Pekerja Medis Terpapar Covid-19 Tergolong Kecelakaan Kerja, APD Harus Disempurnakan

371 views

Setidaknya sudah 23 pekerja medis di tanah air (hingga 23/03/2020) terpapar Covid-19 . Salah satu penyebabnya adalah masalah alat pelindung diri (APD) pekerja medis yang terbatas dan kurang layak. Dari aspek ketenagakerjaan terpaparnya para pekerja medis itu mestinya bisa dikategorikan sebagai kecelakaan kerja. Sehingga para pekerja itu mesti diberikan bantuan dan santunan oleh pemerintah dan BP Jamsostek. Keluarga pekerja medis yang meninggal dunia perlu mendapatkan santunan dan jaminan yang baik untuk masa depannya.

Reaktor.co.id- Tenaga kerja medis yang terdiri dari profesi kedokteran, perawat, teknisi alat kesehatan, hingga sopir ambulan merupakan phak yang sangat rentan mengalami kecelakaan kerja pada saat pandemi Covid-19. Salah satu bentuk kecelakaan kerja adalah terpapar Covid-19 lalu jatuh sakit dan jiwanya bisa terenggut.

Selama mereka sakit dan dirawat, para pekerja medis itu harus mendapakan kelangsungan pendapatan dan gaji. Serta tunjangan lainnya untuk keluarganya. BP Jamsostek dan pemerintah daerah harus proaktif terkait dengan hak pekerja diatas. Mereka jangan hanya ditaburi simpati lewat media, mesti dberikan penghargaan yang konkrit.

Dari kalangan kedokteran saja, sudah jatuh korban jiwa dari mereka yang berada di garda depan penanganan wabah Covid-19. Enam dokter telah meninggal dunia. Yakni, Hadio Ali, Djojo Judodjoko, Laurentius P., Adi Mirsaputra, Ucok Martin, dan Toni Silitonga.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) pun menyatakan duka yang mendalam.
Ketua Pengurus PB IDI Daeng M. Faqih menyatakan duka yang mendalam karena ada rekan sejawatnya yang juga menangani kasus Covid-19 telah berpulang.

Daeng menyatakan tak diberi tahu jumlah dokter yang terlibat menangani Covid-19. Namun, menurut dia, setidaknya 23 tenaga medis terpapar Covid-19. Salah satu penyebabnya adalah alat pelindung diri (APD) yang terbatas.

Menurut data yang diterima PB IDI, kebanyakan paramedis yang terpapar berasal dari rumah sakit rujukan. ”Kami mendesak agar rumah sakit menyediakan APD,” tegasnya dalam wawancara dengan Jawapos.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Ari Fahrial Syam mengatakan, pandemi global Covid-19 merupakan pengalaman paling berat selama 30 tahun menjadi dokter. ’’Kita ketahui infeksi virus korona ini menular secara cepat dari satu orang ke orang lain,’’ tuturnya.

Tingginya tingkat penularan virus korona, kata dia, membuat petugas kesehatan rentan menjadi korban. Dia menekankan bahwa sarana dan prasarana dokter serta tenaga kesehatan lain harus tersedia supaya bisa melayani pasien dengan tenang.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi mengatakan, kekurangan APD merupakan hal yang tragis. Apalagi sampai menumbalkan tenaga medis. ”Tenaga kesehatan adalah garda depan dalam melayani pasien positif Covid-19.

Pelayanan pasien bisa lumpuh jika tenaga kesehatan bertumbangan karena terinfeksi virus dan akibatnya membuat kinerja tenaga kesehatan yang lain tidak optimal,” katanya. ”Ibarat suasana perang, nakes adalah tentara. Bagaimana akan menang jika tak dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap,” lanjut dia.

Menata Profesi Keperawatan

Pandemi virus corona (Covid-19) menjadikan profesi keperawatan dan tenaga medis lain memiliki peran yang sangat vital. Operasional rumah sakit darurat, penanganan pasien, hingga tes massal terkait Covid-19 membutuhkan penambahan tenaga kerja keperawatan yang banyak.

Celakanya tenaga kerja keperawatan hingga kini nasibnya masih banyak yang tidak menentu karena masih berstatus honorer. Padahal mereka sudah ada yang bekerja hingga bertahun-tahun.

Untuk itu pemerintah harus segera menata tenaga kerja keperawatan dengan cara segera mengangkat mereka menjadi pegawai tetap atau setidaknya mereka dijamin mendapatkan gaji yang layak.

Bahkan Komisi IX DPR RI telah meminta agar pemerintah memberikan prioritas perhatian atas jasa-jasa para perawat honorer, agar menjadi pertimbangan untuk pengangkatan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Tanaga kerja keperawatan dan tenaga medis lainnya hingga kini sudah berjuang hingga mengorbankan jiwanya.

Sudah beberapa perawat yang terpapar Covid-19 dan sudah ada yang meninggal. Itu akibat alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis di rumah sakit yang menangani pasien positif corona Covid-19 masih bermasalah. Tanpa APD yang memadai, tenaga medis sangat rentan terpapar virus corona. Pemerintah harus menjamin kebutuhan APD tetap terpenuhi bagi para tenaga medis.

Kasus meninggalnya perawat di salah satu RS akibat terpapar Covid-19 harusnya menjadi peringatan akan pentingnya ketersediaan APD dan perlindungan bagi para tenaga medis.

APD yang meliputi jubah hazmat (hazardous materials) lengkap dengan sarung tangan, masker, kacamata medis, dan penutup kaki cukup memberi ketenangan bagi perawat saat berinteraksi dengan pasien.

Organisasi pekerja perawat sudah berkali-kali mengungkapkan realitas terkait minimnya tenaga kesehatan dan kesejahteraan yang masih minim. Hal tersebut terlihat dari rasio perbandingan tenaga kesehatan per jumlah penduduk.

Jika dilihat dari rasio jumlah perawat di negeri ini masih belum memadai. Rasio jumlah perawat di Indonesia 44 perawat per 100.000 penduduk. Bandingkan dengan 135 perawat di Malaysia, 442 perawat di Filipina, atau 162 perawat di Thailand.

Perawat, sebagai SDM tenaga kesehatan memberikan kontribusi besar terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit dalam hal pelayanan langsung kepada pasien.

Pelayanan keperawatan Unit Pelayanan Intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat mendesak untuk dibenahi. Karena sejalan dengan terjadinya wabah Covid-19 serta perkembangan teknologi dibidang perawatan intensif. Oleh karena itu, demi efektivitas kerja dan  kebutuhan tenaga dan kompetensi perawat Unit Pelayanan Intensif perlu mendapat perhatian yang lebih lebih. (*)

kecelakaan kerja pekerja medis Masalah APD Pekerja Medis

Related Post

Leave a reply