MUI Setuju Pejabat Muslim Tak Gunakan Salam Lintas Agama

114 views

MUI Jatim Imbau Pejabat Muskim Tak Gunakan Salam Pembuka Semua Agama. MUI Pusat Setuju. Dalam Islam, salam adalah  dan doa merupakan ibadah. Tak baik mencampuradukkan ibadah satu dengan yang lain.

Salam Islam Assalamualaikum

Salam Islam Assalamualaikum

Reaktor.co.id, Surabaya — Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur (MUI Jatim) mengimbau para pejabat yang beragama Islam (muslim) tidak memakai salam pembuka semua agama (lintas agama) saat sambutan resmi.

Dijelaskan, mengucapkan salam semua agama merupakan bid’ah, mengandung nilai syubhat, dan patut dihindari umat Islam.

“Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bidah, yang tidak pernah ada di masa lalu. Minimal mengandung nilai syubhat, yang patut dihindari,” jelas MUI dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori alias Kiai Somad.

Menurut Kiai Somad, imbauan tersebut merupakan salah satu hasil dari Rakernas MUI di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Kiai Somad, dalam Islam, salam diartikan sebagai doa. Sedangkan doa merupakan ibadah. Untuk itu, tak baik jika mencampuradukkan ibadah satu dengan yang lain.

“Jadi begini, kami menandatangani atau membuat seruan itu karena doa itu adalah ibadah, misalnya saya terangkan salam, Assalamu’alaikum itu doa, salam itu termasuk doa dan doa itu ibadah,” katanya dikutip detik.com.

“Sehingga kalau saya menyebut Assalamualaikum itu doa semoga Allah SWT memberi keselamatan kepada kamu sekalian dan itu salam umat Islam. Jadi ketika umat Muslim bertemu itu diawali dengan itu, semoga mendapat keselamatan yang diberikan oleh Allah,” jelasnya.

Kiai Somad juga menjelaskan, salam agama lain juga memiliki arti untuk mendoakan sesama umat. Namun, dia menyebut doa ini tak pantas jika dibacakan oleh orang agama lain.

“Nah agama lain juga punya, misalnya Hindu kayak apa, agama Kristen kayak apa, agama Buddha seperti apa. Agama lain kelompok aliran juga seperti apa. Misalnya pejabat, seorang gubernur, seorang presiden, wakil presiden, para menteri, kalau dia agamanya muslim ya assalamualaikum. Tapi mungkin kalau Gubernur Bali ya dia pakai salam Hindu. Karena salam itu adalah doa dan doa itu ibadah, ini menyangkut Tuhan dan agamanya masing-masing,” pungkasnya.

MUI Pusat Setuju

MUI Pusat menyatakan, imbauan agar masyarakat dan pejabat muslim tidak mengucapkan salam pembuka semua agama sesuai dengan ketentuan Al Quran dan hadis.

Fatwa itu juga dinilai tidak mengandung intoleransi. Alasannya, setiap agama memiliki ajaran dan sistem kepercayaannya masing-masing.

“Kita tidak boleh memaksakan kepercayaan dan keyakinan suatu agama serta cara beribadah dan mengucapkan salam yg ada dalam suatu agama kepada pengikut agama lain,” kata Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Anwar Abbas, dikutip tempo.co.

Fatwa yang ditetapkan MUI Jatim, kata Anwar, bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan umat agama lain, tanpa melanggar aturan dalam agamanya sendiri.

Ia yakin, MUI hanya berupaya agar umat Islam bisa beribadah lebih tertuntun, bukan untuk maksud intoleransi.

Makna Salam Islam

Salam Islam yakni ucapan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhuh (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) artinya “Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahan-Nya terlimpah untukmu” atau “semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu.”

Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang dapat merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Untuk yang mengucapkan salam, hukumnya adalah Sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya.*

 

Assalamualaikum MUI Jatim Salam Islam

Related Post

Leave a reply