Nova Riyanti Yusuf, Diantara Che Guevara dan Kesehatan Jiwa

253 views

“Jodoh yang hilang… saya yakin, saya cocok dengan laki-laki seperti Che Guevara. Kami dipertemukan oleh angin dan air di sebuah rumah sakit jiwa di Havana, Cuba.”

Itulah sepenggal status lini masa media sosial milik Nova Riyanti Yusuf (Noriyu).

Berpose dengan latar Che Guevara di Kuba (foto Noriyu)

Reaktor.co.id – Anggota Komisi IX DPR RI pengagum Che Guevara ini baru saja melakukan perjalanan ke Kuba. Boleh dikata sebagai perjalanan mengasah profesinya, sekaligus berwisata “ideologi”.

Di sana pakar kesehatan jiwa itu berdialektika, berkontemplasi bahkan melakukan dialog imajiner secara jernih dengan empunya bintang besar revolusi karena langsung mendatangi TKP (tempat kejadian peristiwa).Antara lain di Hotel Nacional de Cuba.

Menurut Noriyu, hotel ini sangat historis karena sejarah panjang yang sangat berwarna. Tetapi baginya, ada dua penulis eksistensial favoritnya yang dia “sambangi” di Havana, yakni Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir.
“Dan yang terpenting, mereka menemui “my saudade”, Che Commandante. Saya kutip bahwa Sartre menggambarkan Che Guevara “the most complete human being of our age.” Even now, Sartre. Even now. My love, Che Commandante,” tutur Noriyu.

Mengunjungi Museum Ernest Hemingway (foto Noriyu)

Sebagai kolomnis media dan novelis ternama, Noriyu tetap bersemangat untuk menambah jumlah karyanya. Untuk menambang imajinasi dia sering berkunjung ke museum di luar negeri. Tahun lalu dia sempat mengunjungi Museum Kahlil Gibran di Lebanon.

Dan tahun ini dia mengunjungi Museum Ernest Hemingway di kuba. “Saya mengharapkan banyak hal tetapi tidak pernah berpikir seorang penulis akan membangun menara tinggi langit hanya untuk menulis di dalamnya.” tutur Noriyu saat mengunjungi museum itu.

Pulang dari Kuba merasa sangat puas. Mendapat tawaran kerjasama kedokteran untuk dosen dan mahasiswa, mendapatkan banyak transfer pengetahuan dari pakar rehabilitasi psikiatrik dan sosial yang juga siap bekerjasama mengembangkan upaya rehabilitasi kesehatan jiwa di Indonesia.

Noriyu mendapat pencerahan di negara sosialis itu. Dia melihat langsung bahwa pelayanan kesehatan gratis tetap dapat dibarengi dengan kemajuan teknologi. Memahami bahwa Universal Health Coverage kalau tidak di negara sosialis komunis akan mengorbankan pihak-pihak tertentu sebagai martir.

Seperti halnya JKN di Indonesia yang menjadikan tenaga kesehatan dan medis sebagai martir. Sekolah mahal jungkir balik orangtuanya membiayai, terakhir dikuras tenaganya dan sering dituduh tidak mau melayani. Tidak seperti di Cuba pendidikan GRATIS untuk sukseskan pelayanan kesehatan gratis.

“Untung saja tidak ada atau belum ada dokter muda berjiwa revolusioner seperti Che Guevara,” gurau Noriyu. Tapi dia yakin, tidak perlu sampai ke sana, pemerintahan Pak Jokowi – KMA dapat hadirkan sebuah terobosan kemanusiaan jika Menkes dan Menristek Dikti berikut berempati untuk memahami ketidakadilan ini.

Berpose di sudut Kota Havana (foto Noriyu)

Menurut Noriyu, pemerintah mendatang sebaiknya memperbanyak beasiswa atau murahkan pendidikan kedokteran.

