Musim Hujan, BMKG Ingatkan Bencana Hidrometeorologi

16 views

Bencana Hidrometeorologi

Reaktor.co.id, Jakarta — Indonesia sedang mengalami musim pancaroba atau peralihan dari kemarau ke musim hujan. Saat musim hujan, masyarakat diingatkan tentang bencana hidrometeorologi.

Dilansir laman Konservasi DAS UGM, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter (curah hujan, kelembaban, temperatur, angin) meteorologi, seperti banjir, badai, El Nino, La Nina, longsor, tornado, angin puyuh, topan, angin puting beliung, gelombang, dan sejenisnya.

Bencana tersebut dimasukan kedalam bencana meteorologi karena disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi.

Perubahan cuaca hanya pemicu saja, penyebab utamanya adalah kerusakan lingkungan yang masif akibat penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan frekuensi dan intensitas bencana di Indonesia terus meningkat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan sejumlah unsur lintas sektor perlu memperkuat sinergi dalam penguatan risiko gempa bumi dan bencana alam lain akibat cuaca dan iklim (hiddrometeorologi).

“BMKG bersama BNPB, pemerintah daerah serta kementerian/lembaga terkait perlu mempersiapkan langkah-langkah konkret,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam siaran persnya, Selasa (5/11/2019).

Dia mengatakan, sinergi lintas sektor itu agar meningkatkan koordinasi dalam pencegahan ataupun pengurangan risiko akibat kejadian bencana alam. Hal itu mendorong BMKG untuk segera menginisiasi pertemuan koordinasi tersebut.

Rita mengatakan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki awal musim hujan. Puncak musim hujan diprakirakan terjadi bulan Januari-Februari 2020.

Untuk itu, dia mengatakan perlu segera ditingkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD setempat untuk membangun kewaspadaan semua pihak dan masyarakat serta melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan terhadap bencana alam hidrometeorologi.

Peringatan akan bencana hidrometeorologi juga dikemuakan BMKG Kelas 1 Bandung.  Menurut Kepala Stasiun Geofisika BMKG Kelas 1 Bandung, Tony Agus Wijaya, awal November sudah musim hujan di Jawa Barat.

Di seperti warga di sejumlah wilayah lain di Indonesia, warga di kawasan Jawa Barat juga diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

Tony mengingatkan pemerintah, melalui BPBD daerah, agar mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi.

“Perlu kesiapsiagaan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, banjir bandang dan gerakan tanah (longsor) terutama pada saat awal awal memasuki musim hujan dan pada puncak musim hujan,” katanya.

BMKG Wilayah V Jayapura juga mengeluarkan peringatan serupa. Sejumlah daerah di Papua perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi, seperti angin kencang disertai hujan lebat, dan gelombang tinggi.

Kepala Balai Besar BMKG Wilayah V Jayapura, Petrus Demon Sili mengatakan, bencana ini diakibatkan parameter curah hujan, kelembaban udara dan temperatur daerah.

Sejumlah daerah yang terbilang rawan, di antaranya Kabupaten dan Kota Jayapura. Namun, yang paling berpotensi berada di Mamberamo Raya, karena wilayah tersebut berada di dataran bawah bagian tengah Pegunungan Papua.

“Kadang Mamberamo Raya tidak hujan tetapi mendapat kiriman banjir dari arah bagian tengah Papua,” katanya.

Di Sleman, Yogyakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama potensi bencana hidrometeorologi pada musim pancaroba hingga musim hujan tahun ini.

“Bila belajar dari pengalaman yang lalu, hampir seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Sleman diterjang angin kencang hingga mengakibatkan banyak pohon tumbang dan bangunan rusak,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan di Sleman.

“Kemungkinan pada musim pancaroba ini akan menimbulkan angin kencang hingga puting beliung sehingga diperlukan berbagai langkah antisipasi,” katanya.

Makwan mengatakan, selain pohon tumbang, yang harus diwaspadai adalah keberadaan konstruksi baliho dengan ukuran besar.

“Jika konstruksi baliho tidak kuat dikhawatirkan akan roboh saat ada angin kencang. Jadi kami imbau agar pengendara hati-hati saat melintas di jalan yang banyak pohon dan baliho,” katanya.

Kepala Kelompok Analisis dan Prakiraan Cuaca Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geologi (BMKG) Yogyakarta Sigit Hadi Prakosa menjelaskan bahwa dalam beberapa hari ke depan diprediksi masih berpotensi terjadi hujan disertai angin kencang.

“Cuaca ekstrem masih akan terjadi selama puncak musim hujan. Kami prediksi sampai April 2020 potensi itu masih ada,” katanya.

Ia mengatakan, saat awal pancaroba wilayah Sleman bagian utara yakni Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Sleman dan Ngaglik berpotensi tinggi terjadi angin kencang. (antara/tempo/liputan6).*

 

Banjir Bencana Alam Bencana Hidrometeorologi bmkg Longsor

Related Post

Leave a reply