Pekerja Harus Melek Teknologi Digital Agar Tak Digantikan Robot

95 views

Banyak pekerjaan bisa dilakukan oleh robot. Sistem otomatisasi ini jelas mengancam jutaan lapangan pekerjaan yang selama ini diisi manusia.

Robot Akan Ambil Alih 20 Juta Lapangan Pekerjaan di Tahun 2030

Reaktor.co.id, Jakarta Pekerja harus memiliki keterampilan (skills) berbasis teknologi atau melek teknologi agar tidak tergantikan oleh robot atau mesin.

Menurut laporan terbaru McKinsey & Company, akan ada banyak tugas-tugas dari suatu pekerjaan yang akan diotomatisasi.

Menurut President Director PT McKinsey Indonesia, Phillia Wibowo, ada beberapa skill penting yang harus dipelajari dan diterapkan para pekerja secepatnya, agar tidak digantikan oleh otomatisasi.

“Perdebatan publik mengenai otomatisasi di Indonesia sering kali terfokus pada risiko masa depan pekerjaan. Tetapi menurut penelitian kami, akan lebih banyak pekerjaan baru yang akan diciptakan dibandingkan yang hilang. Hal ini didorong oleh peningkatan pengeluaran konsumen dan infrastruktur,” ujarnya.

Phillia mengatakan, Indonesia harus mulai fokus menyiapkan transisi keterampilan agar tidak tergeser otomatisasi.

“Fokus untuk siapkan keterampilan untuk adopsi teknologi, dan khususnya, Indonesia akan perlu berfokus meningkatkan pendidikan dan pelatihan kejuruan untuk mengajarkan, memberikan, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja untuk era kerja yang baru,” lanjutnya dilansir CNBC Indonesia.

Keterampilan atau skill yang setidaknya harus dimiliki masyarakat kini adalah secara fisik bisa menjadi navigator dan mobilisasi yang mumpuni, secara sensor bisa bekerja dengan baik.

Dengan pergeseran yang tidak terhindarkan ke ekonomi digital, keterampilan baru akan dibutuhkan baik oleh pencari kerja yang baru pertama kali mencari kerja maupun pekerja yang mengalami perpindahan.

“Keterampilan teknologi jelas akan lebih diminati, tetapi akan ada juga peningkatan kebutuhan atas keterampilan sosial dan emosional, serta keterampilan kognitif yang lebih tinggi seperti kreativitas dan kemampuan untuk memecahkan masalah,” jelasnya.

Dikatakannya, pekerja masa depan juga harus dapat berpikir secara kritis. Kemampuan bahasa juga sangat penting.

McKinsey memperkirakan perdagangan online dapat secara langsung atau tidak langsung mendukung hingga 26 juta pekerjaan penuh waktu di Indonesia tahun 2022.

Selain itu, pertumbuhan perusahaan ojek online (ojol) akan memberikan peluang kerja kepada populasi yang belum bekerja atau menggangur di Indonesia .

Indonesia akan membutuhkan strategi mengadopsi otomasi dan kecerdasan buatan. Seluruh pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan, lembaga akademik, organisasi non-pemerintah, dan pemimpin bisnis, harus bersiap menghadapi perubahan substansial dalam tipe-tipe pekerjaan yang ada.

Ambil-Alih 15 Persen Pekerja

Isu robot menggantikan tenaga manusia sudah menjadi perbincangan para pakar. Pada pertemuan The 10th Indonesia Human Resource Summit (IHRS) 2018, Chairman IHRS 2018, Shauqi Gombang Aleyandra, mengakui ada beberapa sektor pekerjaan dalam industri yang tergantikan kecanggihan teknologi, khususnya robot.

Hanya saja, kata dia, dari hasil penelitian hingga satu dekade ke depan, paling banyak hanya sekitar 15 persen saja teknologi dapat menggantikan peran manusia.

“Berdasarkan hasil penelitian dari McKinsey Global Institute menyatakan hanya sekitar 5 persen dari total pekerjaan yang ada saat ini yang dapat diotomasikan secara penuh. Bahkan, hingga sepuluh tahun ke depan itu maksimal hanya 15 persen saja,” papar Aleyandra.