“Bisa sekali kalau anggaran jangan dialokasikan untuk misalnya salah satunya jangan manjakan kelompok tertentu. Kurikulum yang sejak awal tahun ke-2 sudah terjun langsung ke dalam komunitas seperti di Kuba disertai dengan cara agar tidak lagi ribuan calon dokter tidak lulus karena UKDI mengingat banyak sekali kebutuhan dokter secara nasional. Tahun 2012 saya pernah menerima audiensi di Komisi IX DPR bahwa hampir 3000 saat itu yang tidak lulus UKDI berkali-kali,” tutur Noriyu.

Pelopor dan Perancang UU Kesehatan Jiwa

Sejarah mencatat pada saat menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 Nova Riyanti Yusuf merupakan pelopor dan perancang Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Promosi Doktor di Fakesma UI Depok (foto Noriyu)

Noriyu baru saja berhasil meraih gelar Doktor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, lewat sidang promosi doktor pada 11 Juli 2019.

Penelitiannya berjudul “Deteksi Dini Faktor Risiko Ide Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/Sederajat di DKI Jakarta”, dilakukan pada 2018 dan melibatkan 910 pelajar SMAN terakreditasi A.

“Tidak cukup hanya memenuhi persyaratan ilmiah dengan memuat bagian dari disertasi ke dalam jurnal ilmiah berindeks SCOPUS, tetapi perlu membahas hasil penelitian disertasi dengan awak media agar terbangun awareness suicide prevention remaja”, tutur Noriyu dalam laman medsosnya.

Menurut Noriyu dibutuhkan peran serta masyarakat untuk menanganai penderita gangguan jiwa. Masalah gangguan kejiwaan semakin banyak. Dia bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta yang saat itu Sandiaga Uno menyatakan hasil penelitian bahwa sekitar 20 persen warga Jakarta mengalami gangguan jiwa. Sehingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengantisipasi dan terus sosialisasi terkait hal itu.

Agar langkah bisa efektif didirikan lembaga berupa pusat kajian masalah kejiwaan, Jakarta Institute for Mental Health. Lembaga tersebut dikelola oleh dokter ahli jiwa dan mengedepankan aspek komunikasi dalam kiprahnya. Lembaga itu dipimpin oleh Noriyu sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa DKI Jakarta.

Kini Noriyu prihatin tekait dengan minimnya penelitian tentang kesehatan jiwa serta terjadinya stagnansi rancangan peraturan pemerintan (RPP) turunan UU Kesehatan Jiwa.

Ruang kerja sebagai anggota DPR (foto Noriyu)

Sebagai anggota parlemen dia ditempatkan di komisi yang “basah” yakni Komisi IX DPR RI. Komisi yang membidangi masalah ketenagakerjaan dan kesehatan yang selalu basah terkena air mata para pekerja yang tertimpa masalah dan basah dengan air mata pasien miskin yang kesulitan berobat di rumah sakit.

Noriyu yang kiprah, penampilan dan pemikirannya sangat milenial, dinilai banyak pihak layak menjabat sebagai Menteri Kesehatan kabinet Jokowi-KMA mendatang. Dia klop dengan rumusan Jokowi yang menginginkan kabinet akan banyak diisi oleh sosok milenial. Apalagi kabinet itu akan menitik beratkan pembangunan sumber daya mansuia (SDM) yang unggul, berdaya saing global serta sehat jasmani maupun sehat jiwa.

Soal blusukan, jangan ditanya lagi, Noriyu tak gentar blusukan kemanapun. Hingga Himalaya pernah dia lakoni. Blusukan adalah hobinya, termasuk blusukan sebagai Komisi IX saat kunjungan kerja spesifik ke Banten terkait pemenuhan hak THR para pekerja.

Dia menemukan ada 15 ribu lebih perusahaan di Banten, dimana hanya seribu saja yang tergabung dalam Apindo. Berbagai masalah THR dari mulai tanggal pemberian yang terlambat, jumlah tidak sesuai, dicicil, dan lain sebagainya.

Masih ada pekerjaaan rumah Noriyu yang terkait dengan bermacam masalah kesehatan jiwa para pekerja Indonesia agar lebih sejahtera dan produkltif. Blusukan Noriyu ke pabrik-pabrik sangat ditunggu para pekerja. (Totoksis).*

Che Guevara Nova Riyanti Yusuf

Related Post

Leave a reply