Pekerja Garis Depan Kereta Api

303 views

Beban kerja dan faktor keselamatan serta hak normatif pekerja garis depan perkeretaapian mesti dikelola sebaik mungkin.

Waktu malam hari merupakan jam biologis yang sangat berat bagi para pekerja perkeretaapian sehingga perlu tatakelola jam kerja (shift system) yang ada di atas rangkaian KA maupun yang ada di sekitar stasiun. Masalah pembagian shift terhadap masinis dan teknisi KA harus diatur secara tepat, jangan ada lagi kasus kelebihan beban kerja  yang bisa berakibat fatal.

Hal serupa diatas juga berlaku oleh petugas PPKA dan teknisi lapangan yang bertugas mengawasi kondisi rangkaian kereta yang berhenti di stasiun. Mestinya pihak manajemen PT KA memiliki sistem informasi dan komunikasi untuk SDM garis depan yang andal. Sehingga bisa memonitor kondisi dari waktu ke waktu secara detail.

Selama ini SDM garis depan perkeretaapian sering dijadikan kambing hitam jika terjadi kecelakaan tanpa melihat kompleksitas persoalan. Hal itu merupakan langkah konyol yang mestinya dihindari.  Tindakan tersebut justru akan menimbun akar persoalan yang esensial. Padahal jika kita kaji secara detail dan komprehensif, dibalik human factor tersebut sebetulnya tersimpan sederet kondisi mal-function atau ketidak beresan pada sistem komprehensif transportasi KA. Yang berpotensi menjadi penyebab kecelakaan.

Varian antara beban kerja karyawan garis depan seperti masinis dengan kondisi environment effect didalam kabin lokomotif merupakan faktor kontribusi yang serius dalam modus terjadinya kecelakaan. Masyarakat tidak banyak tahu, betapa seringnya masinisdan awak lokomotif terkena lemparan batu dari luar yang menyebabkan luka parah hingga ada yang sampai mengalami kebutaan.

Pihak manajemen juga harus sadar bahwa  teknologi lokomotif merek tertentu secara ergonomik bisa jadi bermasalah atau tidak cocok dengan kondisi rata-rata postur tubuh manusia di negeri ini. Sehingga perlu pengkondisian dan peralatan penunjang dan keselamatan kerja. Diantara kita tidak banyak yang tahu bagaimana kondisi aktual dari para masinis dan teknisi yang mengoperasikan KA setiap harinya.

Tidak boleh terjadi salah urus terhadap karyawan garis depan perkeretaapian. Dalam job deskripsinya seorang masinis didalam melaksanakan tugasnya tentu saja berada di dalam satu sistem kerja PT KAI. Dalam sistem kerja tersebut masinis dihadapkan kepada beberapa beban kerja yang terdiri dari beban kerja eksternal, internal dan faktor-faktor yang sangat berpengaruh kepada kedua beban tersebut secara keseluruhan.

         Segitiga beban kerja eksternal di PT KA, utamanya yang menyangkut profesi garis depan perlu direncanakan dengan baik sehingga betul-betul fit dengan kemampuan, kebolehan dan batasan fisik dan psikis manusia.

         Pentingnya kaidah ergonomik bagi SDM front liner perkeretaapian. Kaidah tersebut secara singkat dapat diartikan sebagai terapan praktis dari informasi faktor manusia yang meliputi kemampuan dan batasan-batasan fisik dan psikis manusia pada integrasi peralatan, mesin dan tatakelola beban kerja di perusahaan. 

Masalah Pintu Perlintasan KA

Pemerintah mesti membenahi pintu perlintasan KA yang berjumlah ribuan. Diantara jumlah tersebut sebagian tidak ada penjaga bahkan tanpa rambu-rambu yang memadai.

Hingga kini pintu perlintasan KA merupakan bahaya laten yang terus mengintai akivitas publik. Apalagi penambahan frekuensi perjalanan KA lebaran tentunya menyebabkan jadwal KA menjadi berubah dan bisa menyebabkan petugas pintu perlintasan KA menjadi lengah.

Penegakan hukum dan peraturan terkait dengan prasarana jalan KA hingga kini masih lemah. Banyaknya bangunan liar di sekitar pintu perlintasan KA dan sepanjang rel yang selama ini menyerobot tanah aset PT KAI seharusnya segera ditindak tegas. Karena hal itu sangat membahayakan perjalanan KA.

