Pangan Terbuang, Perlu Gerakan Konsumsi Beretika

41 views

Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) pada 16 Oktober masih diwarnai dengan kondisi banyaknya pangan yang terbuang percuma. Hal itu merupakan paradoks ketika masih banyak warga dunia yang kekurangan pangan bahkan kelaparan.

Reaktor.co.id- Peringatan HPS kali ini menjadi momentum untuk memberikan edukasi terkait kesadaran dan etika kepada masyarakat agar tidak membuang bahan pangan maupun makanan.

Penelitian yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit tahun lalu menunjukkan bahwa Indonesia ternyata negara yang memproduksi sampah bahan pangan dan makanan terbesar kedua di dunia.
Sebagai warga negara, tentu saja kita punya tanggung jawab untuk mengubahnya. Apalagi angka gizi buruk dan stunting di Indonesia juga masih cukup banyak.

Ada yang beranggapan, wajar saja jumlah sampahnya besar karena populasi Indonesia juga besar. Tapi pemikiran tersebut sepertinya tak sepenuhnya benar jika melihat siapa yang berada di peringkat pertama, yakni Arab Saudi.

Punya populasi yang lebih sedikit dari Indonesia, negeri kaya minyak ini bertengger di posisi pertama dengan rata-rata warganya membuang 427 kg makanan tiap tahunnya. Mungkin saja gaya hidup dan rendahnya kesadaran untuk tidak menyisakan makanan, justru jadi faktor paling berpengaruh.

Gerakan Atasi Pangan Terbuang

Perlu gerakan budaya untuk mengatasi bahan pangan dan makanan siap saji yang terbuang. Di restoran, pusat perbelanjaan, dan diperumahan setiap jamnya telah terjadi pembuangan makanan. Begitu juga dengan di sentra-sentra produksi pangan juga masih banyak yang terbuang akibat salah urus dan ketimpangan teknologi.

Di sejumlah tempat banyak mulut yang kesulitan mendapatkan makanan. Disisi lain, bahan pangan begitu melimpah hingga terbuang sia-sia. Sudah saatnya semua pihak mengurangi limbah makanan dan berhenti makan berlebihan.

Ada baiknya warga dunia memperhatikan seruan FAO yang menyatakan dari sudut konsumsi, semua pihak perlu mengurangi limbah makanan yang mencapai 1,3 miliar metrik ton (1.433 miliar ton) per tahun. Ini setara dengan sekitar sepertiga produksi pangan untuk konsumsi warga dunia.

Selain itu pola konsumsi jenis bahan pangan di Indonesia juga masih timpang, masyarakat hanya mengkonsumsi sekitar 36,4 % produk bahan pangan yang dihasilkan daerahnya sendiri, terutama produk sayuran dan umbi-umbian lokal.

Mestinya pada saat hari besar keagamaan dan tahun baru seperti ini merupakan momentum untuk melakukan lokalisasi bahan pangan atau bisa disebut sebagai pangan tradisional. Celakanya, saat seperti ini selalu diwarnai dengan serbuan berbagai macam pangan impor.

Pentingnya solusi teknologi dan rekayasa kebudayaan menghadapi bahan pangan yang terbuang. Jumlah makanan yang terbuang ini diperkirakan mencapai 50 % dari seluruh makanan yang diproduksi di dunia. Makanan ini tidak pernah masuk dalam perut manusia akibat berbagai macam masalah, seperti masalah infrastruktur dan fasilitas penyimpanan hingga masalah penjualan.

Regulasi perdagangan justru melahirkan paradoks yang menyedihkan, dimana hanya gara-gara prosedur dan standarisasi, sejumlah besar bahan pangan menumpuk dipelabuhan dan membusuk. Betapa besarnya bahan pangan yang gagal untuk dimakan gara-gara peraturan. Selain itu masih banyak kasus pembuangan sayuran hanya karena gagal memenuhi standar tampilan fisik.

Data menunjukkan bahwa jumlah makanan yang terbuang di negara berkembang termasuk di Indonesia volumenya cenderung meningkat. Sebagian besar makanan tersebut terbuang pada tahap konsumsi dan banyak yang masih dalam kondisi layak dikonsumsi. Jumlah pangan terbuang oleh konsumen mencapai hingga 115 kg per kapita per tahun.

Selain itu jumlah pangan terbuang di negara berkembang lebih banyak terjadi dalam pascapanen dan rantai distribusi. Kehilangan pangan pada level ini lebih banyak terjadi karena rendahnya pengetahuan dan pengembangan, implementasi teknologi pascapanen, dan sistem logistiknya.