Dengan kata lain, Aleyandra melanjutkan, peran manusia sebagai tenaga kerja masih belum dapat tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Hanya saja, kemampuan manusia untuk dapat bekerja dan beradaptasi dengan teknologi merupakan hal yang tak bisa dielakkan.

“Tenaga kerja harus didorong untuk meraih puncak prestasinya seperti kreativitas, inovasi dan intuisi. Taknologi tidak dapat menggantikan kinerja manusia, tapi lebih mendorong manusia untuk lebih kreatif, inovatif dan intuitif,” ujarnya.

Ia mengakui belakangan ini, di tengah massifnya perkembangan teknologi yang semakin canggih muncul kekhawatiran teknologi akan menggantikan tenaga manusia dalam bekerja.

Peneliti dari The University of Houston pernah melakukan penelitian guna mengetahui seberapa besar sistem robotisasi mengancam keberlangsungan hidup jutaan manusia.

Mereka juga memberikan tips, bagaimana agar manusia bisa bertahan hidup dari terjangan para robot.

“Robot tidak bisa bersosialisasi sebaik manusia,” ujar Rodica Damian, pengajar mata kuliah Psikologi Sosial dan Personal, The University of Houston.

Ia memaparkan beberapa aspek yang harus diasah manusia agar tidak kalah bersaing dengan robot. Aspek-aspek itu antara lain ekstroversi (mementingkan hal-hal lahiriah), kreativitas, fleksibilitas, keingintahuan akan ilmu dan seni, tingkat pendidikan yang baik, kecerdasan, imajinasi, empati, dan kedewasaan.

“Manusia mengungguli mesin saat dihadapkan dengan pekerjaan yang membutuhkan krativitas, kompleksitas, dan fleksibilitas yang tinggi. Selain pekerjaan rutin, kita jauh lebih baik dari mereka (robot),” ujar Damian.

Ia menambahkan, pendidikan tinggi saja tidak cukup, manusia yang berkerja dengan usaha sendiri dan lebih mengedepankan inspirasi diprediksi lebih mampu bertahan dari gempuran tenaga kerja robot. Selain itu, menjadi pribadi yang unik, kreatif, dan orisinil akan membantu manusia.

Ketua Umum Asosiasi Cloud Computing Indonesia Alex Budiyanto mengatakan bos Alibaba Jack Ma pernah mengatakan robot bisa bekerja lebih cepat dibandingkan manusia.

Oleh karena itu, Alex mengatakan manusia saat ini harus dilatih agar bisa bekerja dengan robot bukan bekerja untuk bersaing dengan robot. Meskipun saat ini robot memang baru berperan untuk membantu manusia, masyarakat harus mulai ambil ancang-ancang agar tidak tergantikan oleh robot.

“Jack Ma pernah bilang kalau dari kecepatan prosessing, manusia kalah dari komputer. Sebaiknya kita ambil pendidikan atau lapangan usaha yang tidak perlu bersaing dengan komputer karena manusia akan kalah,” ujar Alex.

Alex mengatakan dari sisi industri pasti akan memperhitungkan opsi mana yang lebih efektif. Jika memakai robot memang lebih efektif, maka dapat dipastikan peran buruh bisa digantikan oleh robot.

Ia mengakui era Industri 4.0 tentu akan membawa mesin otonom yang akan menggantikan peran manusia khususnya buruh. Ia memastikan penggunaan mesin otonom akan lebih efisien dibandingkan harus menggunakan tenaga manusia.

“Perhitungan utama industri adalah efisiensi, lebih cost effective untuk bisa bersaing dengan kompetitornya. Itu pertimbangan bisnis yang tidak bisa dielakkan. Bagaimana semakin banyaknya hal otonom tentu saja akan membuat efisiensi yang ada dalam industri tersebut,” ujar Alex.

Kendati demikian, Alex menyebut robot tidak semata-mata akan menggantikan peran manusia. Dibutuhkan proses dari segi regulasi hingga teknologi agar robot bisa mulai diemplementasi.

Menjelang industri 4.0 yang sudah di depan mata, Alex mengatakan masyarakat harus sudah melek digital. (RL).*

 

Industri 4.0. Pekerja pekerjaan robot

Related Post

Leave a reply