Pemerintah hafraus segera menutup pintu perlintasan liar yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu dinas perhubungan kota dan kepolisian harus selalu bertindak tegas terhadap angkot dan aktivitas yang selama ini menyebabkan bottleneck effect atau penyempitan aliran lalu lintas di sekitar pintu perlintasan KA.

Kondisi bottleneck di pintu perlintasan KA selama ini ini telah mendegradasi sistem palang pintu dan sangat menggangu kinerja petugas pintu perlintasan. Palang pintu yang terganggu fungsinya membuat beberapa kendaraan dengan mudah menerobos. Inilah akar persoalan dan salah satu penyebab utama bahaya laten perlintasan sebidang yang membuat kemacetan parah dan kecelakaan fatal.

Perlintasan sebidang yang menempatkan jalur KA dan jalur jalan raya dalam satu sisi harus segera dibenahi agar tidak memakan korban yang lebih banyak. Pembenahan tersebut untuk di daerah-daerah cukup dengan tindakan tegas bagi pihak-pihak yang mengganggu prasarana dan aset tanah PT KAI dan memperbaiki sinyal dan mekanisme pintu palang. Sedangkan untuk jalan raya yang sangat padat, sebaiknya segera diatasi dengan membangun jalan underpass, jembatan layang, atau pun membuat jalur kereta api layang.

Kementerian Perhubungan, dalam hal ini Ditjen Perkeretaapian beserta pemerintah daerah dan pihak PT KAI masih belum optimal dalam menangani infrastruktur sepanjang rel KA.

Selama ini tugas dan kewenangan penanganan penjagaan pintu perlintasan masih tumpang tindih dan terkesan pihak terkait saling menghindar. Disatu sisi PT KAI adalah badan usaha yang menyelenggaraan sarana KA sehingga sangat berat jika harus menangani pengaturan seluruh pintu perlintasan KA sepanjang rel. Sementara, pemerintah sendiri belum membentuk badan usaha prasarana KA yang seharusnya juga termasuk menangani penjagaan perlintasan KA Tersebut.

Perlu memperjelas siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap pintu perlintasan. Sudah barang tentu pihak Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan RI harus segera menuntaskan masalah tersebut. Hal itu sesuai dengan Undang-undang RI Nomor.23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Dimana Ditjen Perkeretaapian mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang perkeretaapian. Serta merumuskan  kebijakan dibidang lalu lintas dan angkutan KA, teknik prasarana, keselamatan dan teknik sarana KA.

Data menunjukkan bahwa selama ini sebanyak 60 persen peristiwa kecelakaan KA terjadi di pintu perlintasan termasuk perlintasan liar yang saat ini banyak berada dikawasan perumahan. Harusnya ada keterpaduan antara pembenahan prasarana yang dimiliki pemerintah/Kemhub yang mencakup jalan rel, jembatan, terowongan, sinyal, fasilitas telekomunikasi serta elektrikal dan hak atas jalan selebar 11 meter dari rel, dengan prasarana yang dikelola langsung pihak PT KAI yang mencakup stasiun, emplasemen, garasi dan bengkel. Hingga kini infrastruktur pintu perlintasan KA menjadi irisan tanggung jawab yang sering terabaikan oleh kedua pihak diatas.

Pemerintah belum tegas dalam menegakkan hukum dan peraturan terkait dengan prasarana jalan KA. Terlalu banyak aset perkeretaapian nasional yang diserobot oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.  Hal itu terlihat dengan semakin banyaknya bangunan liar di sekitar pintu perlintasan KA, diarea stasiun maupun di sepanjang rel.

Bangunan liar berupa tempat usaha dan permukiman semakin menghimpit rel KA. Hal tersebut sangat membahayakan perjalanan KA. Selama ini para pemukim liar sering melempari KA sehingga banyak menghancurkan jendela dan sering melukai penumpang dan awak KA. Masinis dan teknisi adalah pihak yang paling rentan tertimpa bahaya dan gangguan dari permukiman liar disekitar rel.  (R2)

kereta api masinis Pekerja

Related Post

Leave a reply