaya tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya. Lebih baik capek kerja, daripada capek nyari kerja. Ye ngga?! Semangat ya buat temen-temen yang kehilangan pekerjaannya di masa sulit ini, yakin kita semua bisa bangkit dengan nantinya makin banyak lapangan kerja dan ciptakerja. Karena kita semua butuh kerja. #IndonesiaButuhKerja.

Satria hanya menjelaskan, Aditya melalui akun @adit_insomia mengaku secara suka rela memposting unggahan mengenai dukungannya terhadap RUU Cipta Kerja. Dan mengakui tidak ada permintaan satu pun yang datang dari pemerintah.

“Adit secara sukarela memposting kampanye #IndonesiaButuhKerja. Betul (Adit memposting secara sukarela dan tidak ada ‘pesanan’ dari pemerintah),” kata Satria melalui pesan singkatnya.

 

Pembodohan Publik

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus menilai meski tak ada aturan yang dilanggar namun menggunakan artis untuk menggalang dukungan terhadap rancangan perundangan ini dianggap tidak tepat.

“Ini terlihat justru seperti upaya pembodohan publik karena yang dikampannyekan oleh influencer itu tak masuk pada tatanan substansi RUU. Sesuatu yang mestinya penting untuk diketahui publik. Karena bagaimanapun, Undang-Undang Cipta Kerja nantinya akan mengikat masyarakat,” kata Lucius.

Dia mengatakan, para artis itu bisa saja tidak paham dengan rancangan perundangan yang mereka kampanyekan tersebut.

“Mereka menerima tawaran kampanye dari pemerintah bukan untuk membangun pemahaman bersama tetapi untuk memberikan legitimasi terhadap apa yang diinginkan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Daripada menggunakan jasa artis maupun influencer, Lucius menyebut pembahasan RUU ini harusnya disosialisasikan secara terang benderang dan dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah. Dengan adanya sosialisasi tersebut, masyarakat bisa kemudian berperan aktif untuk memberikan masukan dan pemerintah harus mendengar hal tersebut.

Terlibatnya artis dan influencer yang bisa saja tidak paham dengan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, dianggap makin memperlihatkan pemerintah sudah tidak sabar untuk segera mengesahkan rancangan perundangan tersebut dan tidak mau membuka ruang sosialisasi bagi masyarakat.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan terus mengebut pembahasan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law. Komunikasi antara pemerintah dan DPR pun terus digodok.

“RUU Cipta Kerja pembahasannya sudah melebihi dari pada 75%. Diharapkan dalam pembahasan akan dilanjutkan. Ini jadi catatan-catatan karena sangat ditunggu berbagai investor termasuk Sovereign Wealth Fund (SWF),” kata Airlangga dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Apindo 2020, Rabu (12/8/2020).

pakai buzzer Agar RUU Cipta Kerja Segera Disahkan Pembodohan Publik

Related Post

Leave a reply