Pekerja Garis Depan Transportasi Pemudik Lebaran

211 views

Kementerian Perhubungan menyatakan jumlah penumpang angkutan umum yang mudik ke kampung halaman pada 2019 mencapai 22,83 juta penumpang. Jumlah itu naik empat persen dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan survei Kemhub sebanyak 4,4 juta penumpang memilih moda transportasi bus. Pemudik yang menggunakan moda transportasi kereta api mencapai 2,4 juta orang. Sedangkan yang lewat jalur laut mencapai 1,9 Juta penumpang. Dan yang menggunakan pesawat tebang mencapai 1,4 juta penumpang. Sekedar catatan sekitar 4,3 juta pemudik menggunakan mobil pribadi, sedangkan yang menggunakan sepeda motor mencapai 940 ribu.

Arus mudik Hari Raya Idul Fitri 1440 hingga hari H terpantau lancar dan bebas kemacetan dan relatif tidak terjadi delay yang menyebabkan penumpukan pemudik. Kelancaran terlihat pada seluruh ruas tol trans Jawa. Salah satu faktor kelancaran transportasi pemudik lebaran adalah peran pekerja garis depan. Yakni para awak bus, masinis dan teknisi kereta api, Nahkoda dan ABK. Semuanya itu wajib bekerja ekstra pada saat libur nasional.

Para pekerja garis depan transportasi pemudik semestinya diberikan tunjangan lembur paling sedikit sesuai dengan peraturan. Yakni pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun pemilik usaha dapat menghitung insentif untuk pekerja/buruh yaitu upah kerja lembur yang dapat diberikan bagi pekerja/buruh yang harus melakukan lembur pada saat hari libur resmi pemerintah.

Menurut ketentuan dalam Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004, cara perhitungan upah lembur menurut Undang-Undang di hari libur mingguan dan hari libur nasional adalah dengan mengetahui terlebih dahulu upah bulanan dari pekerja/buruh yang bekerja di hari libur resmi.

Setelah itu, cara menghitung lembur upah sejamnya adalah 1/173 dikali dengan upah sebulan. Berikut rumus perhitungan lembur libur nasional dan hari libur mingguan.

Tidak banyak yang tahu bahwa para pekerja garis depan transportasi pemudik lebaran pada hari biasa sarat dengan masalah. Namun pada hari raya seperti ini perhatian pemerintah cukup besar. Sangat berbeda pada saat hari biasa dimana para pekerja garis depan ini bergelut sendiri dengan masalah laten tanpa solusi yang pasti. Seperti diceritakan oleh awak bus di terminal terpadu Pulo Gebang kepada Reaktor.co.id bahwa bermacam masalah itu terus lengket dan jika ada solusi sifatnya baru bersifat tambal sulam. Seperti contohnya masalah suku cadang komponen bus yang semakin mahal, tingginya tarif ruas jalan tol, dan kondisi jalan non tol yang semakin rusak.

Insentif Bus Lebaran dan Kondisi Jalan

Setiap lebaran ada kecenderungan jumlah pemudik yang menggunakan angkutan bus terus meningkat. Kenaikan itu akibat kurang memadainya perjalanan dengan kapal laut, terbatasnya jumlah tiket kereta api dan mahalnya tiket penerbangan.

Menurut survei Kementerian Perhubungan dengan sasaran rumah tangga di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya menunjukkan bahwa sebagian besar pemudik atau mudikers menggunakan bus. Hasil survei mencatat sekitar 40 persen menggunakan berbagai jenis bus, yakni eksekutif, ekonomi dan bus mudik gratis.

Jumlah pemudik pengguna bus pada tahun ini meningkat 6,5 persen dibandingkan tahun lalu. Sayangnya, kondisi bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKDP) kini sarat masalah. Kebanyakan kondisinya sudah berumur tua sehingga sangat mengkuatirkan. Bus yang umurnya sudah tua itu dipoles ala kadarnya untuk angkutan lebaran.

Selain itu operasional perusahaan bus juga masih diwarnai dengan pengendaraan agresif dari pengemudi. Hal ini bisa berakibat fatal karena pada tahun ini beberapa ruas jalan tol yang baru telah dibuka untuk kesempatan mudik. Para pengemudi belum mampu beradaptasi dan menjadi terlena dengan kemulusan jalan tol. Jalan tol merangsang pengendaraan agresif yang cenderung tancap gas tanpa menghiraukan bahaya yang mengintai.

Kecelakaan maut akibat pengendaraan agresif dalam tiga tahun terakhir jumlahnya cukup tinggi. Perlu mencegah karakter pengendaraan agresif yang merupakan prilaku ugal-ugalan yang merusak aspek keselamatan. Perilaku itu juga bisa disebabkan karena alkohol dan narkoba. 

Perlu uji kelayakan bus lebaran secara ketat termasuk saat arus balik. Fakta menunjukan kecelakaan angkutan bus juga disebabkan oleh terdegradasinya konstruksi jalan dan minimnya rambu-rambu lalu lintas. Ruas jalan raya dipinggir jurang banyak yang tidak memiliki rambu dan konstruksi pembatas yang layak.

Kini tingkat kerusakan jaringan jalan nasional semakin bertambah panjang tanpa bisa diatasi. Kondisi jalan raya non tol yang menjelang lebaran telah diperbaiki secara tambal sulam masih menyimpan potensi bahaya. Kerusakan jalan telah menjadi lingkaran setan yang sulit diatasi.

Pemerintah dituntut mengatasi kerawanan kecelakaan angkutan bus yang menjadi moda transportasi utama pemudik dan arus balik lebaran. Kerawanan angkutan bus disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait. Yakni kondisi usaha angkutan bus yang semakin sulit dan memburuknya kondisi infrastruktur jalan non-tol. Kondisinya semakin runyam karena kondisi operator angkutan bus antar kota dan antar provinsi tengah dihimpit dengan berbagai persoalan pelik. Seperti semakin mahalnya biaya perawatan dan suku cadang bus.

Perusahaan angkutan bus tidak berdaya melakukan peremajaan armada yang sudah tua. Karena pendapatan usahanya semakin tergerus oleh moda angkutan yang lain. Apalagi sistem transportasi antar kota dan antar provinsi juga semakin menyusahkan perusahaan angkutan bus. Hal itu terlihat dengan semakin sepinya terminal bus yang resmi akibat beralihnya penumpang ke angkutan travel yang dibolehkan beroperasi hingga ke tengah kota. Kementerian Perhubungan diharapkan memberikan insentif berupa public service obligation (PSO) kepada perusahaan bus melalui kredit perbankan tanpa bunga serta keringanan bea masuk impor suku cadang hingga impor kendaraan angkutan umum.

Selama ini berbagai cara ditempuh oleh perusahaan angkutan bus untuk menekan biaya operasional. Tetapi cara diatas cenderung mengurangi aspek kenyamanan dan keselamatan penumpang. Cara-cara teknis untuk menekan biaya operasional seperti misalnya penerapan sistem transmisi bus otomatis masih sulit dilakukan.

Seiring dengan perkembangan teknologi pada bus, aplikasi transmisi otomatis mulai berkembang. Pada transmisi otomatis putaran mesin diatur dengan perangkat yang disebut Transmission Control Module (TCM). Perangkat tersebut memungkinkan gigi transmisi berpindah dinamis mengikuti batas putaran mesin yang ditentukan. Dengan TCM karakter pengemudi juga bisa diketahui.  (R2)

 

 

lebaran mudik Pekerja transportasi

Related Post

Leave a reply