Pekerja Migran Panik, Menaker Cuma Kasih Saran Sedia Stok Masker

235 views

Penyebaran Virus Corona yang kian meluas menimbulkan kepanikan Pekerja Migran Indonesia, termasuk di Hong Kong.

Reaktor.co.id – Rasa takut dan panik kian bertambah karena masker penutup mulut mulai langka dijual di pasaran, karena telah habis diborong ataupun belum ada stok baru.

Tak hanya masker, cairan pembersih tangan atau hand sanitizer pun diburu masyarakat. Alhasil, kelangkaan hand sanitizer juga terjadi di pasaran.

Asisten rumah tangga (ART) asing di Hong Kong merasa cemas atas ketidakmampuan mereka untuk menemukan barang-barang pelindung seperti masker wajah dan pembersih tangan saat kota tersebut bergulat dengan wabah Virus Corona.

Sementara itu, sejumlah ART yang dipecat oleh majikannya memutuskan untuk meninggalkan Hong Kong. Sebagian lainnya diminta untuk kembali ke negara asal mereka sampai krisis kesehatan masyarakat saat ini telah terkendali.

Untuk membantu hal itu, Mission for Migrant Workers and Bethune House telah meluncurkan kampanye yang menyerukan sumbangan masker, sanitiser tangan dan uang untuk membantu 400.000 pekerja rumah tangga di Hong Kong – yang sebagian besar berasal dari Filipina dan Indonesia.

Konsulat negara-negara tersebut juga diharapkan membagikan ribuan masker kepada para pekerja migran kota, tetapi persediaan terbatas dan metode distribusi masih dibahas.

“Pekerja sangat khawatir karena mereka tidak dapat menemukan masker wajah, dan beberapa mengatakan mereka tidak diberi akses rutin atas sanitiser dan cuci tangan antibakteri,” kata Eman Villanueva, seorang pekerja rumah tangga dan juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia, dikutip South China Morning Post.

Nurhalimah, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hong Kong, bercerita kepanikan kian menyeruak di Hong Kong, bahkan mulai terasa sejak 2 pekan lalu.

“Semua panik. baik masyarakat Hong Kong maupun pekerja migran, termasuk pekerja migran Indonesia,” ujar Nurhalimah kepada Bisnis, Rabu (5/2/2020).

Menurut dia, masyarakat umumnya masih beraktivitas seperti biasa, terutama untuk yang bekerja. Namun, aktvitas anak sekolah, mulai dari playgroup hingga universitas, telah dihentikan.

Pekerja migran pun diimbau untuk tidak ke luar rumah ketika hari libur, kecuali jika ada keperluan yang sangat mendesak.

Kebutuhan yang paling mendesak saat ini, menurut Nurhalimah, adalah masker dan hand sanitizer. Pihak KJRI memang menyediakan masker, tetapi dengan jumlah yang sangat terbatas.

“Itu pun kami harus datang ke KJRI di area Causeway Bay, sedangkan kami banyak yang tinggal di penjuru Hong Kong. Untuk ke sana agak susah sebab kami menghindari naik kendaraan umum karena akan berkumpul dengan banyak orang.”

Selain menghadapi persoalan kelangkaan masker dan hand sanitizer, masyarakat juga mulai susah mendapatkan kebutuhan pokok, seperti beras, mi, dan makanan kaleng.

Kepanikan yang tinggi membuat banyak orang memborong makanan untuk stok di rumah. Pada saat yang sama, banyak toko yang tutup atau tidak beroperasi.

“Contohnya di rumah majikan saya. Stok beras tinggal 3 hari. Sudah 3 hari ini kami pergi ke toko untuk belanja kebutuhan, tapi stok di toko pun kosong,” ungkapnya.

Ida Fauziyah

Respon Menaker

Setelah berkomunikasi langsung dengan Staf Teknis Ketenagakerjaan di KBRI Singapura, kabar tentang seorang pekerja migran Indonesia yang terinfeksi akhirnya terkonfirmasi. Korban saat ini tengah dirawat dan dikarantina di rumah sakit Singapore General Hospital.

“Saya telah mendengar langsung dari Pak Devril, Staf Teknis kami di Singapura tentang pekerja kita yang terkena virus Corona. Usianya 44 tahun dan bekerja sebagai pekerja rumah tangga (domestik) di sana. Saya sudah minta agar Staf Teknis memonitor terus perkembangan korban. Meskipun belum boleh dibezuk, “demikian Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam siaran persnya, Selasa (4/2).

“Ini musibah ya. Tapi anak-anakku pekerja di Singapura jangan panik. Tetap waspada, kurangi keluar rumah kalau tidak perlu sekali. Sedia stok masker sebanyak-banyaknya.

Sekali lagi jangan panik. Tetap kerja seperti biasa namun waspada. Beri pengertian kepada majikan bahwa kita harus sama-sama mengurangi resiko tertular. Kalau jenis pekerjaan kalian beresiko, ya bicaralah dengan majikan baik-baik,” lanjut Ida.

Berdasarkan laporan Staf Teknis, Devril, semua korban yang terinfeksi sudah ditangani secara medis dan diisolasi. Dari keseluruhan korban hanya ada 1 WNI/PMI.

“Kami terus memantau dan siap memberi dukungan apapun bentuknya. Bukan hanya di Singapura tapi juga Hongkong dan Taiwan. Mudah-mudahan tidak ada lagi anak-anak kita yang terinfeksi di sana, ” kata Menaker.

“Kami terus memantau dan siap memberi dukungan apapun bentuknya. Bukan hanya di Singapura tapi juga Hongkong dan Taiwan. Mudah-mudahan tidak ada lagi anak-anak kita yang terinfeksi di sana, ” kata Menaker. (TS).*

Pekerja Migran panik akibat Corona

Related Post

Leave a reply