Kini merupakan saat yang tepat untuk melakukan gerakan budaya atasi pangan terbuang. Bentuk gerakan itu antara lain sosialisasi sikap konsumsi yang beretika terhadap konsumen. Konsumsi yang tak terencana, baik jumlah maupun kualitas, harus dihilangkan untuk mengurangi pangan terbuang percuma. Sikap ini menjadi solusi untuk menekan pemborosan pangan dan meningkatkan penghargaan pada produsen pangan.

Inovasi Sosial Solusi Food Waste

Garda Pangan adalah startup bidang sosial yang ingin menyelesaikan permasalahan ‘food waste’ di wilayah Surabaya. Solusi yang dihadirkan memanfaatkan teknologi untuk dapat terhubung dengan industri terkait seperti perhotelan, restoran dan sebagainya yang acap kali memiliki sisa makanan berlebih.

Visi utama Garda Pangan ialah menghadirkan “sustainable and responsible food waste management”.

Founder Garda Pangan Eva Bachtiar menuturkan, Indonesia merupakan negara pembuang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Rata-rata tiap orang bisa membuang 300kg makanan per tahunnya.

Dalam melakukan operasionalnya, Garda Pangan memanfaatkan situs sebagai one-stop service. Terdapat beberapa fitur di website, di antaranya permintaan penjemputan makanan, rekomendasi penerima, pendaftaran mitra hingga laporan lokasi distribusi. Untuk memaksimalkan proses bisnis, saat ini pihaknya tengah mengembangkan aplikasi mobile untuk para penjemput makanan.

Mulai beroperasi sejak Juni 2017, Garda Pangan telah berhasil bekerja sama berbagai restoran, tenant makanan, wedding organizer, distributor buah, bakery, dan pasar organik di wilayah Surabaya. Hingga kini Garda Pangan telah mengumpulkan 52.685 porsi makanan setara menyelamatkan 7,9 ton potensi sampah terbuang. Mereka juga telah berhasil menyalurkan kepada 43.590 penerima.

Ada tiga dampak dari food waste yang disoroti oleh Garda Pangan. Pertama dampak ekonomi, karena membuang sampah makanan berarti menyia-nyiakan sumber daya yang dibutuhkan untuk membuat makan tersebut.

Dampak kedua adalah dampak lingkungan, hal ini tidak terlepas dari sampah makanan yang tertumpuk di tempat pembuangan akhir mengeluarkan gas metana yang merupakan salah satu gas penyumbang emisi rumah kaca.
Dan dampak berikutnya adalah sosial, karena akan menjadi sebuah ironi jika ada yang membuang makanan tapi di sisi lain masih ada yang kelaparan.

Berangkat dari itu semua pada akhirnya Garda ingin meminimalkan sampah makanan dan mengentaskan kelaparan melalui teknologi yang kembangkan. Garda Pangan menawarkan solusi yang disebut dengan “food rescue”, berusaha menyelamatkan makanan dari potensi terbuang.

“Makanan yang layak akan dikemas ulang, lalu dibagikan secara bermartabat kepada masyarakat pra-sejahtera yang membutuhkan, sementara makanan yang sudah tidak layak akan diolah menjadi pakan ternak dan kompos,” jelas Eva.

“Tahun 2019 Garda Pangan berencana untuk mengembangkan bisnis dengan menarik sebanyak-banyaknya klien baru dari industri hospitality dan industri makanan. Pendekatan inovatif yang ditawarkan Garda Pangan merupakan hal yang sangat baru, sehingga membutuhkan kanal-kanal promosi yang gencar untuk meningkatkan exposure dan minat dari industri tersebut untuk mulai beralih kepada pengelolaan sampah makanan yang lebih bertanggung jawab,” papar Eva.

Ia lebih jauh menjelaskan bahwa saat ini Garda Pangan terus berupaya untuk bisa melakukan advokasi kepada pemerintah kota Surabaya untuk ikut peduli dengan isu food waste. Eva dan tim Garda Pangan percaya bahwa keterlibatan pemerintah akan bisa mendorong iklim yang lebih kondusif bagi para bisnis akanan untuk ikut bergabung dalam gerakan ini.

Solusi dari Garda Pangan sangat mungkin bisa diterapkan di kota-kota besar lainnya di luar Surabaya. Hanya saja saat ini Eva dan tim tidak ingin terburu-buru melakukan ekspansi, meski ada mimpi untuk membawa manfaat Garda Pangan lebih luas lagi.(TS/Garda Pangan).*

etika konsumsi pangan FAO pangan terbuang

Related Post

Leave a reply